Gelegak Cinta dan Rindu dalam Mawlid al-Barzanji


Sumber: mahabbatussholawat.blogspot.com

Engkaulah surya, engkaulah purnama
Engkaulah cahaya di atas cahaya..
Kitab mawlid al-barzanji, yang digubah oleh Ja’far bin Husain al-Barzanji, adalah wujud dari ekspresi kecintaan yang tak tertanggugkan kepada manusia agung sepanjang masa. Kitab sastra yang populer dan hingga kini banyak yang membaca itu melukiskan kehidupan Nabi Muhammad Saw. Kitab ini juga bisa dikatakan sebagai biografi nabi yang ditulis secara puitis.
Ja’far bin Husain dilahirkan di Barjanziyah, yaitu suatu daerah yang terletak di kawasan Akrad (kurdistan). Lewat kitab mawlid al-barzanji, ia menumpahkan segala kerinduan. Bait-bait yang ditulis adalah wujud kecintaannya kepada nabi sehingga memujinya berarti mengimani ajaran-ajarannya.
            Secara silsilah, Ja’far bin Husain masih termasuk keturunan nabi. Hal ini bisa dilacak dari Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Syed ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Syed ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. dan Sayidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.
            Meskipun demikian, Ja’far bin Husain tidak pernah membanggakan silsilahnya yang masih bersambung dengan nabi kecuali ia dengan sepenuh hati mengimani dan mencintai Rasulullah. Apalah arti sebuah nasab jika tidak mampu memantulkan cahaya keilahiyan sepanjang hidupnya? Bahkan ia sendiri memuji nasab nabi yang berkedudukan tinggi.
Rangkaian nasab yang berkedudukan tinggi
laksana barisan bintang-bintang yang saling terkait
Betapa indah untaian yang sangat mulia dan membanggakan itu
dengan dikau yang laksana liontin berkilau di dalamnya
Karena itu, menyalakan api cinta kepada nabi dengan bershalawat kepadanya adalah wujud dari keimanan yang harus diperjuangkan. Itulah yang membuat Ja’far bin Husain tiap malam tangannya menengadah, mengemis kepada Allah agar hatinya dibukakan, diberi petunjuk untuk mengikuti jejak nabi dengan penuh cinta. Ia berharap dengan penuh sangat. Tidak ada yang dimohonkan kepada Tuhannya selain ketulusan menjalankan perintah-perintahNya sebagaimana dititahkan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya, kitab mawlid al-barzanji yang digubahnya adalah wujud keimanannya kepada nabi sebagai utusan Allah sekaligus kecintaannya sebagai umat yang tidak berdaya dan berharap mendapatkan syafaat kelak di hari kiamat.
Kitab yang ditulis oleh Ja’far bin Husain itu hingga kini mampu menginspirasi umat Islam untuk menghidupkan api cinta dan rindu kepada nabi. Di mana-mana kita melihat orang-orang ikut serta “meramaikan” peringatan hari kelahiran manusia agung kekasih Allah, Muhammad Ibn Abdillah. Memperingati hari nabi tentu saja bukanlah sekedar apresiasi saja, tetapi bagian dari upaya “menghidupkan Islam” sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khattab. Dengan memperingati hari nabi, tentu yang harus menjadi refleksi utama ialah penghormatan yang tulus kepada nabi serta berkomitmen di dalam hati untuk mengikuti jejaknya.
Itulah motivasi spiritual yang menjadi landasan Ja’far bin Husain ketika menggubah bait-bait pujiannya kepada nabi. Dengan hati yang miris – karena sadar betapa banyak dosa-dosa yang dilakukan – ia memohon dengan penuh harap akan curahan cinta Muhammad. Baginya tidak ada yang lebih bahagia kecuali sudah mendapatkan curahan cinta nabi. Karena itu, apa yang sudah dituangkan dalam lirik-lirik kitabnya, adalah sebentuk ekspresi kecintaan yang sudah tak tertahankan.
Besarnya rasa cinta kepada nabi membuat Ja’far bin Husain tak pernah lupa menyenandungkan bait-bait pujian. Ia yakin rintihan batinnya akan didengar oleh nabi. Shalawat dan salamnya yang senantiasa diucapkan akan sampai dan nabi pasti akan tersenyum. Itulah diyakini Ja’far bin Husain. Apalagi dalam sebuah hadits memang ditegaskan: “Di mana saja kamu berada, maka bershalawatlah kepadaku. Sebab bacaan shalawatmu itu sampai kepadaku.”  
Demikianlah penegasan Rasulullah yang menjadi motivasi tersendiri bagi Ja’far bin Husain. Sosok Rasulullah menurutnya adalah cahaya yang tidak akan redup dan menyinari siapa saja yang mencintainya. Orang-orang yang dengan tulus mencintai Rasulullah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Sebab, nabi juga akan mencintai kita sebagai umatnya.
Ja’far bin Husain, dengan rintihannya yang menggetarkan itu, sudah membuktikan betapa ia selalu berjumpa dan berpeluk mesra dengan nabi. Setiap hari cintanya menyala-nyala. Dan, bersamaan dengan itu, nabi mengunjunginya sebagai wujud apresiasi terhadap cintanya yang membara. Ja’far bin Husain tentu sangat berharap besar akan syafaat nabi. Sebab, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasibnya kelak di hapadan Allah kalau bukan Nabi Muhammad?
“Aku adalah baginda anak cucu Adam. Dan ini bukan kesombongan. Aku adalah manusia pertama yang bangkit dari kubur, orang pertama yang memberi syafaat, dan orang pertama yang dikabulkan syafaatnya.” Demikianlah nabi bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim. Maka, syair yang digubah Ja’far bin Husain adalah sebentuk “surat permohonan” agar nabi mau memberikan pertolongan di hadapan Allah kelak di hari kesaksian.
            Mencintai nabi tentu tidak hanya sekedar untaian kata-kata, baik yang diucapkan maupun yang ditulis dalam bentuk syair-syair indah. Mencintai nabi berarti mengikuti atau meneladani akhlaknya yang mulia serta berkomitmen untuk menjalankan apa yang telah diajarkannya. Ja’far bin Husain pun demikian. Apa yang telah ia tulis dalam bentuk syair hanyalah ungkapan verbal dari gelora cinta yang menyala-nyala kepada Rasulullah.  

0 komentar: