“Berbicara tentang peradaban (at-tamaddun), berarti berbicara tentang siapa yang paling kaya kebudayaannya,” ujar Emha Ainun Nadjib dalam salah satu orasi budayanya. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki ragam kebudayaan dengan keunikannya yang membuat dunia terpesona sekaligus merana.
 Negeri yang terhampar luas dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Jawa hingga tanah Sumatera yang indah permai, bukan hanya bentangan pulau dengan laut birunya yang sejuk dipandang. Tetapi juga di dalamnya tersimpan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap kali kita memasuki bentangan pulau yang sunyi dengan ragam bahasa yang berbeda, kota-kota yang berdiri tegak dengan simbol-simbol kebudayaan yang masih mempesona, juga daerah-daerah pedalaman yang tak terjamah, pada saat itulah kita menyaksikan betapa negeri ini memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan.
Itulah Indonesia, negeri dengan kebudayaan yang melimpah ruah. Siapa yang tidak bangga mengibarkan bendera merah putih dengan lagu Indonesia Raya? Bangsa mana yang tidak iri melihat kita hidup damai, rukun, tenteram di tengah kebudayaan yang berbeda-beda? Maka, pada saat itulah kita sebenarnya membayangkan bahwa yang layak “memimpin dunia” tidak lain dan tidak bukan adalah negeri kita, Indonesia.
            Tapi kita hanya sebatas membayangkan, sebentuk keinginan yang meletup-letup ihwal masa depan yang kita pancang sedemikian kuat. Sebab, menjadi bangsa besar yang maju, kuat, dan disegani tentu saja harus memberi ruang ekspresi kebudayaannya dengan selebar-lebarnya.

Tanpa Identitas
Namun, di tengah arus globalisasi yang terus berlari kencang dan hembusan budaya populer yang kian menjalar, kita ternyata menjadi bangsa yang mudah gamang. Kita seperti kehilangan kepercayaan diri dalam mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu. Di tengah gerak laju zaman yang mengkonstruk pikiran kita bahwa “modern” berarti “maju”, tiba-tiba kita ingin “menjadi orang lain” yang “alergi” dengan warisan nenek moyang.
Baju kebudayaan kita seperti telah kusut dan warnanya sudah luntur karena kita tidak mau mengenakannya. Bahasa daerah yang tak terhitung banyaknya, tiba-tiba dimuseumkan karena kita grogi menggunakannya. Seni kebudayaan yang kaya nilai hanya tinggal cerita karena generasi yang lahir tidak memiliki apresiasi yang tinggi. Maka sempurnalah kita sebagai bangsa yang gamang, tidak memiliki cara pandang yang jujur dalam mempertahankan dan memperjuangkan nilai-nilai kebudayaan kita sendiri.
Negeri kita ini benar-benar seperti cermin retak, tidak memiliki identitas yang jelas. Panggung politik dengan drama demokrasinya, hanya menyeruak dalam mementaskan kepongahan. Segala bentuk kepentingan menjadi nikmat dipertaruhkan meskipun di bawah sana, masyarakat bawah (grass root), tertatih-tatih mempertahankan hidup. Tentu, berbicara tentang kebudayaan menjadi kurang menarik karena setiap konsepsi atau cara pandang sudah menjelma kepentingan.
Siapakah yang peduli menata kembali ruas-ruas kebudayaan kita yang kian hari kian redup? Siapakah yang dengan gagah menampilkan identitas kebudayaannya sendiri di tengah generasi muda mabuk boy band dan terhipnotis sinetron?
Negeri kita sedang berjalan pincang karena kaki kebudayaannya keropos. Bentangan pulau-pulau yang begitu permai, yang menyimpan kearifan dan nilai-nilai kebudayaan tinggi, kini hanya tinggal cerita yang mewarnai halaman buku-buku sejarah. Kita tidak lagi menjumpai anak-anak muda dengan gembira menyenandungkan syair-syair khas daerah, kita juga tidak lagi menjumpai seni-seni pertunjukan tradisional digemari dengan begitu khidmat. Jika pun ada, barangkali hanya sebatas pementasan-pementasan formal karena memperingati momen-momen tertentu. Tak ada yang membekas dalam cara berpikir dan bertindak, sehingga kita tidak mampu mengambil inspirasi.

 Merubah Cara Pandang
Itulah negeri kita, negeri tanpa identitas. Kenyataan bahwa kita berjalan dengan kaki yang pincang harus direfleksikan terus-menerus hingga tumbuh kesadaran bahwa syarat utama menjadi bangsa yang besar adalah terletak pada cara kita memperlakukan kebudayaan kita sendiri yang secara turun-temurun telah menjadi identitas yang khas.
Refleksi ihwal pentingnya nilai-nilai kebudayaan diaktualisasikan harus selalu digugah. Tentu pertama-tama ialah dengan cara merubah pola pikir atau cara pandang. Jika selama ini yang terkonstruk dalam pikiran kita ialah “modern” berarti “maju”, maka kita harus berani menerobosnya dengan kalimat tanya yang lebih tegas: apa itu modern? Kemajuan macam apa yang perlu kita banggakan jika nilai-nilai kebudayaan kita yang sarat makna dan filosofi hidup dilupakan?
Dalam konteks ini, salah satunya kita harus belajar dan mengambil inspirasi pada masyarakat Yogyakarta. Sebagai daerah istimewa yang sanggup mempertahankan nilai-nilai kearifan lokalnya di tengah gemuruh modernitas, Yogyakarta merupakan center budaya Jawa yang dengan bangga tetap melestarikan kebudayaannya. Sultan dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mampu menggiring masyarakatnya untuk lebih menghargai, memperjuangkan, dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan Jawa.
Simbol-simbol kebudayaan di Yogyakarta tidak hanya berdiri kokoh, tetapi apresiasi masyarakat dalam melestarikan kebudayaan itu begitu antusias dan kuat. Cara pandang mereka adalah cara pandang yang maju. Andai pemerintah di negeri ini mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Sultan dan rakyatnya, yaitu menguatkan sendi-sendi kebudayaan bangsa dengan cara pandang yang segar dan pemaknaan yang mendalam, tentu kaki-kaki kebudayaan negeri kita akan kembali tegak dan kokoh.          

sumber gambar: warnawarniindonesia.hol.es

Bangsa yang tidak memiliki identitas kebudayaan adalah bangsa yang tidak siap menyongsong masa depan. Bangsa yang “alergi” terhadap nilai-nilai kearifan lokalnya adalah bangsa yang tidak akan pernah ditakdirkan menjadi tonggak peradaban dunia. Dan, Indonesia merupakan salah satu bangsa yang mengalami krisis identitas karena baju kabudayaannya dirobek sendiri, nilai-nilai kearifan lokalnya ditanggalkan, hingga muncullah generasi yang gagap dalam menyikapi kenyataan. 
Itulah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Indonesia adalah bangsa yang paling kaya kebudayaannya. Dari Sabang hingga Merauke, kita menyaksikan heterogenitas kebudayaan yang sarat nilai dan menyimpan filosofi hidup yang begitu mengagumkan. Orang-orang asing yang datang ke Indonesia, nyaris tidak percaya melihat kenyataan bahwa bangsa ini benar-benar kaya kebudayaannya.      
            Tapi kita seperti “ditakdirkan” tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kita gagal memaknai hakikat kebudayaan kita sendiri sehingga yang muncul adalah psimisme, minder, dan selalu merasa (di)rendah(kan).

Setengah Hati
Kenapa semua itu terjadi? Salah satunya karena kita sebagai bangsa Indonesia masih “setengah hati” dalam mengaktualisasikan kebudayaan kita sendiri di tengah gemuruh globalisasi. Kebudayaan lokal – yang tentunya sangat heterogen itu – seakan tidak memiliki nilai signifikansinya karena cenderung ditinggalkan. Bangsa kita lebih membanggakan kebudayaan asing yang dinilai sejalan dan senafas dengan perkembangan zaman. Sehingga pada akhirnya kita menjadi terasing atau “menjadi orang lain” dalam realitas diri dan kebudayaan kita sendiri. Perasaan minder ini, disadari maupun tidak, hingga kini masih terwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
            Dalam konteks inilah pendidikan berkearifan lokal menemukan momentumnya untuk dijadikan sebagai instrumen perekat generasi bangsa untuk bersama-sama mengaktualisasikan identitas kebudayaan kita sendiri yang nyaris hilang. Sebab, kearifan lokal yang sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom) atau pengetahuan setempat (local knowledge), sangat menentukan terhadap eksistensi kemanusiaan kita.         
Dengan demikian, pendidikan berkearifan lokal mesti mendapatkan porsi yang lebih urgen. Sebab – meminjam bahasanya Dr. Agus Maladi Irianto – ia adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal. Karena sangat strategis untuk menjawab tantangan global, maka pendidikan berkearifan lokal mesti dikembangkan baik secara kultural maupun formal.
Jika komitmen tersebut sudah menjadi prinsip hidup masing-masing peserta didik (generasi bangsa), kita tak perlu gentar merespons dominasi (kebudayaan) Barat yang menggurita di seluruh penjuru dunia. Sebab sejatinya kita sedang berada dalam posisi yang oleh Arnold J. Toynbee disebut sebagai “minoritas kreatif” melawan “mayoritas tidak kreatif”. Realitas kultural semacam ini hanya bisa diraih jika kita kreatif dan inofatif dalam mengaktualisasikan kebudayaan kita sendiri.
            Dengan demikian, kearifan lokal meniscayakan pembentukan karakter yang sarat nilai. Dalam konteks ini, manusia yang tidak apresiatif jelas menunjukkan bahwa ia mengalami split personality yang sungguh menyedihkan: identitas kemanusiaannya menjadi buram karena susah untuk diidentifikasi.
Mahatma Gandhi dalam Otobiografinya sedikit menyinggung tentang pembentukan karakter atau identifikasi ihwal identitas diri. Sebagai orang India yang mengagumi nilai-nilai kebudayaan tanah kelahirannya, dia tetap tegar ketika melanjutkan studi ke Bombay. Gandhi tampil apa adanya tanpa terobsesi oleh life style orang-orang Eropa pada umumnya. Bagi Gandhi, manusia yang selalu membanggakan – bahkan terobsesi untuk menjadi bagian dari – kebudayaan asing adalah manusia yang tercerabut semangat hidupnya.
Mohammad Yamin, dalam salah satu sajaknya yang berumbul “Tanah Air” (1920), menggambarkan spirit lokal sekaligus menegaskan identitas Sumatera yang indah nan permai: Pada batasan, Bukit barisanMemandang aku, ke bawah memandang/ Tampaklah hutan rimba dan ngaraiLagi pun sawah, sungai yang permaiSerta gerangan, lihatlah pulaLangit yang hijau bertukar warnaOleh pucuk, daun kelapa/Itulah tanah, tanah airkuSumatera namanya, tumpah darahku...
Tanah Sumatera – dengan segala keterbatasan dan keterbelakangannya – bagi Yamin adalah “Tanah Air” yang sangat inspiratif dan patut untuk dibanggakan.

Peran Lembaga Pendidikan
Refleksi ini penting kita gugah hingga menjadi sebentuk kesadaran dalam bersikap dan bertindak. Pendidikan yang hanya berorientasi pada pengembangan intelektualitasan sich tanpa adanya spirit local genius hanya akan melahirkan generasi-generasi yang rentan terkontaminasi oleh perubahan-perubahan pola hidup yang serba pragmatis. Mereka hanya menjadi generasi yang konformistis dengan keadaan, yang selalu menggadaikan identitas kebudayaan mereka sendiri yang dinilai terbelakang. Jika cara berpikir semacam ini masih diternak dengan dalih “semangat perubahan”, maka sejatinya kita telah melakukan apa yang oleh Prof. Yudian Wahyudi disebut sebagai “bunuh diri peradaban”.   
Menjadi manusia yang berpikiran maju tidak harus terperangah dengan segala perubahan hidup yang silih berganti. Bukan berarti kita melakukan penolakan secara ekstrem dalam pengertian “hitam-putih”. Tetapi lebih pada penegasan eksistensial bahwa kita dilahirkan olehmother culture yang memiliki spirit hidup yang berbeda, yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal. Itulah sebabnya, apresiasi yang tinggi terhadap mother culture tetap harus kita pancangkan kuat-kuat. Sebab salah satu pilar peradaban modern dibangun  melalui hal tersebut. 
Di sinilah peran lembaga pendidikan dipertaruhkan: tanggung jawab untuk mencetak generasi penuh dedikasi, yang memiliki wawasan local wisdom, yang tidak alergi terhadap kebudayaannya sendiri, harus diupayakan semaksimal mungkin. 

sumber gambar: redaksiindonesia.com

“Naluri manusia yang tidak pernah padam adalah kehendaknya untuk berkuasa.” Demikian filsuf Nietzsche pernah berkhotbah. Adapun kekuasaan, kata Lord Action dalam salah satu suratnya kepada uskup Mandell Creighton pada April 1887, cenderung membuat seseorang berbuat korup. 

Korupsi dan kekuasaan seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Kekuasaan atau jabatan seringkali membuat manusia terpesona hingga lupa apa hakikat di balik itu semua. Kekuasaan seringkali dipersepsikan sebagai tempat “mencari karier”. Ketika kekuasaan dimaknai demikian, maka penyelewengan (korupsi) menjadi sesuatu yang tak bisa dielakkan.

Kwik Kian Gie (2006) mengatakan bahwa sangat sulit mencari birokrat yang tidak terjangkit korupsi dalam sejarah hidupnya. Indikasi ini setidaknya bisa kita baca dalam beberapa tahun terakhir ini, di mana kasus korupsi subur terjadi. 

Fenomena korupsi memang tak akan pernah habis diperbincangkan di negeri ini. Sejak rezim Orde Baru hingga Era Reformasi yang selalu mengatasnamakan diri sebagai yang paling demokratis, korupsi begitu subur hingga negeri ini mendapatkan predikat sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Data yang dirilis KPK selama periode 2004-2011, misalnya, tercatat sebanyak 1.408 kasus korupsi dengan kerugian negara Rp39,3 triliun. 

Korupsi sepertinya sulit diberantas di negeri ini. Kita bisa mengutuk bahwa Soeharto dengan rezimnya yang memipin negeri ini selama 32 tahun sebagai era yang “paling bobrok” karena praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) mengakar kuat. Tapi, di masa Orde Baru, praktik busuk itu hanya terjadi di lingkaran eksekutif dan orang-orang tertentu. Barangkali saat itu hanya bisa dihitung dengan jari siapa saja yang telah merampok uang negara. Hal ini berbeda dengan kenyataan yang kita hadapi di Era Reformasi. Kini, praktik korupsi bukan lagi menyangkut individu atau perorangan, tapi dilakukan secara berjamaah. 

Jika korupsi pada masa Orde Baru hanya terjadi di lingkaran eksekutif, kini praktik busuk itu sudah merambah ke lembaga-lembaga lainnya, baik di parlemen, lembaga kepolisian, bahkan di tubuh partai politik. Kasus korupsi akhir-akhir ini yang melibatkan banyak kader partai politik menjadi bukti kuat bagaiaman praktik busuk itu kini merajalela dan melibatkan siapa saja. 

Terungkapnya partai politik yang andil menyumbangkan kader-kadernya dalam pesta uang negara, sebagaimana dirilis oleh berbagai survei, sangat mengejutkan. Menjelang Pemilu 2014, partai politik seolah-olah berlomba-lomba memenangkan pemilu lewat jalur yang gelap, yakni jalur korupsi. Parahara yang melanda Partai Demokrat karena banyak elite parpol yang didirikan oleh SBY itu terlibat kasus korupsi, misalnya, menjadi bukti paling shaheh bahwa partai politik tidak bisa lepas dari perangkap bernama korupsi.

Demikian juga pahara yang menimpa PKS karena salah satu figurnya, yakni Luthfi Hasan Ishaaq, ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus penyuapan daging impor. Partai yang, konon, menganggap diri sebagai partai yang paling bersih itu kemudian diolok-olok oleh rakyat dengan sebutan “Partai Korupsi Sapi”. 

Keberadaan partai politik, sejak awal-awal Era Reformasi berkibar, memang kerap menyumbangkan kader-kadernya dalam daftar jajaran koruptor. Nyaris tidak ada satu pun parpol yang kader-kadernya tidak pernah terlibat kasus korupsi, baik yang sudah diungkap maupun yang tidak. Sehingga, tidak heran jika muncul ungkapan “Apa pun partainya, korupsi hobinya”.

Kenyataan itu memang tidak bisa dipungkiri karena, sekali lagi, jabatan atau kekuasaan – meminjam bahasanya Max Weber – tidak dimaknai sebagai panggilan suci, panggilan hati nurani. Para politikus memandang jabatan sebagai tempat meraih prestasi, tempat memuluskan karier politik, dan tempat menumpuk kekayaan pribadi.    

Dalam konteks inilah barangkali korupsi bagi mereka sudah menjadi sebuah keniscayaan. Barangsiapa yang tidak pernah berbuat korup, menyesallah ia seumur hidup. Jika ada sebuah partai politik yang “belum” mendaftarkan kader-kadernya ke dalam lingkaran korupsi, pasti partai itu sebentar lagi “gulung tikar”. Sebab, biaya politik itu sangat mahal. Jika dana partai politik pas-pasan, apalagi diperoleh dari jalan yang halal, maka eksistensi partai itu tidak akan bertahan lama.

Jika dulu Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memperjuangkan kemerdekaan, maka kini partai politik didirikan dan digerakkan demi kepentingan pribadi dan golongan. Jika dulu Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) untuk menyatukan semangat nasionalisme di antara kaum intelektual, mahasiswa, dan sarjana yang mengenyam pendidikan di Belanda, agar persatuan dan kesatuan menuju Republik Indonesia yang merdeka tercapai, maka kini partai-partai politik hanya menjadi “lahan bisnis” untuk mengeruk keuntungan materi sebesar-besarnya, sepuas-puasnya.

Berangkat dari kenyataan itulah kita kemudian tidak heran jika kasus korupsi melanda kader-kader partai politik. Sebab, partai politik telah bermetamorfosis dari lembaga “penyambung aspirasi rakyat” ke “penyumbat hati nurani rakyat”. Kasus korupsi yang melibatkan sejumlah kader atau elite partai politik, baik di pusat maupun di daerah, merupakan bukti nyata bahwa partai politik itu adalah “lahan bisnis”, semacam tempat mengais “rezeki”.

Adakah di antara kita yang masih menaruh harapan yang begitu tinggi kepada partai-partai politik di negeri ini? 


“Jika diriku sendiri tak dikenang, aku akan dikenang sampai hari kiamat karena mutiara-mutiara puisi yang telah kutebarkan di atas kepala orang banyak. Kubah-kubah langit akan hancur sebelum sajak ini nanti sirna.”
(Fariduddin Attar)

Setiap penulis yang menjadi pemuja terhadap karyanya sendiri, yang membanggakannya dengan sedemikain rupa, seringkali kita menyebutnya sebagai narsis. Ada sejenis kebanggan yang tidak bisa disembunyikan ketika olah pikir dan renungan yang diperasnya menjelma sebuah karya yang menurutnya cemerlang!
Dalam terminologi psikologi, jenis kebanggan itu biasa disebut “narsisme” atau “narsisisme”. Tapi tidak semua narsisme itu buruk. Dalam batas-batas tertentu, narsisme tak lebih hanyalah sebentuk “kemasan” dari mutiara-mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya.  
Dalam karya-karya sastra klasik, terutama karya-karya kaum sufi yang lahir di Timur Tengah, kita bisa menjumpai jenis narsisme yang unik sekaligus terpuji itu.  Dalam karya-karya Fariduddin Attar dan Abdurrahman Jami, misalnya, ada banyak ungkapan yang – jika tidak memahami konteksnya – akan menilainya sebagai wujud dari “kesombongan” belaka. Atau, jika pembaca hanya menilai karya mereka “sebatas karya” sebagaimana pada umumnya karya sastra, maka yang lahir pastilah anggapan-anggapan negatif bahwa mereka telah terjebak pada “pengakuan diri” yang sungguh keterlaluan.  
Tapi jika kita membacanya dengan pengetahuan yang mumpuni, dengan kepekaan jiwa yang tinggi, maka di balik “narsisme” itu terdapat beribu-ribu hikmah, ada semacam lautan kearifan yang ketika diselami penuh dengan mutiara-mutiara kehidupan. 
Itulah jenis “narsisme yang terpuji”, yang sama sekali tidak berhubungan dengan puja-puji, apalagi mengatakannya sebagai bentuk patologi. Tidak. Narisme semacam ini seringkali kita jumpai dalam karya-karya sastrawan besar Islam yang memiliki pengaruh dalam hidupnya, yang karya-karyanya mengkilap sebagaimana keluhuran jiwa mereka yang mengkilap.
Sebutlah Fariduddin Attar (w. 1230). Seorang sastrawan yang dijuluki Si Penebar Wangi. Dalam kitab Manthiqut Thair (Musyawarah Burung), Attar dengan tegas dan “narsis” mengatakan: “Tulisanku memiliki keistimewaan yang mengagumkan: ia akan memberikan lebih banyak manfaat sesuai dengan bagaimana cara membacanya.”
            Membaca Attar tentu saja memasuki lautan hikmah, karyanya menyimpan wangi-wangian, dan kata-kata narsisnya tidak mencelakakan dirinya. Sebab Attar terbebas dari pujian. Apa yang telah digubahnya pantas untuk dirayakan karena ia telah memerasnya dari sebuah perenungan dan pengembaraan panjang. “Jika diriku sendiri tak dikenang,” kata Attar di bagian akhir buku itu, “aku akan dikenang sampai hari kiamat karena mutiara-mutiara puisi yang telah kutebarkan di atas kepala orang banyak. Kubah-kubah langit akan hancur sebelum sajak ini nanti sirna.”
            Jika Attar membungkus hikmah di balik puisi-puisinya dengan ungkapan yang narsis, Abdurrahman Jami juga demikian. Jami adalah sastrawan besar Islam abad XV asal Afghanistan. Ia adalah penulis yang lihai. Beharistan (Kota Musim Semi) dan Nafahatul Uns (Nafas dari Bayu Persahabatan)  adalah beberapa karyanya dalam bentuk prosa yang sangat terkenal.
Sebelum meninggal pada tahun 1492 M, Jami menulis sebuah novel bertajuk Yusuf dan Zulaikha. Novel yang sudah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa ini merupakan kado terakhir Jami sebelum ia berpulang ke alam kebadian. Dalam novel ini, dengan “narsis” Jami mengatakan:  “Sebagaimana Tuhan adalah saksiku, karyaku adalah sesegar sumber yang baru. Setiap babnya adalah taman harum, dengan mawar indah di setiap rangkaian bunga..”
Jami ingin menggiring pembacanya ke sebuah dunia di mana kisah-kisah yang dihadirkan dan kata-kata yang digubahnya adalah tangga untuk menggapai lautan cinta ilahi. Itulah sebabnya, dalam epilog Yusuf dan Zulaikha, Jami menuturkan bahwa karya legendaris ini ditulis untuk memenuhi janjinya: sepercik hikmah yang memancar dari penanya setidaknya mampu memberikan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang kering.
Ketika Jami berpulang, karya-karyanya menjadi primadona, tidak saja di Timur Tengah, tapi juga di berbagai penjuru dunia. Mereka yang membaca karya Jami dengan penuh kesadaran sekaligus kedewasaan, akan tenggelam dalam kenikmatan tanpa sisa. Jami, sebagaimana juga Attar, seperti menyediakan beribu-ribu kendi yang berisi anggur. Setiap kali anggur itu ditenggak, maka melesatlah jiwa-jiwa yang kehausan. Ketika jiwa-jiwa melesat secepat kilat, barulah tahu bahwa narsisme itu bukanlah sejenis kebanggaan diri yang terkutuk, tapi sebuah keniscayaan yang mencerahkan.
 Dengan demikian, narsisme dalam konteks ini tidak bisa dipahami sebagai bentuk “pengakuan diri”, semacam penyakit untuk meneguhkan karya-karyanya atau mengukuhkan eksistensinya. Sama sekali tidak. Mereka terbebas dari semua itu.
Beratus-ratus tahun setelah karya-karya Jami dan Attar dikenang di berbagai penjuru dunia, muncul sosok penyair sufi sekaligus filsuf yang juga mengemas karya-karyanya dengan ungkapan-ungkapan “narsis”: Muhammad Iqbal (1877-1938). Dalam Javid Namah (Kitab Keabadian), misalnya, dengan “narsis” Iqbal mengatakan: “Apa yang telah kukatakan berasal dari dunia lain; buku ini turun dari langit lain.”
Barangkali Iqbal merasa perlu mengatakan demikian karena dalam karya tersebut ia dengan gagah menceritakan dirinya melakukan petualangan ruhani dari bumi lewat “daerah-daerah” bulan, mercurius, venus, mars, jupiter dan saturnus hingga sampai di luar segala daerah: hadirat ilahi. Itulah sebabnya, agar pembaca dapat mereguk hikmah di balik puisi-puisinya, Iqbal berpesan: “Tuturkan kembali kata-kataku dengan mudah pada yang muda-muda, jadikan kedalamanku tergapai buat mereka.” 

Sumber gambar: www.jumhur.web.id

Sumber: mahabbatussholawat.blogspot.com

Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkaulah cahaya di atas cahaya..
Kitab mawlid al-barzanji, yang digubah oleh Ja’far bin Husain al-Barzanji, adalah wujud dari ekspresi kecintaan yang tak tertanggugkan kepada manusia agung sepanjang masa. Kitab sastra yang populer dan hingga kini banyak yang membaca itu melukiskan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Kitab ini juga bisa dikatakan sebagai biografi nabi yang ditulis secara puitis.
Ja’far bin Husain dilahirkan di Barjanziyah, yaitu suatu daerah yang terletak di kawasan Akrad (kurdistan). Lewat kitab mawlid al-barzanji, ia menumpahkan segala kerinduan. Bait-bait yang ditulis adalah wujud kecintaannya kepada nabi sehingga memujinya berarti mengimani ajaran-ajarannya.
            Secara silsilah, Ja’far bin Husain masih termasuk keturunan nabi. Hal ini bisa dilacak dari Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. dan Sayidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.
            Meskipun demikian, Ja’far bin Husain tidak pernah membanggakan silsilahnya yang masih bersambung dengan nabi kecuali ia dengan sepenuh hati mengimani dan mencintai Rasulullah. Apalah arti sebuah nasab jika tidak mampu memantulkan cahaya keilahiyan sepanjang hidupnya? Bahkan ia sendiri memuji nasab nabi yang berkedudukan tinggi.
Rangkaian nasab yang berkedudukan tinggi
laksana barisan bintang-bintang yang saling terkait
Betapa indah untaian yang sangat mulia dan membanggakan itu
dengan dikau yang laksana liontin berkilau di dalamnya
Karena itu, menyalakan api cinta kepada nabi dengan bershalawat kepadanya adalah wujud dari keimanan yang harus diperjuangkan. Itulah yang membuat Ja’far bin Husain tiap malam tangannya menengadah, mengemis kepada Allah agar hatinya dibukakan, diberi petunjuk untuk mengikuti jejak nabi dengan penuh cinta. Ia berharap dengan penuh sangat. Tidak ada yang dimohonkan kepada Tuhannya selain ketulusan menjalankan perintah-perintahNya sebagaimana dititahkan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya, kitab mawlid al-barzanji yang digubahnya adalah wujud keimanannya kepada nabi sebagai utusan Allah sekaligus kecintaannya sebagai umat yang tidak berdaya dan berharap mendapatkan syafaat kelak di hari kiamat.
Kitab yang ditulis oleh Ja’far bin Husain itu hingga kini mampu menginspirasi umat Islam untuk menghidupkan api cinta dan rindu kepada nabi. Di mana-mana kita melihat orang-orang ikut serta “meramaikan” peringatan hari kelahiran manusia agung kekasih Allah, Muhammad Ibn Abdillah. Memperingati hari nabi tentu saja bukanlah sekedar apresiasi saja, tetapi bagian dari upaya “menghidupkan Islam” sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khattab. Dengan memperingati hari nabi, tentu yang harus menjadi refleksi utama ialah penghormatan yang tulus kepada nabi serta berkomitmen di dalam hati untuk mengikuti jejaknya.
Itulah motivasi spiritual yang menjadi landasan Ja’far bin Husain ketika menggubah bait-bait pujiannya kepada nabi. Dengan hati yang miris – karena sadar betapa banyak dosa-dosa yang dilakukan – ia memohon dengan penuh harap akan curahan cinta Muhammad. Baginya tidak ada yang lebih bahagia kecuali sudah mendapatkan curahan cinta nabi. Karena itu, apa yang sudah dituangkan dalam lirik-lirik kitabnya, adalah sebentuk ekspresi kecintaan yang sudah tak tertahankan.
Besarnya rasa cinta kepada nabi membuat Ja’far bin Husain tak pernah lupa menyenandungkan bait-bait pujian. Ia yakin rintihan batinnya akan didengar oleh nabi. Shalawat dan salamnya yang senantiasa diucapkan akan sampai dan nabi pasti akan tersenyum. Itulah diyakini Ja’far bin Husain. Apalagi dalam sebuah hadits memang ditegaskan: “Di mana saja kamu berada, maka bershalawatlah kepadaku. Sebab bacaan shalawatmu itu sampai kepadaku.”  
Demikianlah penegasan Rasulullah yang menjadi motivasi tersendiri bagi Ja’far bin Husain. Sosok Rasulullah menurutnya adalah cahaya yang tidak akan redup dan menyinari siapa saja yang mencintainya. Orang-orang yang dengan tulus mencintai Rasulullah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Sebab, nabi juga akan mencintai kita sebagai umatnya.
Ja’far bin Husain, dengan rintihannya yang menggetarkan itu, sudah membuktikan betapa ia selalu berjumpa dan berpeluk mesra dengan nabi. Setiap hari cintanya menyala-nyala. Dan, bersamaan dengan itu, nabi mengunjunginya sebagai wujud apresiasi terhadap cintanya yang membara. Ja’far bin Husain tentu sangat berharap besar akan syafaat nabi. Sebab, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasibnya kelak di hapadan Allah kalau bukan Nabi Muhammad?
“Aku adalah baginda anak cucu Adam. Dan ini bukan kesombongan. Aku adalah manusia pertama yang bangkit dari kubur, orang pertama yang memberi syafaat, dan orang pertama yang dikabulkan syafaatnya.” Demikianlah nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim. Maka, syair yang digubah Ja’far bin Husain adalah sebentuk “surat permohonan” agar nabi mau memberikan pertolongan di hadapan Allah kelak di hari kesaksian.
            Mencintai nabi tentu tidak hanya sekedar untaian kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang ditulis dalam bentuk syair-syair indah. Mencintai nabi berarti mengikuti atau meneladani akhlaknya yang mulia serta berkomitmen untuk menjalankan apa yang telah diajarkannya. Ja’far bin Husain pun demikian. Apa yang telah ia tulis dalam bentuk syair hanyalah ungkapan verbal dari gelora cinta yang menyala-nyala kepada Rasulullah.