Pada tahun 715 M, kota Bashrah seperti bergetar dengan lahirnya seorang ‘arif billah yang kelak menyalakan cahaya ilahi ke segenap penjuru dunia. Abu Abdillah bin Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri adalah nama lengkap bayi suci itu. Ia adalah salah satu ulama zuhud di kalangan tabi’in yang memiliki wawasan luas dan sangat dihormati.
Selama hidupnya, Sufyan ats-Tsauri terkenal sebagai sosok yang istiqamah menegakkan ajaran agama dan memiliki karomah yang sangat luas. Ibadahnya yang tak pernah henti menghiasi hari-harinya merupakan bukti betapa ia adalah hamba Allah SWTyang shaleh. Kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW terangkum dalam kalimat shalawat yang selalu dibaca ke mana ia melangkah.
Fariduddin Attar dalam Warisan para Awliya mengisahkan ihwal keshalehan sosok yang juga digelari “Amirul Mukminin fil Hadits” itu. “Keshalehan Sufyan ats-Tsauri,” kata Attar, “nampak sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Sutau hari ibunya sedang berada di atas loteng rumah. Si ibu mengambil beberapa asinan yang sedang dijemur tetangganya di atas atap dan memakannya. Tiba-tiba Sufyan yang masih berada di dalam rahim ibunya itu menyepak sedemikian kerasnya sehingga si ibu mengira bahwa ia keguguran.”
Sejak kecil Sufyan ats-Tsauri sudah menunjukkan keshalehannya. Kezuhudannya juga membuat orang-orang pada waktu itu terkagum-kagum. Ia tidak pernah lelah beribadah, bermunajat kepada Allah agar diperkenankan mengikuti jejak nabiNya. Karena totalitasnya dalam menghamba kepada Allah itulah Sufyan ats-Tsauri tumbuh sebagai pribadi yang wara’ dan zuhud, yang selalu menyalakan cahaya hati lewat dzikir dan shalawat.
“Seorang benar-benar zuhud kalau ia telah merasakan ajalnya telah dekat, tidak memakan yang enak-enak dan tidak pula memakai pakaian yang mewah-mewah,” katanya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa selama 30 tahun Sufyan ats-Tsauri tidak pernah tidur nyenyak atau jarang tidur karena ibadahnya yang tak pernah putus-putus. Ia tidak pernah membiarkan hatinya terlena untuk memandang sesuatu selain Allah. Itulah sebabnya, berdzikir adalah upaya untuk menyalakan hati agar sanggup menangkap cahayaNya.
Ketika seseorang diliputi cahaya Allah, maka jalan menuju hadiratNya terbentang luas sehingga segala sesuatu selain Allah tak lagi dihiraukan. Kondisi hati seperti inilah yang diharapkan Sufyan ats-Tsauri selama hidupnya dan ia telah memperjuangkannya lewat dzikir dan bershalawat kepada nabi. Sufyan ats-Tsauri sadar bahwa jalan menuju Allah harus melalui pintu nabi. Itulah sebabnya, shalawat yang ia amalkan sepanjang hidupnya adalah untuk menguatkan api cinta kepada nabi sekaligus memohon dengan sangat agar nabi memberikan syafaat.
Dengan demikian, membaca shalawat adalah kunci seseorang meraih syafaat nabi. Inilah yang diisyaratkan dalam sebuah kisah yang terjadi pada musim haji, di mana pada waktu itu Sufyan ats-Tsauri tengah melaksanakan thawaf dan melihat seorang laki-laki yang tidak pernah henti membaca shalawat setiap melangkahkan kaki. Kisah ini penting kita renungkan. Sebab lewat kisah ini, Sufyan ats-Tsauri hatinya bergetar dan amaliyah shalawatnya semakin bertambah.
Kembali pada kisah di atas. Melihat laki-laki yang tak henti bershalawat seiring kaki melangkah itu, Sufyan ats-Tsauri mendekatinya. “Kalau begini Anda telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil. Anda hanya terfokus pada shalawat untuk Nabi Muhammad SAW saja. Apa alasan Anda melakukan amalan ini?,” tegur Sufyan ats-Tsauri.
“Siapakah Anda ini? Semoga Allah memberikan Anda karunia kesehatan dan keselamatan!,” tanya lelaki itu sembari mendoakan Sufyan ats-Tsauri.
“Aku Sufyan ats-Tsauri,” jawabnya.
“Baiklah, akan saya ceritakan kisah saya. Andai kata tidak karena Anda adalah orang luar biasa di masa ini, niscaya saya tidak akan menceritakan karunia yang dianugerahkan kepada saya, dan niscaya saya tidak akan membuka rahasia yang diberikan Allah pada saya,” ucap lelaki itu menjelaskan.
Akhirnya, laki-laki itu benar-benar mengisahkan dengan panjang lebar di balik amalan yang telah dilakukannya. Ia bercerita kepada Sufyan ats-Tsauri bahwa suatu ketika ia bersama ayahnya pergi untuk menunaikan ibadah haji. Tapi sial. Di tengah perjalanan ayahnya diserang penyakit. Ia berusaha mengobati ayahnya. Tapi di suatu malam ayahnya telah meninggal dengan wajah hitam legam. Ia malu kepada tetangga jika mereka tahu kejadian itu. Akhirnya ia menutupi wajah sang ayah dengan selembar kain.
Setelah meratap sedih, laki-laki itu tertidur. Di dalam tidurnya, ia bermimpi sesosok makhluk yang sangat bersih bersinar yang tidak lain adalah Rasulullah SAW. Dengan senyum yang mempesona, nabi menghampiri ayah laki-laki itu dan membuka kain penutup wajahnya. Kemudian nabi mengusapkan telapak tangannya yang lembut ke wajah ayah lelaki yang legam itu. Setelah diusap oleh nabi, wajah yang hitam legam itu berubah menjadi putih bersinar.
Kaget dengan apa yang terjadi pada ayahnya, laki-laki itu bertanya kepada nabi ihwal peristiwa yang baru saja terjadi. Nabi menjelaskan bahwa ia – ayah dari lelaki itu – selama hidupnya selalu menuruti hawa nafsunya. Tapi, ia banyak membaca shalawat.
Demikianlah kisah inspiratif yang dijelaskan oleh lelaki itu kepada Sufyan ats-Tsauri ihwal amaliyah shalawatnya. Sufyan ats-Tsauri tergetar dan kecintaannya kepada nabi semakin berbinar-binar oleh karena keyakinannya bahwa Rasulullah akan memberikan syafaat kepada siapa saja yang ikhlas membaca shalawat.
Karena pondasi ibadahnya sudah terbangun sejak kecil, Sufyan ats-Tsauri semakin melesat jauh dalam melakukan pengembaraan spiritual. Jalan zuhud menjadi pilihan hidupnya. Ia pernah dua sampai tiga hari tidak makan, hingga rasa lapar itu membahayakannya. Itu dilakukan karena ia begitu sibuk dengan ibadah yang dilakukannya (Abd a-Wahhab al-Sya’rani, Beranda Sang Sufi, Hikmah: 2003).
Sepanjang hari sepanjang malam, hati Sufyan ats-Tsauri selalu jaga untuk menyaksikan kebesaran Allah. Setiap melihat apa pun yang melintas, Allah jualah yang disaksikannya. Refleksi keimanannya kepada Allah sangat mendalam.
Suatu ketika Sufyan ats-Tsauri melakukan perjalanan ke Makkah. Ia diusung di atas sebuah tandu. Selama di perjalanan, Sufyan ats-Tsauri menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisan itu, seorang sahabatnya bertanya: “Apakah engkau menangis karena takut akan dosa-dosamu?”
Sufyan ats-Tsauri mengulurkan tangannya dan mencabut beberapa helai jerami. “Dosa-dosaku memang banyak, tetapi semuanya tidaklah berarti daripada segenggam jerami ini bagiku. Yang membuat aku takut adalah apakah imanku benar-benar iman atau bukan,” katanya.
Refleksi keimanan itulah yang membuat Sufyan ats-Tsauri menikmati kezuhudannya sebagai ulama sufi. Totalitas penghambaannya kepada Allah ia wujudkan dalam untaian dzikir yang mengalun menyertai detak jantungnya. Demikian pula dengan amaliyah shalawat yang menjadi senjata hidupnya untuk mengetuk pintu syafaat Rasulullah yang terhampar luas bagi setiap umat yang mencintainya.
sumber gambar: majalahcahayasufi.wordpress.com


0 komentar:
Posting Komentar