Negeri Tanpa Identitas


“Berbicara tentang peradaban (at-tamaddun), berarti berbicara tentang siapa yang paling kaya kebudayaannya,” ujar Emha Ainun Nadjib dalam salah satu orasi budayanya. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki ragam kebudayaan dengan keunikannya yang membuat dunia terpesona sekaligus merana.
 Negeri yang terhampar luas dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Jawa hingga tanah Sumatera yang indah permai, bukan hanya bentangan pulau dengan laut birunya yang sejuk dipandang. Tetapi juga di dalamnya tersimpan nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap kali kita memasuki bentangan pulau yang sunyi dengan ragam bahasa yang berbeda, kota-kota yang berdiri tegak dengan simbol-simbol kebudayaan yang masih mempesona, juga daerah-daerah pedalaman yang tak terjamah, pada saat itulah kita menyaksikan betapa negeri ini memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan.
Itulah Indonesia, negeri dengan kebudayaan yang melimpah ruah. Siapa yang tidak bangga mengibarkan bendera merah putih dengan lagu Indonesia Raya? Bangsa mana yang tidak iri melihat kita hidup damai, rukun, tenteram di tengah kebudayaan yang berbeda-beda? Maka, pada saat itulah kita sebenarnya membayangkan bahwa yang layak “memimpin dunia” tidak lain dan tidak bukan adalah negeri kita, Indonesia.
            Tapi kita hanya sebatas membayangkan, sebentuk keinginan yang meletup-letup ihwal masa depan yang kita pancang sedemikian kuat. Sebab, menjadi bangsa besar yang maju, kuat, dan disegani tentu saja harus memberi ruang ekspresi kebudayaannya dengan selebar-lebarnya.

Tanpa Identitas
Namun, di tengah arus globalisasi yang terus berlari kencang dan hembusan budaya populer yang kian menjalar, kita ternyata menjadi bangsa yang mudah gamang. Kita seperti kehilangan kepercayaan diri dalam mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu. Di tengah gerak laju zaman yang mengkonstruk pikiran kita bahwa “modern” berarti “maju”, tiba-tiba kita ingin “menjadi orang lain” yang “alergi” dengan warisan nenek moyang.
Baju kebudayaan kita seperti telah kusut dan warnanya sudah luntur karena kita tidak mau mengenakannya. Bahasa daerah yang tak terhitung banyaknya, tiba-tiba dimuseumkan karena kita grogi menggunakannya. Seni kebudayaan yang kaya nilai hanya tinggal cerita karena generasi yang lahir tidak memiliki apresiasi yang tinggi. Maka sempurnalah kita sebagai bangsa yang gamang, tidak memiliki cara pandang yang jujur dalam mempertahankan dan memperjuangkan nilai-nilai kebudayaan kita sendiri.
Negeri kita ini benar-benar seperti cermin retak, tidak memiliki identitas yang jelas. Panggung politik dengan drama demokrasinya, hanya menyeruak dalam mementaskan kepongahan. Segala bentuk kepentingan menjadi nikmat dipertaruhkan meskipun di bawah sana, masyarakat bawah (grass root), tertatih-tatih mempertahankan hidup. Tentu, berbicara tentang kebudayaan menjadi kurang menarik karena setiap konsepsi atau cara pandang sudah menjelma kepentingan.
Siapakah yang peduli menata kembali ruas-ruas kebudayaan kita yang kian hari kian redup? Siapakah yang dengan gagah menampilkan identitas kebudayaannya sendiri di tengah generasi muda mabuk boy band dan terhipnotis sinetron?
Negeri kita sedang berjalan pincang karena kaki kebudayaannya keropos. Bentangan pulau-pulau yang begitu permai, yang menyimpan kearifan dan nilai-nilai kebudayaan tinggi, kini hanya tinggal cerita yang mewarnai halaman buku-buku sejarah. Kita tidak lagi menjumpai anak-anak muda dengan gembira menyenandungkan syair-syair khas daerah, kita juga tidak lagi menjumpai seni-seni pertunjukan tradisional digemari dengan begitu khidmat. Jika pun ada, barangkali hanya sebatas pementasan-pementasan formal karena memperingati momen-momen tertentu. Tak ada yang membekas dalam cara berpikir dan bertindak, sehingga kita tidak mampu mengambil inspirasi.

 Merubah Cara Pandang
Itulah negeri kita, negeri tanpa identitas. Kenyataan bahwa kita berjalan dengan kaki yang pincang harus direfleksikan terus-menerus hingga tumbuh kesadaran bahwa syarat utama menjadi bangsa yang besar adalah terletak pada cara kita memperlakukan kebudayaan kita sendiri yang secara turun-temurun telah menjadi identitas yang khas.
Refleksi ihwal pentingnya nilai-nilai kebudayaan diaktualisasikan harus selalu digugah. Tentu pertama-tama ialah dengan cara merubah pola pikir atau cara pandang. Jika selama ini yang terkonstruk dalam pikiran kita ialah “modern” berarti “maju”, maka kita harus berani menerobosnya dengan kalimat tanya yang lebih tegas: apa itu modern? Kemajuan macam apa yang perlu kita banggakan jika nilai-nilai kebudayaan kita yang sarat makna dan filosofi hidup dilupakan?
Dalam konteks ini, salah satunya kita harus belajar dan mengambil inspirasi pada masyarakat Yogyakarta. Sebagai daerah istimewa yang sanggup mempertahankan nilai-nilai kearifan lokalnya di tengah gemuruh modernitas, Yogyakarta merupakan center budaya Jawa yang dengan bangga tetap melestarikan kebudayaannya. Sultan dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mampu menggiring masyarakatnya untuk lebih menghargai, memperjuangkan, dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan Jawa.
Simbol-simbol kebudayaan di Yogyakarta tidak hanya berdiri kokoh, tetapi apresiasi masyarakat dalam melestarikan kebudayaan itu begitu antusias dan kuat. Cara pandang mereka adalah cara pandang yang maju. Andai pemerintah di negeri ini mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Sultan dan rakyatnya, yaitu menguatkan sendi-sendi kebudayaan bangsa dengan cara pandang yang segar dan pemaknaan yang mendalam, tentu kaki-kaki kebudayaan negeri kita akan kembali tegak dan kokoh.          

sumber gambar: warnawarniindonesia.hol.es

0 komentar: