Pada sekitar tahun 717 Masehi Bashrah seperti bergetar. Seorang bayi perempuan lahir membawa cahaya cinta dan kedamaian. Dialah Rabi’ah al-Adawiyah. Kelak di kalangan para tokoh sufi Rabi’ah dikenal sebagai The Mother of The Grand Master. Ajaran Mahabbah-nya sangat populer dan sampai saat ini banyak dari kalangan sarjana muslim maupun non-muslim yang mengkaji ajaran-ajarannya.
Rabi’ah adalah tokoh sufi yang mengajarkan pentingnya totalitas cinta (mahabbah). Hanya dengan cinta manusia bisa berjumpa secara mesra dengan Tuhannya. Orang yang sudah dibelenggu dengan kemesraanNya, kata Risty Bulqies Hamdani, akan diberi hak memiliki jalan ruhani untuk menemukan babussalam, yaitu sebuah pintu untuk sampai di alam musyahadah (alam persaksian) . Perjumpaan dengan Kekasih, sebagaimana ditempuh oleh Rabi’ah dan para sufi agung lainnya, dilakukan dengan cara mendatangi atau menghadirkanNya .
Lebih lanjut Rabi’ah menegaskan tentang pentingnya seluruh aktivitas ibadah manusia dibaluti oleh rasa cinta, bukan mengharap imbalan (surga). Karena itu, dalam salah satu penggalan doanya yang cukup populer, Rabi’ah berucap dengan jantan:
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku
Rasa cinta Rabi’ah kepada Tuhan sungguh sangat total. Ia “tak memedulikan” lagi (imbalan) surga dan (siksaan) neraka. Baginya, cinta kepada Tuhan adalah segala-galanya. Tidak ada sisa sedikit pun dari cintanya kecuali kepada Allah seluruhnya. Dalam konteks inilah Sufyan Tsauri pernah menyaksikan kejantanan seorang Rabi’ah dalam menolak cinta seorang pangeran kaya raya demi cintanya kepada Tuhan yang tak tergantikan . Itulah sebabnya, suatu ketika Sufyan Tsauri bertanya pada Rabiah: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah menjawab, “Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?”, kata Sufyan Tsauri. “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”
Itulah sekelumit kisah bagaimana Rabi’ah mampu mengobarkan api cinta kepada Allah sepanjang hidupnya. Beberapa kali ia menolak lamaran seorang laki-laki. “Penolakan terhadap dunia ini adalah perdamaian,” kata Rabi’ah menanggapi lamaran seorang gubernur, “sedangkan nafsu terhadapnya akan membawa kesengsaraan. Kendalikan nafsumu dan jangan biarkan orang lain mengendalikan dirimu. Bagimu, pikirkanlah hari kematianmu; sedang bagiku, Allah dapat memberiku semua apa yang telah engkau tawarkan itu dan bahkan berlipat ganda. Aku tidak suka dijauhkan dari Allah walaupun hanya sesaat. Karenanya, selamat tinggal.”
Konsep mahabbah yang menjadi intisari dari ajarannya menjadi inspirasi para kaum sufi sesudahnya. Dalam kaitannya dengan konsep mahabbah, al-Ghazali mengatakan bahwa setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla).
Kisah hidup Rabi’ah adalah kisah hidup yang sangat menakjubkan. Ia hidup penuh dengan prinsip. Segala bentuk aktivitas hidupnya adalah manifestasi kecintaan yang tulus kepada Allah. Baginya tiada cinta sejati kecuali kepada Allah Sang Kekasih.
Dalam tadzkih al-awliya’, Fariduddin Attar menulis tentang Rabi’ah: “Sang zahid mulia yang tinggal di balik biara orang-orang pilihan Tuhan, seorang wanita suci di bawah hijab ketulusan, terbakar api cinta, tenggelam dalam kerinduan, tersulut oleh gairah kedekatan kepada Allah, utusan kesucian Maryam, diakui semua orang – adalah Rabi’ah al-Adawiyah – semoga Allah merahmatinya”
Sejak kecil Rabi’ah sudah memperlihatkan tanda-tanda seorang hamba yang kelak sanggup mempertaruhkan cita-cita atau harapan-harapan duniawi demi cintanya yang besar kepada Allah. Maka tidak heran jika Rabi’ah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang zuhud yang tidak diperbudak oleh dunia. Kepada Allah semata ia menggantungkan segala harapan.
Pernah suatu ketika sahabatnya Malik bin Dinar menjumpai Rabi’ah sedang terbaring sakit di atas kasur tua yang sangat lusuh. Kepalanya berbantalkan batu bata. Melihat kondisi Rabi’ah yang sangat kritis itu, Malik bin Dinar berniat membantu, “Aku memiliki teman-teman yang kaya,” katanya, “jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Dengan tegas Rabi’ah menjawab, “Wahai Malik, engkau salah besar. Bukankah Yang memberi mereka dan aku makan sama?” Malik menjawab, “Ya, memang sama” Rabi’ah mengatakan, “Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin dikarenakan kemiskinannya dan akankah Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya dikarenakan kekayaannya?” “Tidak,” sahut Malik. Kemudian Rabi’ah menegaskan, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”
Dalam dialog itu Rabi’ah seperti ingin menegaskan pentingnya memahami dan menerima apa yang dikehendakiNya. Prinsip itulah yang menjadikan hidup Rabi’ah tenteram dan damai. Sebagaimana ketika baru lahir, kilau cahaya cinta di wajahnya tak pernah surut hingga semesta seperti menangis ditinggal pergi Rabi’ah saat Kekasihnya memanggil untuk mi’raj ke hadiratNya.

0 komentar:
Posting Komentar