Pembantaian di Tanah Karbala


“Jikalau ragu diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik ketimbang mati di atas ranjang.”
(Husein bin Ali ra)

Peperangan tidak pernah berhenti. Darah tercecer di mana-mana. Kekejaman merajalela. Semua sama-sama memekikkan kalimat kebenaran. Ya, begitulah situasi pasca Rasulullah Saw. wafat, terlebih saat keempat khalifah sesudah beliau meninggal: Utsman bin Affan mati dibunuh, demikian juga dengan Ali bin Abi Thalib yang dibunuh dengan cukup tragis.

Ketika Bani Umayah menancapkan tonggak kepemimpinan, peperangan belum juga usai. Fitnah, adu domba, dan keculasan politik mewarnai situasi umat Islam saat itu. Hingga pembantaian sesama umat Muhammad seakan-akan menjadi pemandangan yang  lazim.

Mungkin kita masih ingat pada sosok Imam Husein yang tak lain adalah cucu kesayangan Rasulullah itu. Ya, Husein mati dengan kepala dipenggal, diseret, dipamerkan di mana-mana. Peristiwa menyedihkan sepanjang sejarah peperangan umat Islam itu terjadi pada saat tampuk kepemimpinan Bani Umayah jatuh di tangan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa pembantaian itu dikenal dengan “tragedi karbala”. Di Karbala, kepala Husein seperti mainan bola anak-anak kecil, ditendang, dicincang, diseret dengan penuh penghinaan.

Muawiyah telah meniupkan api permusuhan dengan sistem politik yang culas. Muawiyah telah menyalahi janjinya sendiri kepada Husein untuk bergantian menjadi pemimpin sebagai wujud kesepakatan berakhirnya peperangan. Muawiyah malah memberikan kekuasaannya kepada Yazid yang tak lain adalah anaknya sendiri. Mendengar permaianan politik seperti itu, Husein sama sekali tidak cemburu, kecuali ia hanya ingin membebaskan masyarakat Islam dari pemimpin yang hipokrit dan sewenang-wenang. 
 
Yazid memang dikenal dengan dengan sikapnya yang brutal, egois, dan penuh kesewenang-wenangan. Yazid cukup terganggu dengan sosok Husein yang masih dielu-elukan dan memiliki pengaruh yang cukup kuat khususnya di Kufah. Itulah sebabnya, ia mengirimkan sebuah surat pada Husein yang berisi dua opsi: bergabung atau mati.
 
Tentu saja Husein tak gentar dengan pilihan yang diberikan Yazid. Baginya, “Jikalau ragu diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik ketimbang mati di atas ranjang.” Husein, bersama bala tentaranya yang setia dengan ajaran-ajaran Rasulullah, tak pernah takut dengan ancaman Yazid dengan pasukannya itu. Menyongsong kematian bagi Husein adalah tugas mulia, di mana Allah dan para malalikatNya akan menyambutnya dengan belaian kasih sayang. Itulah sebabnya, Husein tetap memantapkan hati untuk bergerak maju melawan Yazid. Husein sendiri seperti sudah mencium amis darah kematiannya.

Sakinah, puteri tercinta Husein, pernah menceritakan tentang hal itu menjelang detik-detik pembantaian Karbala. “Dari dalam tenda aku mendengar suara seseorang tersedu menangis sehingga aku keluar tanpa sepengetahuan siapa pun,” ujar Sakinah memulai ceritanya.
 
Sakinah melanjutkan, “Aku mendatangi ayahku, dan ternyata ayahkulah yang menangis di depan para sahabatnya. Kepada mereka ayahku berkata: ‘Kalian telah keluar bersamaku, dan kalian berpikir aku pergi kepada suatu umat yangakan membaiatku dengan lisan dan hati yang tulus. Namun umat itu sekarang sudah berubah, setan telah memperdayai mereka, mereka melupakan Allah, yang terpikir di benak mereka sekarang terbunuhnya aku dan orang-orang yang bersamaku untuk berjihad di jalanku serta tertawannya kaum wanita dan anak -anakku. Yang aku khawatirkan sekarang ialah jangan-jangan kalian tidak tahu apakah akibat dari apa yang kita lakukan ini. Oleh sebab itu, sekarang aku bebaskan kalian untuk pergi mengurungkan perjalanan ini jika kalian kecewa terhadap perjalanan ini. Sedangkan untuk kalian yang masih ingin siap berkorban bersamaku, ketahuilah bahwa penderitaan ini akan diganti kelak dengan gemerlapnya surga. Ketahuilah bahwa kakekku Rasulullah pernah berdabda: “Puteraku Husain akan terbunuh di padang Karbala dalam keadaan terasing seorang diri. Barangsiapa yang menolongnya, maka dia telah menolongku, dan barangsiapa yang menolongku, maka dia menolong putera keturunan Husein, yaitu Al-Qaim dari keluarga Muhammad, dan barang siapa yang menolong kami, maka pada hari kiamat nanti dia akan dimasukkan kedalam golonganku.”
 
