“Selamat Tinggal, Indonesia!”

Konon, Korea Selatan dan Singapura pada awalnya adalah dua negara miskin yang dipandang sebelah mata oleh dunia. Dua negara yang terletak di kawasan benua Asia tersebut tidak mempunyai modal kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah-ruah. Sehingga dalam konstelasi percaturan ekonomi global, kedua negara tersebut sama sekali tidak dimasukkan ke dalam kategori "singa dunia".

Itulah fakta sejarah yang barangkali sangat mengejutkan. Kenapa demikian? Sebab kedua negara tersebut kini sudah menjelma sebagai kekuatan baru di dunia. Korea selatan, misalnya, telah berhasil menancapkan "taringnya" di tengah hegemoni Eropa dan Amerika. Melalui keberhasilannya itulah negara yang berdiri pada tanggal 15 Agustus 1948 itu, seakan membangunkan "tidur nyenyak" bangsa-bangsa lain, termasuk Indonesia, yang hingga kini masih terpururuk akibat terpaan krisis multidimensi.


Demikian juga dengan Singapura. Negara tetangga sebelah ini antara tahun 1965 dan 1997 sektor perekonomiannya mengalami pertumbuhan signifikan. Padahal dalam hal kekayaan jelas Singapura tidak memiliki sumber alam yang dapat diandalkan, kecuali hanya memiliki satu aset, yaitu letaknya yang sangat strategis pada persimpangan jalur armada kapal internasional. Selebihnya, Singapura merupakan sebuah negara kecil yang memiliki luas 704 km2 dengan penduduk berjumlah sekitar 4, 48 juta jiwa.

Jika kita bertanya: “Apa sebenarnya rahasia di balik kebangkitan tersebut? Bukankah Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki kedua negara itu tak berbanding lurus dengan prestasi yang ditorehkan?”

Maka jawabnya: “Kunci keberhasilan kedua negara itu dalam persaingan global adalah memanfaatkan potensi knowledge sebagai mesin pertumbuhan ekonomi (engine of economic growt)”.

Potensi SDA yang sangat minim tidak membuat kedua negara itu pesimis untuk membangun kekuatan yang menakjubkan. Justru dengan potensi knowledge itulah masa depan bangsa dan negara semakin menemukan titik pencerahan yang prospektif: pelan tapi pasti, baik Korea Selatan maupun Singapura semakin menunjukkan taringnya di mata dunia.

Coba kita lihat kembali keberhasilan pembangunan ekonomi dan industri Korea Selatan, misalnya, yang sangat fenomenal itu. Dalam buku Knowledge-Based Economy (2007) dijelaskan: “hanya dalam waktu empat dekade Korea Selatan telah berhasil melakukan transisi dari ekonomi agraris yang berpendapatan rendah, menjadi negara industri padat teknologi yang berorientasi ekspor. Keberhasilan Korea Selatan dalam industrialisasi ekonominya tidak datang secara tiba-tiba tetapi mempunyai akar sejarah dan kultur yang menyatu pada semangat dan kerja keras bangsa Korea. Korea Selatan yang maju, modern dan kaya adalah hasil kerja keras dan kecerdikan bangsa itu dalam memproduksi/ menciptakan, menyebarkan/ mendifusikan dan memanfaatkan/ mengaplikasikan knowledge dan teknologi sebagai inti dan mesin penggerak pembangunan ekonomi dan industrinya”.

Point penting dari keberhasilan itu tidak lain adalah terletak pada "semangat", "kerja keras", dan "kecerdikan" yang merupakan manifestasi dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan kata lain, Korea Selatan – dan tentu saja Singapura serta negara-negara maju lainnya – mengandalkan human capital untuk menyokong efektivitas pertumbuhan ekonomi bangsanya.

Karena itu, kesadaran ihwal pentingnya knowledge dan teknologi harus betul-betul dijadikan pijakan agar tidak gagap dalam merespons realitas persaingan ekonomi global yang semakin kencang. Kenyataan seperti inilah yang setidaknya sampai saat ini dialami oleh Indonesia sendiri, di mana realitas kemiskinan dan kebodohan merupakan imbas dari minimnya human capital sehingga pada gilirannya mudah digilas.

Padahal kita tahu bahwa negara yang terdiri dari 17.508 pulau ini memiliki kekayaan sumber alam yang melimpah-ruah: minyak bumi, gas alam, batu bara, tembaga, emas, biji besi, perak, timah dan lain sebagainya, sehingga dalam perjalanan sejarahnya selalu menjadi target eksploitasi pendatang-pendatang asing. Namun demikian, karena negeri ini hanya mengandalkan kekayaan alam, bukan pada kualitas sumber daya manusianya, maka tak heran jika krisis ekonomi kian memuncak dan berimbas pada sektor-sektor lainnya, seperti pendidikan, sosial-budaya, stabilitas politik.

Melihat kondisi dilematis semacam ini mestinya kita harus banyak belajar kepada Singapura dan Korea Selatan yang pembangunannya tidak hanya sekedar pembangunan ekonomi tetapi berdimensi sangat luas sebagai nation character building, yang bertumpu pada keunggulan human capital.

Jika ke depan Indonesia tidak segera melakukan terobosan-terobosan progresif demi keberhasilan pembangunan ekonominya, maka sudah saatnya kita melambaikan tangan sambil berucap: “Selamat tinggal, Indonesia!”.

0 komentar: