Membongkar doktrin-doktrin agama yang bias, yang selalu menomorduakan perempuan, adalah ciri khas dari pemikiran Amina Wadud Muhsin. Tokoh feminis muslimah yang lahir di Amerika pada tahun 1952 ini selalu menyeruakan pentingnya kesetaraan gender. Menurut Amina, Perempuan harus keluar dari kungkungan doktrin agama yang (sengaja) dikonstruk oleh para mufassir secara bias. Sebab jika tidak, perempuan akan bernasib sama dengan masa jahiliyah dahulu kala.
Itulah sebabnya, Amina tidak pernah lelah mengkaji al-Qur’an dengan penafsiran yang kontekstual. Sebab tidak sedikit dari tangan-tangan penafsir abad dahulu yang memosisikan perempuan sebagai makhluk nomor dua. Untuk menguatkan argumentasinya itu, mereka selalu menjadikan agama sebagai legitimasi. Di tengah situasi seperti ini, sebagai tokoh feminis tentu Amina tidak tinggal diam. Ia menggugat lewat sejumlah tulisan. Tafsir-tafsir feminis-kontekstual ia jadikan sebagai fokus kajian. Maka lahirlah Qur’an and Women sebagai bentuk karya yang “mengkampanyekan” kembali nilai-nilai keadilan bagi perempuan.
Apa yang dilakukan Amina bukan tanpa risiko. Sebagaimana pemikir-pemikir liberal pada umumnya, Amina dihujat, dimaki dan dianggap sebagai pemikir sesat yang membahayakan akidah umat Islam. Tuduhan itu berlanjut dan bahkan kian memanas ketika Amina dengan berani mengimami shalat jama’at Jum’at di sebuah gereja Anglikan the Synod House of Cathedral of St John the Define di New York.
Itulah sebabnya, Amina tidak pernah lelah mengkaji al-Qur’an dengan penafsiran yang kontekstual. Sebab tidak sedikit dari tangan-tangan penafsir abad dahulu yang memosisikan perempuan sebagai makhluk nomor dua. Untuk menguatkan argumentasinya itu, mereka selalu menjadikan agama sebagai legitimasi. Di tengah situasi seperti ini, sebagai tokoh feminis tentu Amina tidak tinggal diam. Ia menggugat lewat sejumlah tulisan. Tafsir-tafsir feminis-kontekstual ia jadikan sebagai fokus kajian. Maka lahirlah Qur’an and Women sebagai bentuk karya yang “mengkampanyekan” kembali nilai-nilai keadilan bagi perempuan.
Apa yang dilakukan Amina bukan tanpa risiko. Sebagaimana pemikir-pemikir liberal pada umumnya, Amina dihujat, dimaki dan dianggap sebagai pemikir sesat yang membahayakan akidah umat Islam. Tuduhan itu berlanjut dan bahkan kian memanas ketika Amina dengan berani mengimami shalat jama’at Jum’at di sebuah gereja Anglikan the Synod House of Cathedral of St John the Define di New York.
Amina sadar apa yang dilakukannya itu akan berbuah perdebatan panjang dan bahkan hujatan yang tak henti-henti. Bagaimana tidak, ia berani mengimami shalat di dengan makmum yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ia melakukannya di sebuah gereja. Tokoh feminis lainnya mungkin masih berpikir seribu kali meskipun dalam batas-batas tertentu shalat di gereja dibolehkan. Tapi, mungkin, Amina lebih berpikir bahwa apa yang selama ini menjadi keyakinannya sangat penting diaktualisasikan dan diekspresikan dalam bentuk laku. Apalagi posisi serta ruang gerak perempuan “terjepit” dalam himpitan tafsir-tafsir bias patriarkhi. Atau, mungkin, Amina punya misi tersendiri yang tak banyak diketahui oleh masyarakat muslim sehingga nekad melakukan hal-hal yang bersifat kontroversial. Apa yang dilakukan Amina sungguh bukanlah keputusan yang mudah dilakukan oleh kebanyakan orang.
Amina menginginkan adanya kesetaraan. Menurutnya, diskriminasi hak dan peran terhadap perempuan selama ini berasal dari pemahaman misoginis yang banyak diciptakan oleh kaum laki-laki. Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, bahkan termasuk dalam urusan ibadah.
Pemikiran-pemikiran Amina yang demikian kontroversial itu hingga saat ini masih menjadi perdebatan panjang. Meskipun bukan hal baru – karena kajian tentang kesetaraan gender sudah jauh sebelumnya berkembang – namun keberaniannya membongkar tafsir-tafsir patriarkhi patut diapresiasi. Sebagai guru besar pada Commonwealth University, Richmond Virginia, Amina selalu mendasari pikiran-pikirannya dengan prinsip dan keyakinan yang kuat. Meskipun badai kritik dan hujatan selalu menyerangnya, ia tetap kokoh pada pendiriannya untuk selalu memperjuangkan keadilan gender berdasarkan al-Qur’an dan sunnah nabi. Tafsir kontekstual dalam hubungannya dengan kehidupan perempuan sepertinya menjadi pekerjaan besar para mufassir kontemporer yang oleh Amina sendiri disuarakan dengan begitu lantang.
Amina masih berkeyakinan bahwa tafsir-tafsir patriarkhi yang bias cukup berpengaruh terhadap nasib perempuan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya rekonstruksi tafsir yang betul-betul adil dan tidak memihak. “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah maha mengenal dan maha mengetahui,” demikian bunyi salah satu ayat al-Qur’an dalam surat al-Hujarat yang diyakini oleh Amina memiliki makna universal dan tidak memosisikan laki-laki dan perempuan secara bias kecuali kualitas ketakwaannya kepada Allah.
Amina menginginkan adanya kesetaraan. Menurutnya, diskriminasi hak dan peran terhadap perempuan selama ini berasal dari pemahaman misoginis yang banyak diciptakan oleh kaum laki-laki. Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, bahkan termasuk dalam urusan ibadah.
Pemikiran-pemikiran Amina yang demikian kontroversial itu hingga saat ini masih menjadi perdebatan panjang. Meskipun bukan hal baru – karena kajian tentang kesetaraan gender sudah jauh sebelumnya berkembang – namun keberaniannya membongkar tafsir-tafsir patriarkhi patut diapresiasi. Sebagai guru besar pada Commonwealth University, Richmond Virginia, Amina selalu mendasari pikiran-pikirannya dengan prinsip dan keyakinan yang kuat. Meskipun badai kritik dan hujatan selalu menyerangnya, ia tetap kokoh pada pendiriannya untuk selalu memperjuangkan keadilan gender berdasarkan al-Qur’an dan sunnah nabi. Tafsir kontekstual dalam hubungannya dengan kehidupan perempuan sepertinya menjadi pekerjaan besar para mufassir kontemporer yang oleh Amina sendiri disuarakan dengan begitu lantang.
Amina masih berkeyakinan bahwa tafsir-tafsir patriarkhi yang bias cukup berpengaruh terhadap nasib perempuan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya rekonstruksi tafsir yang betul-betul adil dan tidak memihak. “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah maha mengenal dan maha mengetahui,” demikian bunyi salah satu ayat al-Qur’an dalam surat al-Hujarat yang diyakini oleh Amina memiliki makna universal dan tidak memosisikan laki-laki dan perempuan secara bias kecuali kualitas ketakwaannya kepada Allah.

0 komentar:
Posting Komentar