Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkaulah cahaya di atas cahaya..
Kitab mawlid
al-barzanji, yang digubah oleh Ja’far bin Husain al-Barzanji, adalah wujud
dari ekspresi kecintaan yang tak tertanggugkan kepada manusia agung sepanjang
masa. Kitab sastra yang populer dan hingga kini banyak yang membaca
itu melukiskan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Kitab ini juga
bisa dikatakan sebagai biografi nabi yang ditulis secara puitis.
Ja’far
bin Husain dilahirkan di Barjanziyah, yaitu suatu daerah yang terletak di
kawasan Akrad (kurdistan). Lewat kitab mawlid al-barzanji, ia
menumpahkan segala kerinduan. Bait-bait yang ditulis adalah wujud kecintaannya
kepada nabi sehingga memujinya berarti mengimani ajaran-ajarannya.
Secara silsilah, Ja’far bin Husain
masih termasuk keturunan nabi. Hal ini bisa dilacak dari Hasan ibn Abdul Karim
ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn
Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn
Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa
Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam
Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. dan Sayidatina Fatimah
binti Rasulullah SAW.
Meskipun demikian, Ja’far bin Husain
tidak pernah membanggakan silsilahnya yang masih bersambung dengan nabi kecuali
ia dengan sepenuh hati mengimani dan mencintai Rasulullah. Apalah arti sebuah
nasab jika tidak mampu memantulkan cahaya keilahiyan sepanjang hidupnya? Bahkan ia sendiri
memuji nasab nabi yang berkedudukan tinggi.
Rangkaian nasab yang berkedudukan tinggi
laksana barisan bintang-bintang yang saling terkait
Betapa indah untaian yang sangat mulia dan membanggakan
itu
dengan dikau yang laksana liontin berkilau di dalamnya
Karena
itu, menyalakan api cinta kepada nabi dengan bershalawat kepadanya adalah wujud
dari keimanan yang harus diperjuangkan. Itulah yang membuat Ja’far bin Husain
tiap malam tangannya menengadah, mengemis kepada Allah agar hatinya dibukakan,
diberi petunjuk untuk mengikuti jejak nabi dengan penuh cinta. Ia berharap
dengan penuh sangat. Tidak ada yang dimohonkan kepada Tuhannya selain ketulusan
menjalankan perintah-perintahNya sebagaimana dititahkan kepada Rasulullah.
Itulah sebabnya, kitab mawlid al-barzanji yang digubahnya adalah wujud
keimanannya kepada nabi sebagai utusan Allah sekaligus kecintaannya sebagai
umat yang tidak berdaya dan berharap mendapatkan syafaat kelak di hari kiamat.
Kitab
yang ditulis oleh Ja’far bin Husain itu hingga kini mampu menginspirasi umat
Islam untuk menghidupkan api cinta dan rindu kepada nabi. Di mana-mana kita
melihat orang-orang ikut serta “meramaikan” peringatan hari kelahiran manusia
agung kekasih Allah, Muhammad Ibn Abdillah. Memperingati hari nabi tentu saja
bukanlah sekedar apresiasi saja, tetapi bagian dari upaya “menghidupkan Islam”
sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khattab. Dengan memperingati hari nabi,
tentu yang harus menjadi refleksi utama ialah penghormatan yang tulus kepada
nabi serta berkomitmen di dalam hati untuk mengikuti jejaknya.
Itulah
motivasi spiritual yang menjadi landasan Ja’far bin Husain ketika menggubah
bait-bait pujiannya kepada nabi. Dengan hati yang miris – karena sadar betapa
banyak dosa-dosa yang dilakukan – ia memohon dengan penuh harap akan curahan
cinta Muhammad. Baginya tidak ada yang lebih bahagia kecuali sudah mendapatkan
curahan cinta nabi. Karena itu, apa yang sudah dituangkan dalam lirik-lirik
kitabnya, adalah sebentuk ekspresi kecintaan yang sudah tak tertahankan.
Besarnya
rasa cinta kepada nabi membuat Ja’far bin Husain tak pernah lupa
menyenandungkan bait-bait pujian. Ia yakin rintihan batinnya akan didengar oleh
nabi. Shalawat dan salamnya yang senantiasa diucapkan akan sampai dan nabi
pasti akan tersenyum. Itulah diyakini Ja’far bin Husain. Apalagi dalam sebuah
hadits memang ditegaskan: “Di mana saja kamu berada, maka bershalawatlah
kepadaku. Sebab bacaan shalawatmu itu sampai kepadaku.”
Demikianlah
penegasan Rasulullah yang menjadi motivasi tersendiri bagi Ja’far bin Husain.
Sosok Rasulullah menurutnya adalah cahaya yang tidak akan redup dan menyinari
siapa saja yang mencintainya. Orang-orang yang dengan tulus mencintai
Rasulullah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Sebab, nabi juga akan mencintai
kita sebagai umatnya.
Ja’far
bin Husain, dengan rintihannya yang menggetarkan itu, sudah membuktikan betapa
ia selalu berjumpa dan berpeluk mesra dengan nabi. Setiap hari cintanya
menyala-nyala. Dan, bersamaan dengan itu, nabi mengunjunginya sebagai wujud
apresiasi terhadap cintanya yang membara. Ja’far bin Husain tentu sangat
berharap besar akan syafaat nabi. Sebab, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasibnya
kelak di hapadan Allah kalau bukan Nabi Muhammad?
“Aku
adalah baginda anak cucu Adam. Dan ini bukan kesombongan. Aku adalah manusia
pertama yang bangkit dari kubur, orang pertama yang memberi syafaat, dan orang
pertama yang dikabulkan syafaatnya.” Demikianlah nabi bersabda sebagaimana
diriwayatkan oleh Muslim. Maka, syair yang digubah Ja’far bin Husain adalah
sebentuk “surat permohonan” agar nabi mau memberikan pertolongan di hadapan
Allah kelak di hari kesaksian.
Mencintai nabi tentu tidak hanya sekedar
untaian kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang ditulis dalam bentuk
syair-syair indah. Mencintai nabi berarti mengikuti atau meneladani akhlaknya
yang mulia serta berkomitmen untuk menjalankan apa yang telah diajarkannya.
Ja’far bin Husain pun demikian. Apa yang telah ia tulis dalam bentuk syair
hanyalah ungkapan verbal dari gelora cinta yang menyala-nyala kepada
Rasulullah.


0 komentar:
Posting Komentar