Barangkali merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika seorang penyair menerbitkan buku antologi puisi, lalu dilaunching, dibedah, didiskusikan, diperbincangkan oleh khalayak ramai. Apalagi bagi penyair pemula yang baru menyusuri kesunyian puisi, menerbitkan antologi puisi seperti menjadi pencapaian tersendiri: sebuah kebanggaan tentang identitas kepenyairannya setidaknya telah diakui.
Komunitas Sastra
Rudal pada akhir bulan Januari silam, pernah menggelar sebuah diskusi rutin
bertajuk “Fenomena Penyair Pemula”. Semacam refleksi menyikapi fenomena penyair
pemula yang kini lebih terobsesi memiliki karya dalam bentuk antologi, daripada
berproses sungguh-sungguh, sehingga lahir karya yang benar-benar berkualitas. Tema diskusi itu sebenarnya juga pernah dibahas di Lesehan Sastra
Kutub setahun yang silam.
Apa yang
diperbicangkan dalam diskusi sederhana itu saya kira juga menjadi bahan
perbincangan di jagat kesusastraan negeri ini, di forum-forum penyair
nusantara, di meja-meja para kritikus sastra. Sebuah refleksi yang saya kira
terdorong atas nama semangat berkarya, semangat berproses, semacam keprihatinan
demi lahirnya sebuah kualitas.
***
Apa yang kita
bayangkan ketika seorang penyair pemula, yang baru seumur jagung bersinggungan
dengan puisi, lalu menerbitkan antologi? Apa yang kita bayangkan ketika seorang
penyair yang masih pemula tiba-tiba datang ke forum-forum sastra dengan
menunjukkan dua hingga tiga antologi puisi yang konon diterbitkan sendiri,
dengan biaya sendiri, dan penerbit sendiri? Fenomena ini seolah menjadi trend di kalangan penyair pemula, semata
demi menabalkan identitas kepenyairan mereka.
Penyair pemula selalu
identik dengan keinginan yang menggebu-gebu, yang terdorong oleh perasaan bahwa
dengan menerbitkan antologi puisi (tunggal) berarti jalan kepenyairannya telah
“diakui”. Menerbitkan antologi puisi sendiri, dibiayai sendiri, kemudian dijual
sendiri mungkin terkesan penuh sensasi: sebuah kebanggaan yang justru membunuh
kariernya sendiri. Bukankah menjadi penyair itu harus bersiap sedia menyusuri
lorong-lorong kesunyian, juga kesetian dan kesabaran dalam berkarya?
Penyair pemula
memang selalu tergoda menerbitkan buku antologi puisi. Baru dua hingga tiga
kali nampang di koran/majalah sudah
berani menerbitkan buku antologi puisi; baru dua hingga tiga tahun menekuni
dunia sastra sudah merasa pantas dan puas. Di kampus-kampus di Jogja, atau di
komunitas-komunitas sastra luar kampus, saya melihat bagaimana anak-anak muda
begitu terobsesi mengantologikan puisinya. Memang, tidak ada “syarat khusus”
kapan seorang penyair disebut “pantas” menerbitkan antologi puisi. Tidak ada
ukurannya, kecuali “kualitas karya” yang tentu saja ditempuh dengan proses yang
berdarah-darah, yang tidak instan.
Menerbitkan
antologi puisi dengan pertimbangan “cepat terkenal”, di mana produktifitas
menjadi acuannya, tentu merupakan bagian dari proses yang kurang dewasa.
Sebagian orang mungkin tidak akan sepakat dengan pendapat ini. Lebih-lebih
menulis dan menerbitkan itu adalah hak setiap penulis, sebuah rangkaian proses
kreatif yang harus diapresiasi. Tetapi tulisan ini bukanlah sebentuk
penghakiman, hanya sebatas pandangan sederhana yang didasarkan atas kepedulian
tentang pentingnya kesabaran dalam berproses, tentang langkah-langkah besar
yang harus dikejar tanpa sedikitpun tergoda untuk cepat terkenal.
Bukankah semangat
yang menggebu-gebu kadang menjadi penanda matinya karier seseorang? Membaca fenomena itulah saya kira penting
bagi siapa saja khususnya di Jogja yang memulai petualangannya di rimba
kepenyairan untuk bercermin dan mengambil spirit penyair-penyair muda yang
memiliki proses panjang, yang tak cepat puas dengan pencapaiannya. Sosok-sosok
macam An. Ismanto, Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Ahmad Muchlis Amrin – untuk
menyebut beberapa contoh – adalah penyair-penyair yang memilih “setia
berproses” dan tak pernah “merasa puas”, sehingga tidak tergoda untuk
cepat-cepat bikin antologi puisi
sendiri (kecuali antologi bersama).
***
Mengabadikan karya
dalam bentuk buku adalah impian setiap penulis, tidak terkecuali seorang
penyair. Tapi, sikap tergesa-gesa untuk memiliki antologi sendiri dengan
harapan bisa dilaunching dengan sangat
meriah dan terkenal, padahal puisi-puisinya tergolong biasa dan bahkan miskin
penghayatan, tentu merupakan langkah “bunuh diri”.
Menerbitkan
antologi puisi seringkali menjadi penanda bagi jalan kepenyairan seseorang.
Antologi yang “asal jadi” tentulah bisa diprediksi bagaimana nasib karya itu di
tengah-tengah pembaca dan penikmat sastra.
Coba kita baca kembali petualangant sosok-sosok macam Goenawan Moehamad
(GM), Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna – untuk menyebut beberapa contoh –
yang “tak terusik” oleh keinginan menggebu-gebu untuk mengantologikan karya
(puisi) di awal-awal jalan kepenyairan mereka.
Sebutlah GM,
misalnya, yang memiliki perjalanan panjang sebelum antologi Parikesit (1969) diterbitkan, yang
kemudian diikuti karya-karya berikutnya yang diterjemahkan ke dalam sejumlah
bahasa. Atau, proses panjang Sapardi sebelum DukaMu Abadi terbit di tahun 1969.
Jagat kesusastraan
senantiasa menagih kesabaran berproses; jagat kepenyairan senantiasa menagih
kesetiaan dalam berkarya. Itulah sebabnya, dapat dipahami kenapa seorang
penyair kadang menerbitkan antologi puisinya setelah begitu lama berproses.
Bukan karena tidak percaya diri. Tidak. Justru mereka memiliki kepercayaan
berlipat-lipat setelah mengendapkan karya-karya mereka, melakukan pembacaan ulang,
penghayatan yang terus berulang. Tanpa henti. Sebab puisi memang bukan karya
“cepat saji”.
sumber gambar:


0 komentar:
Posting Komentar