Spirit Pembaharuan Ahmad Wahib


“Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan tersembunyi. (Ahmad Wahib dalam Catatan Harian-nya, 1981).


Tanggal 1 April 1973 adalah hari di mana Ahmad Wahib tutup usia. Pemuda asal Sampang, Madura itu meninggal pada dini hari di tengah gelora intelektualitas dan spiritualitasnya membuncah.

Tak hanya Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo maupun teman sepergaulannya yang lain di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang terkejut dengan kematian mahasiswa Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) itu. Tapi juga menghentak kalangan mahasiswa pada umumnya yang gandrung terhadap ide-ide pembaharuan. Ya, Ahmad Wahib terkenal sebagai pemuda yang agresif menyuarakan pentingnya pembaharuan di tubuh Islam.

Sebelum hijrah ke Jakarta pada tahun 1971, di Yogyakarta Wahib termasuk aktivis yang sangat antusias mengikuti kajian-kajian – terutama kajian politik dan keagamaan – baik yang berlangsung di lingkungan HMI maupun di luar, seperti diskusi “Limited Group” yang dipimpin oleh Dr. Mukti Ali. Sehingga kepergiannya menuju alam keabadian dianggap “terlalu dini” mengingat makin kompleksnya persoalan-persoalan sosial-politik-keagamaan yang harus diselesaikan.

Ahmad Wahib pergi untuk selamanya. Demikianlah barangkali respon teman-temannya ketika nyawa pemuda yang pernah tinggal di asrama Katolik Yogyakarta itu sudah tak tertolong lagi. Ya, Wahib yang sempat dilarikan ke Rumah Sakit Gatot Subroto (RSGS) memang dalam kondisi yang sangat kritis. Awalnya, ia ditabrak oleh pengemudi motor dengan kecepatan tinggi setelah baru saja keluar dari kantor Majalah Tempo – tempat ia bekerja sebagai calon reporter. Kejadian itu rupanya menjadi hari terakhir Wahib bersama kawa-kawan seperjuangannya.

***

Walaupun meninggal di usia yang masih muda, ternyata Wahib mewariskan buah pikirannya yang cukup berharga. Ia menulis beberapa pengalaman yang tak lain merupakan pergulatan pikiran dan batinnya. Nyaris setiap hari, terhitung sejak tahun 1962-1973, ia menuangkan ide-ide segarnya dalam kertas: suatu gagasan yang ia peroleh baik melalui diskusi maupun pengalaman pribadinya. Walaupun catatan itu hanya terdiri dari beberapa kalimat yang pendek-pendek, namun persoalan-persoalan baik yang menyangkut masalah sosial maupun hubungan antara dirinya dengan Tuhan, ia rekam dengan pemaknaan yang cukup arif. Rekaman-rekaman itulah yang kemudian oleh kawan-kawannya diterbitkan dengan judul Catatan Harian Ahmad Wahib (terbit pertamakali bulan Juli 1981).

“Ketika saya bersama keluarga almarhum dan beberapa teman dari Tempo membuka kamar yang disewanya di sebuah gang sempit di bilangan Kebon Kacang, catatan harian yang saya incar itu sudah tersusun rapi. Aneh sekali, seakan-akan Wahib sudah mempersiapkannya. Juga tulisan-tulisannya sudah terbundel dengan baik dalam beberapa map...” Demikianlah penuturan Djohan Effendi dalam pengantar buku Catatan Harian Ahmad Wahib. Djohan Effendi sendiri adalah salah satu teman dekat Wahib yang sering membaca catatan harian itu.

Terlepas dari itu, hal yang sangat menarik dari catatan Wahib dan masih relevan diketengahkan dalam konteks ke-kini-an adalah ide pembaharuan pemikirannya: berpikir bebas dalam rangka mencari titik kebenaran. Inilah yang menurut saya menjadi pergulatan krusial pada diri Wahib. Ya, selain masalah sosial-plitik dan kebudayaan, Wahib dalam catatannya tak segan-segan mengkritik sikap-sikap keberagamaan yang ekslusif dan terkesan memonopoli. Islam, menurut Wahib, adalah agama yang dinamis. Namun demikian, dinamisasi itu sepenuhnya bergantung terhadap sikap umatnya. Jika umat Islam masih (memilih) terbelakang dan tak ada upaya mengembangkan pikiran-pikiran progresifnya, maka yang terjadi sesungguhnya adalah kemunduran. Ya, pada titik inilah umat Islam berada pada kondisi yang statis – The static condition means death dalam bahasa Mohammad Iqbal.

Karena itu, Wahib menyuarakan pentingnya umat Islam memfungsikan pikirannya sebagai sarana mencari kebenaran. Dengan berpikir bebas niscaya umat sedikit banyak mampu menguak kearifan hidup dan kehidupan. Berpikir bebas bukan berarti mendewakan akal pikiran. Tetapi mensyukuri karunia Tuhan. Bukankah pikiran adalah salah satu sarana menuju yang Maha Kuasa? Karena itu, sebagai bentuk puji syukur atas anugerah-Nya, Wahib tak menafikan keberadaan akal pikiran sedikit pun.

Dalam konteks ini, ide Wahib tentang kebebasan berpikir sebenarnya terilhami oleh realitas kehidupan sebagian besar umat Islam yang masih “setengah hati” – meminjam bahasanya Ulil Abshar Abdallah – dalam mengerahkan potensi pikirannya. Pikiran seakan-akan diposisikan pada ranah yang berlawanan ketika dipersinggungkan dengan realitas ke-Tuhan-an. Pikiran tidak jarang pula dianggap sebagai batu sandungan yang mengotori hubungan manusia dengan Tuhannya.

Seseorang yang mengatakan bahwa pikiran ada batasnya dan Tuhan tak akan mampu dijangkau olehnya memang tak ada salahanya. Itu benar. Namun yang menjadi kegelisahan seorang Wahib adalah “ketakutan” umat Islam untuk mencoba berpikir sebebas mungkin ihwal eksistensi Tuhan itu sendiri. Ini memang menyangkut masalah teologi dan pikiran adalah produk atau ciptaan Tuhan. Tetapi ketika “ketakutan” menyembul menjadi suatu sikap yang paten, maka pada titik itulah mereka sebenarnya menyia-nyiakan anugerah terbesar Tuhan. “Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan tersembunyi.” Demikianlah kritik Wahib.

Kenapa Wahib mengatakan demikian? Satu hal yang perlu diingat, bahwa kita dituntut untuk selalu dekat dengan Tuhan. Dekat tidak berarti secara fisik karena Tuhan tidak bisa kita sentuh sebagaimana kita menyentuh dan merangkul orang lain. Tetapi kedekatan itu sejatinya adalah kedekatan hati dan pikiran. Kita berpikir tentang kekuasaan Tuhan, misalnya, merupakan sebentuk kedekatan yang tentu saja berimplikasi positif: menambah kualitas keimanan. Karena itu, kata Wahib, Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Sebab Tuhan tidak akan pernah takut terhadap pikiran atau rasio yang diciptakan-Nya sendiri.

Apa yang diutarakan Wahib saya kira tak berlebihan. Ia menyuarakan sesuatu yang bersifat fundamental dalam tubuh Islam. Sebab bagaimana pun kondisi kebanyakan umat Islam pada waktu itu – atau bahkan hingga saat ini – memang terbuai oleh pemahaman-pemahaman keagamaan yang dogmatis. Islam dipahami dengan menggunakan pendekatan yang parsial. Mereka tak mau berpikir terlalu jauh atau berpikir bebas karena takut Tuhan murka. Yang mereka lakukan cukup hanya dengan tawadlu’ atau pasrah sepenuhnya tanpa melakukan eksplorasi-eksplorasi positif menyangkut aktivitas keberagamaan mereka. Inilah yang disebut dengan keberagamaan yang pasif: suatu sikap yang membunuh naluri keberagamaannya sendiri.

Wahib sebenarnya sudah merasakan fenomena keberagamaan semacam ini ketika ia masih studi di tanah kelahirannya, Madura. Di pulau garam ini, setidaknya pada tahun 60-an, keberagamaan yang dibangun adalah keberagamaan fanatis – ada sebuah ungkapan bahwa di Madura tak akan pernah ada Kristenisasi. Jelas kondisi semacam ini sedikit banyak berpengaruh terhadap kepribadian Wahib, setidaknya menurut amatan benyak kalangan. Tetapi siapa yang tahu di tengah kondisi seperti itu “jiwa pemberontak” Wahib justru semakin tumbuh sedemikian matang. Ia berani berpikir progresif tanpa merasa terkekang oleh kultur di mana ia tinggal. Apalagi dengan berani ia menyebut ayahnya sendiri sebagai pemberontak pada zamannya. Bahkan pernah mengusulkan agar kitab-kitab macam safinah dan sullam perlu perombakan.

Dari sisi inilah kita sedikit banyak bisa menilai bahwa sejak kecil Wahib sejatinya sudah terlatih berpikir progresif. Sehingga tak heran ketika ia melanjutkan studinya ke Yogyakarta, kegelisahannya untuk selalu berpikir dan berpikir seakan tak pernah menemukan kata “selesai.” Keberagamaan yang ia jalani bukanlah keberagamaan yang berpijak pada semangat taqlid: suatu sikap yang menutup atau bahkan mengunci kebebasan berpikir. Keberagamaan yang dikembangkan oleh Wahib adalah sebaliknya, yakni keberagamaan yang tidak menafikan peran akal untuk selalu menemukan yang baru.

***

Dengan demikian, karena progresifitas dan dinamisasi adalah cita-cita bersama, lalu pertanyaannya adalah: sejauh mana kita mampu mewujudkan cita-cita itu? Apakah dengan cara bersikap pasif, yakni menerima apa adanya tanpa harus bersikap kritis? Di sinilah Wahib mengemukakan pentingnya gerakan pembaharuan harus terus-menerus dijalankan. Sebab masalah keberagamaan itu kompleks: dari zaman ke zaman tantangannya selalu berbeda. Sehingga proses pembaharuan itu sudah menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan.

Proses pembaharuan, kata Wahib, merupakan proses yang tidak akan pernah selesai. Sebab ia senantiasa mencari dan mencari kebenaran. “Karena itulah suatu gerakan pembaharuan adalah suatu gerakan yang selalu dalam keadaan gelisah, tidak puas, senantiasa mencari dan bertanya tentang yang lebih benar dari yang sudah benar, dari yang lebih baik dari yang sudah baik.” Demikian Wahib menulis dalam catatannya pada tanggal 6 Maret 1970 – tiga tahun sebelum ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Selanjutnya, karena organisasi pembaharuan itu penting, Wahib menulis: “manakala suatu organisasi pembaharuan relatif sudah berhenti mencari dan bertanya, sudah puas dengan ide-ide yang ada, tidak mengadakan kritik-kritik terhadap ide-ide yang hidup di dalamnya, sudah berhenti gelisah dan gundah, sudah tidak ada lagi gejolak dan pergolakan ide di dalamnya, tak ada benturan-benturan ide yang intensif di tubuhnya, pada saat itulah organisasi pembaharuan itu bisa dikatakan sudah berhenti menjadi organisasi pembaharu.”

Spirit Wahib sebagaimana tercermin dalam tulisannya di atas menunjukkan semangatnya yang tak pernah surut menyuarakan pentingnya pembaharuan dalam Islam. Wahib melihat peran organisasi pembaharuan sangat vital keberadaannya. Karena itu, umat harus selalu digiring untuk keluar dari kungkungan pemahaman dogmatis yang tidak mencerahkan.

0 komentar: