Tanggal 28 Oktober 2008, di Alun-alun Utara Keraton Jogjakarta, puluhan ribu rakyat berdesakan. Mereka begitu antusias menghadiri acara Pisowanan Agung (Pertemuan Akbar) antara sultan dan rakyatnya. Meski awan nampak mendung dan sesekali terguyur hujan, acara sakral tersebut masih berlangsung begitu khidmat.
Sultan Hamengku Buwono X, figur yang disayangi sekaligus disegani masyarakat Jogja, sudah tidak lagi “tertarik” untuk memperpanjang jabatannya sebagai gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta. Pernyataan ini sebenarnya sudah dipertegas pada Pisowanan Agung tahun 2007 yang lalu. Sebagian besar masyarakat Jogja sebenarnya masih bertanya-tanya, kenapa Sultan tiba-tiba memutuskan sikapnya yang mengejutkan itu. Semua masih serba tanda tanya. Tak ada yang tahu maksud Sultan. Kalaupun ada, itu mungkin hanya prediksi. Sebatas mereka-reka.
Kini, teka-teki itu sudah terjawab. Sultan dengan tegas menyatakan mundur dari pencalonan gubernur tahun 2009 semata untuk mengabdi kepada bangsa Indonesia secara lebih luas, sebentuk pengabdian yang memungkinkan Sultan ikut bertarung pada Pilpres tahun 2009. Sultan memang bersedia dirinya dicalonkan menjadi Presiden. Itu dikatakannya pada Pisowanan Agung kemarin. Walaupun partai yang dikendari Sultan, Partai Golkar, belum memberikan rekomendasi kepada kader-kadernya, termasuk kepada Sultan, untuk bertarung di arena Pilpres 2009.
Kesediaan Sultan untuk ikut Pemilihan Presiden, setidaknya bagi masyarakat Jogja, sangat dilematis. Satu sisi Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) Jogjakarta masih belum tuntas. Dan pada sisi yang lain, banyak masyarakat Jogja yang masih sayang Sultan dan tidak rela jika ia ikut bertarung memperebutkan kursi RI I.
Arena yang penuh dengan intimidasi dan manipulasi politik inilah yang memberatkan hati masyarakat Jogja untuk mendukung langkah Sultan. Meskipun mereka sadar bahwa keinginan Sultan merupakan bagian dari komitmen yang luhur. Namun, mereka tidak mau menerima konsekuensinya jika pada akhirnya nanti Sultan dicemooh, dihujat dan dicaci maki oleh sekelompok masyarakat di Indonesia yang tidak senang dan tidak mendukung.
Itu memang konsekuensi politik. Tetapi bagi masyarakat Jogja yang masih setia dan patuh kepada Sultan, itu sangat menyakitkan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar