Kafer Tahla, sebuah desa yang terletak di tepian Sungai Nil, seperti tak
pernah berhenti menyenandungkan doa akan lahirnya sesosok generasi pemebrontak.
Otoritarianisme dan hegemoni laki-laki yang menindas menjadi pemandangan yang
cukup menyesakkan Mesir. Maka, Tuhan seperti mengabulkan doa Kafer Tahla dengan
lahirnya Nawal El-Saadawi pada 27 Oktober 1931 yang kelak menyuarakan hak-hak
perempuan dan tidak mau tunduk pada status quo yang otoriter.
Nawal – demikian panggilan akrabnya
– adalah salah satu penulis termasyhur yang juga pernah berprofesi sebagai
dokter. Di negaranya, Mesir, keberadaan Nawal dianggap sebagai ancaman karena
di samping tulisan-tulisannya bernada kritik atas budaya patriarki yang
berkembang, ia juga aktif di berbagai organisasi sosial, salah satunya pernah
mendirikan Himpunan Solidaritas Perempuan Arab yang diberangus oleh pemerintah
Mesir pada tahun 1991.
Salah satu tulisan
awal Nawal adalah sebuah cerita pendek berjudul “I Learned Love” (1957) dan
novel berjudul “Memoirs of a Woman Doctor” (1958). Karya itu mendapatkan
respons yang cukup bagus serta membuat nama Nawal mulai dikenal. Nuansa
pemberontakan sudah kental dalam karya-karya awal Nawal.
Nawal lahir memang untuk memberontak.
Hampir semua tulisan-tulisannya adalah sebentuk kritik sosial. Dalam Matinya
Seorang Laki-Laki,
misalnya, Nawal menyinggung tentang karakter seorang laki-laki yang masih
memandang sebelah mata terhadap perempuan. Budaya patriarki inilah yang oleh
Nawal ditentang. Menurutnya, budaya Mesir sudah bergeser dari matriarki menjadi
patriarki. Kenyataan ini membuat eksistensi perempuan semakin terpasung karena
menjadi korban dari ketidakadilan.
Dalam Kabar
dari Penjara
terlihat juga bagaimana karakter pemberontakan Nawal sangat kental. Dalam
novel itu Nawal mengisahkan tentang sesosok perempuan muda, seorang sarjana,
yang punya obsesi serta idealisme yang tinggi. Tapi apa yang dicita-citakannya
itu berbenturan dengan realitas sosial yang terjadi, di mana ketidakadilan dan
penindasan seperti menjadi kelaziman.
Demikian juga karya-karya Nawal yang
lain,
nuansa pemberontakan melawan ketidakadilan sangat kental dan menjadi ciri khas
dari karyanya. Maka, sebagai konsekuensi, Nawal harus siap menerima hujatan dan
perlakuan yang tidak adil dari pemerintah Mesir. Atas tuduhan perbuatan
kriminal melawan pemerintah yang sah, Nawal akhirnya dipenjara pada september
1981. Pengalaman berharga ini terjadi saat Anwar
Sadat masih berkuasa. Peristiwa ini tak menyurutkan langkah Nawal sedikit pun
untuk tetap melawan kemapanan dengan menulis dan menggerakkan
organisasi-organisasi sosial.
Pasca dipenjara, semangat Nawal
semakin berkobar dan liar. Karya-karyanya cukup memanaskan telinga rezim otoritarianisme
yang “mengamini” dominasi laki-laki atas perempuan dalam berbagai sektor
kehidupan. Fakta inilah yang terangkum dengan begitu indah dalam karya-karya
Nawal. Lewat lembaran-lembaran novelnya, Nawal menggugat dan mengkritik dengan
kemasan sastra yang bermutu. Karyanya sempat disensor karena dianggap tidak
mendidik serta mengusik kemapanan.
Tapi, walaupun demikian, novel-novel
Nawal terbit di berbagai negara lain dan mendapatkan tanggapan yang sangat positif,
terutama dari mereka yang sangat apresiatif dengan wacana-wacana kesetaraan dan
anti-penindasan. Maka, Nawal tak pernah berhenti berkarya. Baginya, kritik atas
ketidakadilan mesti mendapatkan tempat agar kesewenang-wenangan pemerintah dan
penindasan terhadap perempuan bisa segera dihapus.
Lewat karyalah
Nawal bisa dengan bebas mengekspresikan pembelaannya terhadap kaum perempuan.
Meski berbagai tekanan dan sejumlah tuduhan ditujukan kepadanya, ia tidak
gentar sedikit pun. Sikapnya yang berisiko ini membuat Nawal sering keluar
masuk sidang menghadapi sejumlah interogasi. Hebatnya, saat Pemerintah Sadat
memasukkanya ke dalam penjara, Ia tak juga berhenti menulis. Sebuah buku
berjudul “Memoar” yang Ia tulis dari gulungan kertas toilet dan pensil alis
berhasil pula ia terbitkan. Dan, buku itu mendapatkan banyak apresiasi serta
dukungan untuk terus berkarya dari para penggemarnya.
Terlepas dari berbagai tuduhan
miring terhadap karya-karya Nawal, apa yang ia tulis telah memberikan pengaruh yang
luar biasa ke seluruh dunia, khususnya pada generasi muda perempuan dan
laki-laki dalam beberapa dekade terakhir ini. Maka tidak heran jika sejumlah
penghargaan banyak diterima oleh Nawal atas prestasinya itu. Penghargaan berupa
gelar Doktor Kehormatan dari sejumlah Universitas ternama, di antaranya dari
Universitas Flemish Belgia dan Universitas Perancis (November 2007), Gelar Pan
African Writers Association Literary Award and Honorary Membership, Ghana, Acra
(November 2009), Dewan Eropa Utara-Selatan Award (2004), Internasional Penulis of the Year
untuk tahun 2003, dari International Biographical Centre-Cambridge Inggris.

0 komentar:
Posting Komentar