- kepada 'tiga bung' yg slalu mengunjungiku
ALA ROA: menafakkuri jalan hidupmu berarti mencoba menziarahi hikayat para penyair bijak bestari, yang lolos dari sergapan catatan tempat tanggal bulan dan tahun kelahiran. Tapi ajaran kebijaksanaannya mengabadi – pada diri manusia yang mengerti. Segala bentuk kegelisahan sengaja kau hadirkan untuk menemani malam-malammu. Malam yang indah bagimu bukanlah malam yang terbebas dari segala yang murung. Lalu mereka yang secuil mengerti pengembaraanmu berbisik: “kenapa kau tak sudahi saja jalan hidupmu itu – atau coba memilih jalan yang lain – daripada menanggung duka derita hingga batinmu remuk ditikam gelisah”. Semakin mereka menggerutu, mengkhawatirkan ihwal pencarianmu, maka semakin liar kau menyulap kebahagiaan yang tersisa menjadi partikel-partikel kegelisahan yang bermakna.
---
RIDWAN: ada semacam pertanyaan besar yang selalu terpancar dari matamu kepada siapa pun yang hendak mendekat atau siapa pun yang kau dekati. Kau sejatinya tidak sedang meragukan ihwal kesetiaan seorang sahabat. Kau juga tidak sedang menyangsikan ihwal kemunafikan yang kadang keluar dari mulut mereka yang “sok bijak”. Tapi dari setiap musyawarah yang kita gelar, aku bisa mendengar jeritan batinmu yang lirih: “aku hanya ingin berguru pada mereka yang tidak culas, yang memiliki jiwa seluas samudera, yang tidak pernah menyimpan dendam kesumat, yang mampu mengajariku menulis puisi dengan darah…”. Kini aku paham jika matamu selalu melirik tajam; kini aku mengerti kenapa di samping kanan-kirimu tak henti-henti melempar iri; bahkan kini aku merasa puas menyimak pencarianmu yang tak pernah tuntas.
---
HILAL: soetomo memang tidak akan pernah dilahirkan kembali. Tapi pada sosokmu siapa pun tidak akan pernah menyangsikan ghiroh perjuangan yang selalu berkobar: di matamu aku melihat bendera merah putih itu berkibar dan kau menuliskan sebuah sajak di bawahnya tentang kegetiran, tentang cinta anak bangsa yang kian hilang. Tapi kau bukan pecundang. Kau hanya ingin berjuang tanpa harus dikenang. Karena setiap perjuangan – apa pun bentuknya – adalah panggilan nurani yang senantiasa menagih cinta dan ketulusan. Maka aku tidak terlalu risau jika di setiap upacara-upacara perayaan kemerdekaan sosokmu nyaris tak tampak. Mungkin kau menggelar upacara sendiri di kedalaman hatimu di mana merah putih selalu berkibar setiap saat, setiap waktu.
Jogjakarta, 16 Agustus 2009
ALA ROA: menafakkuri jalan hidupmu berarti mencoba menziarahi hikayat para penyair bijak bestari, yang lolos dari sergapan catatan tempat tanggal bulan dan tahun kelahiran. Tapi ajaran kebijaksanaannya mengabadi – pada diri manusia yang mengerti. Segala bentuk kegelisahan sengaja kau hadirkan untuk menemani malam-malammu. Malam yang indah bagimu bukanlah malam yang terbebas dari segala yang murung. Lalu mereka yang secuil mengerti pengembaraanmu berbisik: “kenapa kau tak sudahi saja jalan hidupmu itu – atau coba memilih jalan yang lain – daripada menanggung duka derita hingga batinmu remuk ditikam gelisah”. Semakin mereka menggerutu, mengkhawatirkan ihwal pencarianmu, maka semakin liar kau menyulap kebahagiaan yang tersisa menjadi partikel-partikel kegelisahan yang bermakna.
---
RIDWAN: ada semacam pertanyaan besar yang selalu terpancar dari matamu kepada siapa pun yang hendak mendekat atau siapa pun yang kau dekati. Kau sejatinya tidak sedang meragukan ihwal kesetiaan seorang sahabat. Kau juga tidak sedang menyangsikan ihwal kemunafikan yang kadang keluar dari mulut mereka yang “sok bijak”. Tapi dari setiap musyawarah yang kita gelar, aku bisa mendengar jeritan batinmu yang lirih: “aku hanya ingin berguru pada mereka yang tidak culas, yang memiliki jiwa seluas samudera, yang tidak pernah menyimpan dendam kesumat, yang mampu mengajariku menulis puisi dengan darah…”. Kini aku paham jika matamu selalu melirik tajam; kini aku mengerti kenapa di samping kanan-kirimu tak henti-henti melempar iri; bahkan kini aku merasa puas menyimak pencarianmu yang tak pernah tuntas.
---
HILAL: soetomo memang tidak akan pernah dilahirkan kembali. Tapi pada sosokmu siapa pun tidak akan pernah menyangsikan ghiroh perjuangan yang selalu berkobar: di matamu aku melihat bendera merah putih itu berkibar dan kau menuliskan sebuah sajak di bawahnya tentang kegetiran, tentang cinta anak bangsa yang kian hilang. Tapi kau bukan pecundang. Kau hanya ingin berjuang tanpa harus dikenang. Karena setiap perjuangan – apa pun bentuknya – adalah panggilan nurani yang senantiasa menagih cinta dan ketulusan. Maka aku tidak terlalu risau jika di setiap upacara-upacara perayaan kemerdekaan sosokmu nyaris tak tampak. Mungkin kau menggelar upacara sendiri di kedalaman hatimu di mana merah putih selalu berkibar setiap saat, setiap waktu.
Jogjakarta, 16 Agustus 2009

1 komentar:
barat!
Posting Komentar