Menurut penuturan Sakinah, setelah Husein menuturkan bahwa ia akan terbunuh di Karbala, banyak di antara pengikutnya yang semuala setia memilih pergi, memisahkan diri. Yang tersisa hanya sekitar 70-an.
Gentarkah Husein? Tidak! Ia benar-benar menyosong kematiannya dengan gagah. Ia maju ke medan perang ketika pasukan yang dikomandani Ibnu Saad mengepung dengan sangat dominan. Di kamp musuh yang sangat berbahaya, Husein tak pernah mundur sejengkal pun. Ia langkahkan kakinya dengan penuh keberanian sembari menyenandungkan bait-bait perlawanan:

Akulah Husein putra Ali
Untuk tunduk, aku tak kan sudi
Kubela keluarga ayahku sampai mati
Aku memegang teguh agama Nabi

Husein tetap tegar meskipun anak-anaknya dibantai. Ia tersenyum karena keabadian telah menunggu keluarganya yang mati syahid membela agama Allah. Keberanian itulah yang tak pelak membuat bumi yang diinjak Ibnu Saad seakan bergoyang. Ibnu Saad seperti keteteran menahan ketakutan yang dia sembunyikan. “Ingat, Husein adalah putra Ali yang akan menjungkalkan semua jawara Arab. Karena itu kepung dia dari segala penjuru!” demikian Ibnu Saad berseru.
 
Husein terkepung. Sekian tombak dan anak panah mengarah padanya. Kepada pasukan musuh Husein menggertak, “Wahai para budak Abu Sufyan, jika kalian tidak beragama dan tidak percaya akan hari akhirat, jadilah orang yang bebas dan merdeka.”
 
Gertakan Husein itu dijawab oleh Syimr, “Apa yang kau inginkan, hei anak Fathimah?” 

“Akulah yang berperang dengan kalian, bukan wanita-wanita itu. Selama aku masih hidup jangan sekali-kali kalian mendekati mereka,” jawab Husein.
 
Husein benar-benar pemberani. Meskipun amis darah kematiannya sudah dicium, dia tidak lantas menyerah. Kezaliman harus ditumpas dan kebenaran harus ditegakkan. Husein mengorbankan raga dan jiwanya bukan atas dasar kebencian. Tapi karena ia cinta pada umat Islam saat itu, tidak tega jika mereka dipimpin oleh sekelompok orang yang culas, hipokrit, dan melanggar ketentuan Allah dan RasulNya.  

Melihat semangat Husein yang berkobar-kobar, Ibnu Saad mengingatkan pasukannya, “Serang dan habisi dia. Jika tidak, dia pasti akan mengobrak-abrik barisan kalian.” 

Pasukan yang dipimpin Ibnu Saad itu tak ragu lagi melepas panah dan tombak ke arah Husein. Tubuh cucu nabi itu terluka. Darah mengucur. Beberapa anak panah dan tombak mengenai tubuh beliau. Husein tetap bangkit meski tubuhnya berlumuran darah. Sesekali di bibirnya tercupa senandung dzikir. 

Pasukan yang berhasil melumpuhkan tubuh Husein itu berteriak histeris sembari mengejek, “Lihatlah sungai yang tampak segar itu, Husein. Tapi sayangnya, engkau tidak akan pernah merasakan air Furat sampai mati kehausan.”
 
Pasukan musuh belum puas melihat penderitaan Husein. Abul Hunuq Al-Ju’fi melemparkan panah dan tepat di dahi Husein. Tapi Husein masih tegar meski sudah tidak sekuat sebelumnya. Ia cabut panah yang menancap di dahinya. Darah mengucur deras. Husein menahan rasa sakit yang tak terperikan itu dengan senandung dzikir yang tak pernah absen di bibirnya: “Betapa buruknya perlakukan kalian terhadap keluarga nabi kalian sendiri. Demi Allah, aku selalu mengharapkan kemuliaan syahadah. Allah-lah yang kelak akan menuntut balas darahku dengan cara yang tidak kalian duga sama sekali.”
 
Ibnu Umar menyela, “Bagaimana Tuhan akan menuntut balas darahmu dari kami?”

“Allah akan menghukum kalian dengan kejahatan di antara kalian sendiri. Saat itulah, Dia akan menurunkan azab-Nya atas kalian,” jawab Husein.
 
Husein memang sangat menderita. Siksaan bertubi-tubi datang menimpanya. Ini perang yang sangat kejam, pembantaian yang sungguh tak termaafkan. Ya, setelah anak panah mengenai dahinya, Husein masih dilempari batu. Wajahnya nyaris roboh. Darah terus mengalir melumuri tubuhnya. Sesaat setelah itu, anak pahah kembali menancap, kali ini di dadanya.
 
Karbala menjadi saksi pembantaian bertubi-tubi itu. Hani bin Tsabit pernah mengisahkan ihwal penderitaan Husein sebelum akhirnya kepala putra Ali itu dipenggal. “Ketika Husein terduduk, aku menyaksikan sekelompok prajurit Kufah datang menyerang dan mengepungnya. Tiba-tiba Abdullah bin Hasan, yang masih sangat belia datang untuk membela pamannya. Saat Bahr bin Ka’ab hendak memukulkan pedangnya ke arah Husein Abdullah berseru, ‘Hei anak wanita jalang, Apa yang hendak kau perbuat terhadap pamanku?” Bahr berpaling dari Imam dan melayangkan pukulan pedangnya ke arah Abdullah. Bocah cucu nabi itu menangkis pukulan Bahr dengan tangannya. Tak ayal, tangan kecil itu pun terbabat dan terlepas dari tubuh Abdullah. Abdullah menjerit histeris, “Paman, mereka memotong tanganku.” Imam Husein mendekap keponakannya itu dan mengiburnya, “Bersabarlah, karena sebentar lagi Allah akan mempertemukanmu dengan ayah dan kakekmu yang shaleh.” Tiba-tiba Harmalah bin Kahil membidikkan panahnya ke arah Abdullah. Abdullah gugur di pangkuan Husein, pamannya sendiri.  

Inilah perang sesama muslim yang penuh dengan pembantaian-pembantaian kejam, menghina kemanusiaan, mempertontonkan nafsu keangkaramurkaan. Ketika Husein tergeletak tak berdaya, pasukan musuh masih saja menyerangnya. Mereka membantai semau-mau mereka, sesuka nafsu mereka.
 
“Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi dia,” sergah Syimr bin Dzil Jausyan yang ingin melihat Husein mati tercabik-cabik.
 
Kemudian Zar’ah bin Syuraik maju. Ia memberanikan diri untuk menghabisi cucu kesayangan nabi itu. Dipukullah pundak kiri Husein dengan pedang yang sangat tajam. Seorang lagi maju membidikkan anak panahnya ke tenggorokan beliau. Ada juga yang mengayunkan pedang ke leher Husein. Sinan bin Anas juga tidak tinggal diam. Ditusuknya dada Husein hingga putra Ali itu benar-benar tergolek tak berdaya.
 
Rupanya pasukan musuh benar-benar tidak puas. Mereka menginginkan Husein dibunuh dengan cara yang sangat kejam. “Habisi Husein secepat mungkin,” sergah Ibnu Saad kepada pasukannya. Tanpa ragu lagi, Syimr bin Dzil Jausyan maju untuk memenggal kepala Husein. Pasukan musuh bersorak gembira merayakan kemenangan.
 
Mereka girang, seakan mengakhiri peperangan dengan penuh keberhasilan, di mana kepala cucu Rasulullah dicincang, ditendang bagai bola mainan. Tanah Karbala menagis oleh pembantaian yang sungguh sangat kejam.
 
Husein benar-benar menyongsong kematiannya dengan gagah, dengan kesungguhan membela kebenaran di tengah keculasan politik yang kian suram. Ia tak pernah mundur meski amis darah kematiannya sudah tercium!
 

0 komentar: