Provokasi Agama dalam Film “Innocence of Muslims”

 
Provokasi agama, apa pun itu bentuknya, memang selalu melahirkan sejumlah aksi kekerasan. Apalagi provokasi itu melibatkan simbol-simbol tertentu, sosok yang berpengaruh, atau bahkan nilai-nilai sakral yang melekat kuat dalam ajaran agama. Semua agama pasti mengajarkan cinta kasih dan perdamaian. Tetapi ketika simbol atau nilai-nilai tertentu dalam agama diusik oleh oknum-oknum tertentu, maka tak pelak ruang-ruang kekerasan akan terbuka lebar sehingga terjadilah konflik yang kian runcing.
Film “Innocence of Muslims” yang diproduksi oleh Sam Bacile, Warga Amerika keturunan Yahudi, adalah salah satu bukti bahwa ruang kekerasan itu sengaja dibuka lebar-lebar. Kelompok Islam yang disudutkan dalam film tersebut jelas tidak akan terima karena salah satu sosok yang menjadi simbol luhur mereka, yaitu Nabi Muhammad Saw, diposisikan sebagai tokoh yang sama sekali tidak layak diteladani. Bahkan Nabi Muhammad yang oleh Michael Hart ditahbiskan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia, distigmakan negatif. Dari sudut pandang apa pun, film yang konon mendapatkan sokongan dana 5 juta dolar AS dari 100 orang pendonor Yahudi itu jelas harus ditentang karena hanya akan memicu ketegangan dan kekerasan. Di Libya, Suriah, Mesir, Yaman, dan negara-negara lainnya terutama di Timur Tengah, situasi kian memanas akibat film itu.

Jangan Mudah Terprovokasi
            Seribu film yang sengaja diproduksi untuk menyudutkan Nabi Muhammad dan Islam, misalnya, tetap tidak akan mengurangi kemuliaan dan kasih sayang nabi yang sudah ditebarkan ke seluruh alam semesta. Karena itu, kita harus waspada terhadap provokasi-provokasi sesaat yang sengaja diproyeksikan untuk memecah belah hubungan antar-agama. Kekerasan yang terjadi di Timur Tengah sebagai respons terhadap film Anti-Islam itu jangan sampai mempengaruhi masyarakat kita.
            Simbol dan ajaran luhur agama memang tidak bisa “diusik”, apalagi dengan nada pelecehan yang provokatif. Tapi umat Islam tidak boleh melupakan hal-hal yang bersifat fundamental, yaitu kesanggupan untuk bersikap santun meski berada dalam posisi yang “dirugikan”.
            Saya tidak bermaksud menyudutkan reaksi kawan-kawan muslim di Timur Tengah yang menentang dan memprotes keras film itu. Satu sisi apa yang mereka tunjukkan memang bagian dari kecintaan terhadap nabi dan Islam. Ketika sosok agung yang menjadi simbol sakral dinodai, tentu emosi pengikutnya seketika meledak-ledak. Hal ini memang tidak bisa dibantah. Fanatisme memang tidak selalu negatif sejauh mana ia dipakai sebagai instrumen untuk menghayati laku keberagamaannya sendiri, bukan untuk menyerang keberagamaan orang lain.
            Namun demikian, pada sisi yang lain, reaksi penolakan yang berlebihan atas film provokatif itu sungguh sangat merugikan. Pembunuhan, perusakan gedung-gedung, penutupan jalan, seperti yang terjadi di sejumlah negara di Timur Tengah, misalnya, hanya akan melahirkan stigma negatif bahwa Islam adalah agama kekerasan. Persis seperti tuduhan yang dialamatkan Barat sejak aksi terorisme mengemuka beberapa tahun yang silam.
            Menyikapi dengan aksi-aksi yang tidak santun jelas semakin memperparah situasi. Ketegangan pasti terjadi. Apalagi kasus ini berpotensi ditunggangi oleh kelompok-kelompok ekstremis yang memang dari awal diam-diam menabuh genderang peperangan melawan Barat. Karena itu, kita jangan sampai terprovokasi dalam melakukan aksi kekerasan dengan membawa-bawa bendera “kebenaran”. Sebab, hal itu hanya menjadi bumerang bagi kita sendiri.       
Protes memang merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh. Namun, dalam konstelasi politik global kita harus waspada bahwa bisa saja film itu hanya diproyeksikan untuk memantik emosi umat Islam. Sehingga, ketika jalur kekerasan ditempuh, kita seperti membenarkan anggapan mereka (Barat) bahwa Islam selalu identik dengan kekerasan. Dalam konteks inilah kedewasaan umat Islam dalam menyikapi sesuatu benar-benar diuji. Jangan sampai kita mudah terprovokasi.

Menabur Rahmat, Menebar Kasih Sayang
            Sampai saat ini kita belum mengetahui motif apa sesungguhnya yang melatarbelakangi dibuatnya film“Innocence of Muslims”. Jika memang dasarnya adalah kebencian, sebagaimana diyakini kelompok-kelompok tertentu dalam Islam, bukankah sangat dilematis jika kita meresponsya dengan aksi-aksi kekerasan?
            Islam mengajarkan prinsip persaudaraan. Kepada siapa pun Rasulullah Muhammad tak pernah memiliki rasa benci. Beliau mengajarkan cinta kasih dan penghormatan yang tulus. Bahkan, saat beliau jelas-jelas dihina, disakiti, dan dizolimi dengan perlakuan yang kasar, tetap saja meluncur doa-doa permakluman. “Ya, Allah, ampunilah mereka. Andai mereka tahu, pasti mereka tidak melakukan seperti ini,” demikian doa yang selalu meluncur dari kedalaman hati beliau yang suci.
            Hati kita memang tidak seluas Rasulullah. Tetapi meneladani setetes demi setetes dari samudera ketulusan cinta beliau adalah tugas umat Islam. Karena itu, menabur rahmat bagi sesama adalah jalan yang mesti ditempuh. Ketika rahmat terlimpah bagi semesta, maka cinta dan kasih sayang pasti akan menjadi landasan hidup yang menenteramkan dan menyejukkan.
            Bukan kali ini saja kasus-kasus penghinaan dan pelecehan terhadap sosok Nabi Muhammad Saw terjadi. Namun, jika kita benar-benar mengaku umat Muhammad, tugas kita hanya satu: meneladani pola keberagamaan yang dibangun dengan menebar rahmat dan menabur kasih sayang kepada sesama. Dengan begitu, kita tidak akan risau dan kecil hati oleh deru gelombang keangkaramurkaan yang dihembuskan oleh mereka yang tidak senang terhadap Islam.

0 komentar: