Umat Muslim Jangan Malas Berpikir

Islam adalah agama yang mengidealkan terciptanya masyarakat berperadaban tinggi. Nilai-nilai moral, spiritual dan keadilan sosial (social juctice) adalah di antara beberapa ajaran Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw di tengah situasi masyarakat (Arab) yang masih dipenuhi gelapnya ilmu pengetahuan (jahiliyah). Peradaban Islam yang diperjuangkan oleh Rasulullah tidak lain adalah peradaban yang bersumber langsung dari al-Quran.

Namun demikian, kenapa umat muslim dewasa ini menjadi umat yang terbelakang peradabannya? Kenyataan ini memang tidak bisa dipungkiri. Asumsinya, tidak semua muslim itu “Islami”---dalam konteks cara berpikir dan prilakunya. Demikian juga sebaliknya. Karena itu, jika peradaban Islam tenggelam di tengah tegak dan bangkitnya peradaban Barat, bukan berarti al-Quran yang menjadi rujukan utama umat muslim sudah tidak relevan lagi. Justru yang pantas dikoreksi dalam konteks ini ialah kontruk berpikir umat muslim sendiri.


Cara pandang mereka dalam menatap masa depan sangat kaku, konservatif dan jauh dari semangat al-Quran. Karena itu, peradaban Islam sejauh ini masih belum benar-benar berbasis (nilai-nilai) al-Quran.

Mayoritas umat muslim dewasa ini masih terlena dengan romantisme masa silam. Mereka malas berpikir. Tidak kreatif. Hal-hal yang “berbau Barat”, dalam konteks apa pun, selalu dianggap sebagai tidak Islami dan jauh dari sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya kenapa kemudian Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua filsuf muslim berpengaruh, menyatakan bahwa bangsa Eropa sebenarnya lebih dekat dengan Islam. Yakni, Islam yang berasas pada al-Quran. Bukan Islam yang dilakoni kaum muslim saat ini dan generasi sebelum mereka.

Pernyataan ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa peradaban Barat sesungguhnya berasas pada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran. Sebaliknya, umat muslim dengan peradabannya saat ini begitu jauh dari pelita al-Quran.

Dalam pandangan Dr. Muhammad Ahmad Khalafallah dalam Masyarakat Muslim Ideal (2008), pernyataan dua filsuf besar muslim tersebut sebenarnya menjelaskan ihwal perbedaan antara Islam sebagai akidah keagamaan dan Islam sebagai gerakan sejarah. Islam sebagai akidah keagamaanlah yang memandu bangsa Barat menemukan solusi yang cerdas bagi problem kehidupan modern.

Islam sebagai akidah keagamaan diserap dari al-Quran dan dijelaskan oleh Rasulullah. Itulah yang dipakai oleh kaum muslim generasi awal. Sementara itu, Islam sebagai gerakan sejarah adalah peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang digumuli kaum muslim dalam lingkup kesejarahan. Islam jenis inilah yang mempengaruhi kondisi mereka sehingga jauh dari petunjuk Allah Swt.

Dengan demikian, untuk mewujudkan peradaban Islam yang gemilang, kita harus kembali kepada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Quran. Tentunya dengan pemaknaan yang komprehensif dan kontekstual. Tidak hanya mengekor pada peristiwa masa lalu (sejarah) yang situasi dan kondisi sosio-kulturlnya berbeda.

Hal ini penting diteguhkan sebab tidak sedikit dari kelompok-kelompok Islam tertentu yang selalu memposisikan diri sebagai “penentang” peradaban Barat. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba menghindari sesuatu yang disinyalir berbau Barat. Alasannya sederhana, Barat dengan peradabannya dianggap tidak Islami alias kafir. Padahal tanpa disadari, kemajuan teknologi yang saat ini kita nikmati diprakarsai oleh bangsa-bangsa “kafir” tersebut. Lalu pantaskah kemudian kita bergumam dengan sedikit melecehkan, bahwa Barat itulah musuh utama yang harus dimusnahkan?!

Dengan demikian, menjadi tugas utama umat muslim generasi sekarang untuk lebih mawas diri dan berupaya dengan sekuat tenaga dalam mengoreksi sikap dan prilaku ekslusif yang membuat peradaban Islam sendiri tenggelam.

Apabila engkau ingin membaca kehidupan
yang membentang bagaikan buku terbuka
Jangan kau biarkan sepercik nyala terlepas dari obornya!
Bacalah buku yang lekat di hati itu
dengan sikap ramah penuh pengertian.
Jangan kau jelajahi negerimu
bagai kelana kembara di negeri orang

Demikian Muhammad Iqbal mengingatkan dalam salah satu syairnya. Dalam pandangan penyair yang juga filsuf asal Pakistan itu, kita sebenarnya telah lekat dengan Islam itu sendiri. Namun, ironisnya, banyak aspek ajaran Islam yang tidak dapat dipahami. Sehingga pada satu sisi kita seperti terasing di negeri sendiri, dan pada sisi yang lain kita (hanya) menyaksikan gemerlap kehidupan di luar Islam sedemikian megahnya.

Bukankah realitas semacam ini sangat paradoks dengan puluhan abad yang lalu di mana peradaban Islam bangkit dan tegak menjulang?

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Apa makna pergeseran perhatian dari seorang pemerhati tentang sejarah, menjadi pemerhati tentang agama (Islam)?

Mudah-mudahan ada : )

Btw, sepertinya saya belum menemukan sesuatu yang baru dari tulisan ini. Paradigmanya belum beranjak jauh dari hampir seabad lebih yang telah lampau pembaruan Afghani-Abduh.

Menurut Bung, seperti apa format kebangkitan Islam yang terbaik?

Salam hangat,
Fayyadl

A. Yusrianto Elga mengatakan...

Thank's, bung atas komentarnya!

Saya kira paradigma yg ditawarkan Afghani-Abduh tetap menjadi landasan dalam mewujudkan islam yg lebih inklusif.

Kebangkitan islam, ya...pertama-tama jelas dimulai dari cara berpikir!