Karen Amstrong

Ketidakpuasan” akan eksistensi Tuhan kadang dimulai dari perenungan-perenungan ihwal sesuatu (doktrin) yang “irrasional”. Meskipun Tuhan tak akan pernah dipahami (hanya) oleh logika manusia yang terbatas, namun karakter seorang pencari selalu berusaha memahami sejauh akal mampu menjangkau untuk memantapkan iman atau kepercayaan.

Pengalaman itulah yang pernah dijalani Karen Amstrong. Terlahir sebagai seorang Katolik Roma pada 14 November 1944, Karen pernah menjadi biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Pengalaman yang ditempuh pada 1962 hingga 1969 ini bukannya semakin menguatkan keimanannya sebagaimana yang dialami biarawati pada umumnya. Tapi malah membuat hati dan pikirannya goyah. Bahkan, menurut pengakuannya dalam Melintas Gerbang Sempit (2003), ia tak kunjung menemukan sesuatu yang disebut “Tuhan” di dalam biara.

Menjadi biarawati memang sebuah pilihan. Dan Karen sudah memantapkan pilihannya itu sejak berusia 17 tahun. Kultur biara yang ketat, membatasi kebebasan berpikir, dan anti-kritik membuat Karen selalu berpikir untuk keluar dari biara. Tuhan yang ingin dia layani tak ditemukan selain setumpuk dogma kaku yang ekslusif.

Dalam pengakuan jujurnya, Karen bercerita tentang hukuman yang pernah dijatuhkan kepada dirinya. Hukuman dijatuhkan setelah Karen dianggap telah melanggar aturan kesunyian biara. Tanpa boleh bertanya, Karen harus menebusnya dengan berlutut, merangkak, merayap di bawah kaki meja dan mencium semua kaki biarawati yang ada di sebuah ruang makan. Nyaris setiap hari Karen selalu menemukan fakta yang membuat nalar kritisnya selalu bertanya-tanya ihwal Tuhan dan ajaran-ajaranNya yang susah diterima. Pernah suatu ketika Karen ditugas memimpin pengakuan dosa sekelompok anak Sekolah Minggu. Meski Karen menjalani tugas “aneh” itu, ia tetap merasa bersalah karena, menurutnya, bagaimana mungkin anak-anak memahami konsepsi dosa dan bersalah.

Dengan demikian, keinginan untuk meninggalkan biarawati semakin mengguat. Setumpuk pertanyaan semakin menggumpal. Karen selalu sanksi dengan doktrin kebangkitan kembali Yesus, kepercayaan kristiani bahwa Bunda Maria hamil tanpa “dosa asal”, dan lain sebagainya. Seiring dengan ketidapuasannya terhadap doktrin-doktrin itulah keinginan Karen untuk meninggalkan biara seperti tidak bisa ditahan lagi. Maka, ia pun bergegas melakukan pencarian yang lebih menantang dan memuaskan. Karen keluar dari biara dengan membawa sejumlah pertanyaan seputar ketuhanan yang masih menjadi “PR” baginya. Karena itulah Karen belajar dan meneliti sejarah serta tradisi-tradisi agama ibrahimi (Yahudi, Kristen dan Islam) semata untuk mencari titik-titik persamaan serta perbedaan yang membuat tiga agama besar itu “tidak akur” sepanjang sejarah.  Padahal, menurut Karen, tiga agama besar itu memiliki titik hubung di mana Tuhan dan ajaranNya sama, yakni cinta kasih.

Dalam penelitiannya terhadap tiga agama tadi, Karen seperti menemukan babak baru dalam hidupnya. Pengalaman pahitnya ketika masih menjadi biarawati memang membekas. Tapi Karen tidak lantas meninggalkan agama. Sebab dalam proses mencari Tuhan, agama masih menjadi instrumen yang kuat.
 
Itulah sebabnya Karen sangat tertarik menulis tentang Sejarah Tuhan.Dalam perkembangan selanjutnya, Karen semakin tertarik menulis tentang agama-agama. Sehingga tidak heran jika ia disebut sebagai pakar agama-agama yang telah banyak menulis buku. Dalam menggambarkan tentang keyakinannya, Karen pernah berkata, “Biasanya saya menggambarkan diri saya, mungkin dengan bercanda, sebagai seorang monoteis freelance (bebas). Saya menggali sumber keyakinan saya dari ketiga-tiga iman Abraham. Saya tidak dapat melihat salah satu daripadanya memiliki monopoli terhadap kebenaran, masing-masing daripadanya mempunyai keunggulan dibandingkan yang lainnya. Masing-masing mempunyai geniusnya sendiri dan masing-masing mempunyai kelemahan dan tumit Achillesnya sendiri. Tetapi baru-baru ini saya menulis tentang kehidupan singkat (cerita) dari Sang Buddha, dan saya merasa terpesona oleh apa yang dikatakan beliau tentang spiritualitas, tentang yang ultima (yang tertinggi, terpenting), tentang welas asih dan tentang perlunya membuang ego sebelum kita dapat berjumpa dengan yang ilahi. Dan, menurut pandangan saya, semua tradisi besar mengatakan hal yang sama dalam cara yang lebih kurang sama, meskipun dari permukaan tampak mereka berbeda-beda.”

Mendalami sejarah dan ajaran agama-agama bagi Karen merupakan sebentuk keniscayaan. Sebab ketika masih menjalani hari-harinya di biara, Karen tidak bisa mengekspresikan dengan bebas pandangan-pandangannya tentang Tuhan. Batinnya tersiksa dan pikirannya terpasung. Maka, belajar dan mendalami teologi bagi karen seperti menjadi anugerah terindah karena di dalamnya bersinggungan dengan tiga tradisi besar agama ibrahimi.

0 komentar: