Bis

[sekedar berbagi cerita]

“Perjalanan yang ditempuh  tanpa peta yang jelas, hanya akan memakan waktu yang cukup lama. Itu pun jika sampai,” kata seorang kawan menasihatiku.

Dalam sebuah perjalanan, bekal saja tak cukup dijadikan sandaran. Ia juga harus berpikir tentang efektifitas waktu, tentang obyek yang dituju, dan yang tak kalah penting ialah komunikasi dengan orang-orang yang sudah pengalaman. 

Pagi itu, di penghujung Mei 2013, aku seperti pejalan yang kehilangan arah. Buta peta. Aku juga seperti orang yang tidak mengerti – lebih tepatnya tidak mempersiapkan dengan matang – hal-ihwal perjalanan itu sendiri. Sehingga seolah-olah aku mengabaikan begitu saja tentang pentingnya efektivitas waktu, tentang pentingnya mencapai tujuan dengan cepat.
 
Di hari yang sial itu, aku ingin menghadiri acara KPI’S Day for Communication Expo yang diadakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Walisongo Semarang. Bekal-bekal dalam perjalanan sudah kubawa. Lengkap. Tapi aku tidak tahu posisi IAIN Walisongo itu di mana. Dan berapa lama waktu yang harus kutempuh. Aku memang tak banyak bertanya, baik kepada panitia acara maupun kepada kawan-kawanku di Jogja. Aku hanya mengira-ngira saja. Hanya mengandalkan keyakinan.

“Bismillah. Yakin. Pasti sampai, kok. Jogja-Magelang-Semarang sekitar 3 jam lah,” kataku dalam hati.

Sekitar pukul 08.45 aku berangkat dari kos menuju Terminal Giwangan. Kulihat deretan bis luar kota dengan penumpangnya sudah mulai membludak. Tapi jalur Jogja-Semarang, yang berada di utara terminal, terlihat agak sepi. Aku masih santai-santai duduk sambil ngerokok. Sekitar 5 menit kemudian awak bis seperti memberi aba-aba bahwa sebentar lagi jurusan Jogja-Semarang akan berangkat. Kubuang saja rokok yang baru kusulut itu meski masih lumayan panjang.
Bis berangkat menuju Semarang...

***
 
Mataku terasa berat. Sesekali menguap. Ngantuk. Semalam aku memang lembur. Bukan kerja, tapi nonton bola.
 
Bis yang kutumpangi masih mutar ring-road. Tapi mataku sudah tak bisa diajak kompromi. Begitulah memang kebiasaanku saat berada dalam bis: mudah ngantuk!
 
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
 
Lagu Someoe Like You-nya Adele yang kuputar dengan headset itu volumenya seperti makin mengecil. Panorama alam yang terbentang sepanjang perjalanan seolah menghilang pelan-pelan. Mataku terasa berat. Dan aku pun tertidur. 

Di tengah perjalanan, saat penumpang-penumpang baru mulai masuk, aku terbangun. Tembang Adele sudah berganti Kamulah Satu-Satu-nya Dewa19. Kulihat layar hp. Ada sms masuk. “Mas, acara sudah mau mulai. Jenengan sampai mana?”

Astaga! Aku tidak tahu ini di mana. Masih sampai daerah mana. Mataku mulai sehat melihat kanan-kiri. Masyaallah. Ini masih Magelang. Mungkin masih sekitar 1 jam setengah lagi ke Semarang. Alamaaaaak. Bis apa yang kutumpangi ini. Kok pelan sekali jalannya. Tapi ini bukan salah bisnya. Bukan salah kondekturnya. Juga sopirnya. Bukan. Tentu saja aku tak pantas menyalahkan mereka. Ini jelas salahku.
 
Oh my god! Mestinya aku berangkat sebelum jam 08.00 pagi. Perjalanan Jogja-Semarang memang sekitar 3 jam. Tapi itu jika tidak macet. Tapi kenapa aku berangkat jam 08.45? Bukankah pembukaan acaranya setelah azan dhuhur, tepatnya jam 12.30?

Dengan agak kesal kubalas sms itu “Ya, masih di jalan. Nanti kalau sampai kukabari”.
Mendadak aku seperti orang yang linglung. Bingung. Aku baru sadar ternyata aku terlambat. Terminal Magelang belum juga tampak. Nyaris aku memutuskan untuk pindah bis. Tapi niat itu kugagalkan. Ya, Tuhan...acara sudah mulai dan aku masih jauh di perjalanan.

Jarum jam menunjuk angka 13.15 di layar hp-ku. Pelan-pelan bis masuk ke Terminal Terboyo. Tukang ojek dan sopir taxi kulihat saling berdesakan menawarkan jasa. Aku turun dari bis tanpa menghiraukan mereka. Aku berjalan sambil melihat kanan-kiri, melihat kerumunan orang-orang, barangkali di antara mereka ada salah satu panitia acara yang menunggu untuk menjemputku. 

Sambil menunggu jemputan, aku beli minuman sambil menghisap dua hingga tiga batang rokok.  Sosok panitia yang semalam sms untuk jemput aku masih tak terlihat. Katanya sih pakai jas almamater. Tapi belum juga muncul.
 
Hp-ku berdering lagi. Ada panggilan masuk. Sebelum kuangkat, tiba-tiba dari jarak yang tidak jauh ada suara memanggil-manggilku, “Mas, Mas...yang dari Jogja, kan?” Kuanggukkan kepala sambil kubawa barang bawaanku menuju laki-laki berambut kriting yang sangat rapi memakai almamater IAIN Walisongo itu.    
Akhirnya aku berangkat menuju kampus IAIN. Tak banyak yang diobrolkan di jalan. Acara mungkin sudah lama berjalan. Dan, jujur aku sangat sungkan.

***

Sudah berbulan-bulan kisah itu menjadi kenangan tersendiri. Ada semacam pelajaran yang sangat berharga. Mungkin pengalaman itu bukan yang pertama. Aku juga pernah salah naik jurusan. Pernah juga menunggu bis berjam-jam karena salah tempat.
 
Selama menetap di Jogja sejak tahun 2005, aku sering memiliki kisah-kisah yang unik terkait “perjalanan naik bis”, yang sangat menjengkelkan sekaligus menyenangkan. Jengkel karena ada hal-hal bodoh yang kulakukan dan itu sangat merugikan. Senang karena pada akhirnya aku bisa memetik hikmah di balik pengalaman itu.
 
Tapi ada satu hal yang sangat kusesali terkait pengalaman-pengalaman itu. Aku tidak menuliskannya dalam sebuah catatan khusus. Ya, pengalaman-pengalaman itu kubiarkan begitu saja. Mestinya kutulis dan kuarsip dalam dokumen pribadiku. Mestinya kurekam dalam catatan-catatan panjang tentang perjalanan. Tapi aku tak punya catatan sama sekali selain mengingatnya dan menceritakannya dalam sebuah obrolan panjang bersama kawan-kawanku.
 
Barulah di awal bulan Juni 2013 yang silam, saat bertemu dengan M. Faizi (penyair yang hoby naik bis), aku sadar betapa pentingnya menulis sebuah catatan perjalanan. Khususnya perjalanan naik-turun bis. Karena ke mana-mana naik bis, termasuk saat mudik ke kampung halaman, mestinya aku menuliskannya ke dalam buku catatan khusus. Paling tidak merekam hal-ihwal penumpang, kisah sopir yang suka ngebut, kondektur yang cerewet, dan lain sebagainya. Bagi seorang penulis, tentu saja catatan-catatan mengenai hal itu sangat menarik direkam dan dikemas dalam bentuk tulisan yang unik, entah puisi atau cerita dengan genre yang baru.
 
Pertemuanku dengan M. Faizi terjadi pagi hari, tepatnya tanggal 7 Juni 2013, di sebuah warung kopi Mato dekat Selokan Mataram. Pertemuan ini entah yang keberapa kalinya. Tapi pertemuan ini terbilang unik. Tak disengaja. Saat itu, bersama Najamuddin Muhammad (Naja panggilan favoritnya), aku berangkat pagi-pagi ke Mato. Begitu sampai di halaman parkir, aku lihat M. Faizi duduk ditemani seorang kawan (Faqih Mahfudz), di lesehan utara dengan secangkir kopi khas Mato.
 
Akhirnya aku dan Naja ikut bergabung. Lama kita ngobrol. Dari soal “hp kuno” hingga cerita-cerita lucu khas Madura; dari soal facebook hingga twitter;  dari soal cerita tentang An-Nuqayah hingga cerita “mobil unik” yang fenomenal.

Nyaris tiga sampai empat jam kita ngobrol di Mato. Asbak terlihat sudah penuh dengan puntung Marlboro dan 76. Di tengah obrolan yang mengasyikkan itulah Faizi mengeluarkan sebuah buku untukku: Beauty and The Bus. Buku dengan ukuran kecil ini ditulis sendiri oleh Faizi. Diterbitkan dengan biaya sendiri, di sebuah penerbit Surabaya: Ampera Media.

Buku ini berisi kumpulan kisah perjalanan naik-turun bis. Barangkali buku ini yang pertama memotret tidak saja pengalaman-pengalaman dalam perjalanan naik bis, tapi juga menceritakan fenomena bis itu sendiri: mulai dari nama bis, jumlah kursi, nomor polisi, kecanggihan mesinnya, dan lain sebagainya. Aku cukup kaget membaca buku ini karena di samping mencantumkan catatan tanggal-bulan-tahun di setiap cerita, sang penulis juga merilis nama-nama bis yang ditumpanginya: Jaya Mulya, Akas, Eka, Nusantara, Jaya Utama, Karina, dan lain sebagainya. Bahkan, beberapa nama sopir dan kondektur bis, oleh Faizi juga dicantumkan di beberapa bagian cerita. Mereka kerap diajak dialog.

Membaca catatan perjalanan Faizi dalam Beuty and The Bus ini membuatku bersemangat untuk “setia” memotret sebuah pengalaman, khususnya selama perjalanan naik bis. Bukankah pengalaman itu terasa bermakna ketika ditulis dalam sebuah catatan? Sesederhana dan sekonyol apa pun, sebuah catatan perjalanan selalu menghadirkan inspirasi. Semacam gairah untuk memungut hal-ihwal yang bagi kebanyakan orang dianggap remeh-temeh.

Sebagaimana dituturkan sendiri dalam buku ini, Faizi mulai suka menulis hal-ihwal tentang bis sejak masih muda. Semata karena didorong oleh rasa suka saja. Bahkan, ketika masih duduk di bangku SMP, ia pernah mencatat nama-nama bis (juga nama-nama truk) berdasarkan urutan alfabetis, dari A hingga Z. Jika ditanya kenapa mencatat nama-nama bis, jawabnya hanya suka saja. Tentu kebiasaan ini tergolong unik karena sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan orang. 

Karena itu, sebenarnya aku tidak heran jika kumpulan catatan perjalanan dalam buku ini sangat lengkap. Tidak hanya mengenai tanggal peristiwanya, tapi juga jumlah kursi tiap bis serta nomor polisinya begitu jelas. Dan, itu dikemas oleh Faizi dalam sebuah cerita yang mengasyikkan, yang kadang membuat kita tertawa sekaligus terpesona. Aku tidak heran mengingat ia memiliki kesukaan menulis tentang bis sejak masuh muda.

***
 
Setelah lama bolak-balik membaca catatan perjalanannya Faizi dalam buku ini, kemudian aku coba membuka kembali memori-memori tentang kisah perjalananku naik bis, mulai sejak pertama kali naik AKAS hingga Sumber Kencono yang sempat membuatku trauma. Tapi sampai saat ini aku masih bingung. Ya, aku bingung menuliskannya dengan sebuah genre yang tentu saja harus berbeda dengan yang ditulis orang lain, termasuk yang ditulis Faizi dalam buku ini.

1 komentar:

Raedu Basha mengatakan...

Hahaha... Ya, Yus...