04 Juni 2015

Penyair yang Tergoda Menerbitkan Antologi Puisi


  

Barangkali merupakan sebuah kebanggaan tersendiri ketika seorang penyair menerbitkan buku antologi puisi, lalu dilaunching, dibedah, didiskusikan, diperbincangkan oleh khalayak ramai. Apalagi bagi penyair pemula yang baru menyusuri kesunyian puisi, menerbitkan antologi puisi seperti menjadi pencapaian tersendiri: sebuah kebanggaan tentang identitas kepenyairannya setidaknya telah diakui.
Komunitas Sastra Rudal pada akhir bulan Januari silam, pernah menggelar sebuah diskusi rutin bertajuk “Fenomena Penyair Pemula”. Semacam refleksi menyikapi fenomena penyair pemula yang kini lebih terobsesi memiliki karya dalam bentuk antologi, daripada berproses sungguh-sungguh, sehingga lahir karya yang benar-benar  berkualitas. Tema diskusi itu sebenarnya juga pernah dibahas di Lesehan Sastra Kutub setahun yang silam.
Apa yang diperbicangkan dalam diskusi sederhana itu saya kira juga menjadi bahan perbincangan di jagat kesusastraan negeri ini, di forum-forum penyair nusantara, di meja-meja para kritikus sastra. Sebuah refleksi yang saya kira terdorong atas nama semangat berkarya, semangat berproses, semacam keprihatinan demi lahirnya sebuah kualitas.
***
Apa yang kita bayangkan ketika seorang penyair pemula, yang baru seumur jagung bersinggungan dengan puisi, lalu menerbitkan antologi? Apa yang kita bayangkan ketika seorang penyair yang masih pemula tiba-tiba datang ke forum-forum sastra dengan menunjukkan dua hingga tiga antologi puisi yang konon diterbitkan sendiri, dengan biaya sendiri, dan penerbit sendiri? Fenomena ini seolah menjadi trend di kalangan penyair pemula, semata demi menabalkan identitas kepenyairan mereka.
Penyair pemula selalu identik dengan keinginan yang menggebu-gebu, yang terdorong oleh perasaan bahwa dengan menerbitkan antologi puisi (tunggal) berarti jalan kepenyairannya telah “diakui”. Menerbitkan antologi puisi sendiri, dibiayai sendiri, kemudian dijual sendiri mungkin terkesan penuh sensasi: sebuah kebanggaan yang justru membunuh kariernya sendiri. Bukankah menjadi penyair itu harus bersiap sedia menyusuri lorong-lorong kesunyian, juga kesetian dan kesabaran dalam berkarya? 
Penyair pemula memang selalu tergoda menerbitkan buku antologi puisi. Baru dua hingga tiga kali nampang di koran/majalah sudah berani menerbitkan buku antologi puisi; baru dua hingga tiga tahun menekuni dunia sastra sudah merasa pantas dan puas. Di kampus-kampus di Jogja, atau di komunitas-komunitas sastra luar kampus, saya melihat bagaimana anak-anak muda begitu terobsesi mengantologikan puisinya. Memang, tidak ada “syarat khusus” kapan seorang penyair disebut “pantas” menerbitkan antologi puisi. Tidak ada ukurannya, kecuali “kualitas karya” yang tentu saja ditempuh dengan proses yang berdarah-darah, yang tidak instan.
Menerbitkan antologi puisi dengan pertimbangan “cepat terkenal”, di mana produktifitas menjadi acuannya, tentu merupakan bagian dari proses yang kurang dewasa. Sebagian orang mungkin tidak akan sepakat dengan pendapat ini. Lebih-lebih menulis dan menerbitkan itu adalah hak setiap penulis, sebuah rangkaian proses kreatif yang harus diapresiasi. Tetapi tulisan ini bukanlah sebentuk penghakiman, hanya sebatas pandangan sederhana yang didasarkan atas kepedulian tentang pentingnya kesabaran dalam berproses, tentang langkah-langkah besar yang harus dikejar tanpa sedikitpun tergoda untuk cepat terkenal.       
Bukankah semangat yang menggebu-gebu kadang menjadi penanda matinya karier seseorang?  Membaca fenomena itulah saya kira penting bagi siapa saja khususnya di Jogja yang memulai petualangannya di rimba kepenyairan untuk bercermin dan mengambil spirit penyair-penyair muda yang memiliki proses panjang, yang tak cepat puas dengan pencapaiannya. Sosok-sosok macam An. Ismanto, Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Ahmad Muchlis Amrin – untuk menyebut beberapa contoh – adalah penyair-penyair yang memilih “setia berproses” dan tak pernah “merasa puas”, sehingga tidak tergoda untuk cepat-cepat bikin antologi puisi sendiri (kecuali antologi bersama). 
***
Mengabadikan karya dalam bentuk buku adalah impian setiap penulis, tidak terkecuali seorang penyair. Tapi, sikap tergesa-gesa untuk memiliki antologi sendiri dengan harapan bisa dilaunching dengan sangat meriah dan terkenal, padahal puisi-puisinya tergolong biasa dan bahkan miskin penghayatan, tentu merupakan langkah “bunuh diri”.
Menerbitkan antologi puisi seringkali menjadi penanda bagi jalan kepenyairan seseorang. Antologi yang “asal jadi” tentulah bisa diprediksi bagaimana nasib karya itu di tengah-tengah pembaca dan penikmat sastra.  Coba kita baca kembali petualangant sosok-sosok macam Goenawan Moehamad (GM), Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna – untuk menyebut beberapa contoh – yang “tak terusik” oleh keinginan menggebu-gebu untuk mengantologikan karya (puisi) di awal-awal jalan kepenyairan mereka.
Sebutlah GM, misalnya, yang memiliki perjalanan panjang sebelum antologi Parikesit (1969) diterbitkan, yang kemudian diikuti karya-karya berikutnya yang diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa. Atau, proses panjang Sapardi sebelum DukaMu Abadi terbit di tahun 1969.
Jagat kesusastraan senantiasa menagih kesabaran berproses; jagat kepenyairan senantiasa menagih kesetiaan dalam berkarya. Itulah sebabnya, dapat dipahami kenapa seorang penyair kadang menerbitkan antologi puisinya setelah begitu lama berproses. Bukan karena tidak percaya diri. Tidak. Justru mereka memiliki kepercayaan berlipat-lipat setelah mengendapkan karya-karya mereka, melakukan pembacaan ulang, penghayatan yang terus berulang. Tanpa henti. Sebab puisi memang bukan karya “cepat saji”.

sumber gambar: www.jogjapages.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar