Barat dan Timur adalah guruku Muslim, Hindu, Kristen, Buddha, Pengikut Zen dan Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze Buddha, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih serta Muhammad Rasulullah
Tapi hanya di masjid aku berkhidmat
Walau jejak-Nya Kujumpai di mana-mana
(Dikutip dari sajak Abdul Hadi WM, Barat dan Timur)
Di awal pembukaan bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Mohammad Iqbal menulis: “Al-Qur'an adalah kitab yang lebih mengutamakan amal ketimbang ide” (The qur'an is a book which emphasizes deed rather than idea). Dalam pandangan penyair yang juga filsuf itu, nilai-nilai inklusifisme yang menekankan pentingnya hidup toleran, dalam al-Quran terbentang sangat luas. Karena itu, Islam menekankan kepada umatnya agar senantiasa mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sosial.
Jauh sebelum Mohammad Iqbal dilahirkan, Rasulullah bahkan sudah lebih dulu memberikan teladan ihwal pentingnya toleransi beragama itu dijadikan sebagai sendi dalam kehidupan. Alkisah, suatu ketika ada seorang pengemis buta di sudut pasar Madinah. Pengemis yang Yahudi itu sangat muak dan jijik apabila mendengar orang-orang menyebut nama Muhammad dan agama Islam yang dibawanya. Bahkan tak tanggung-tanggung ia menuduh Muhammad sebagai tukang sihir dan ajarannya tak lebih hanyalah kebohongan belaka.
Atas semua fitnah itu, Rasulullah sama sekali tak menyimpan dendam. Beliau hanya tersenyum mendengarnya. “Segala umpat segala khianat”, tulis D. Zawawi Imron dalam sajaknya yang berumbul Muhammad, “Hanya menggeliat dan tersungkur di hadapannya”. Bahkan beliau rela meluangkan waktunya setiap pagi pergi ke sudut pasar Madinah hanya untuk menyuapkan makanan kepada si pengemis buta itu. Kebiasaan ini terus-menerus berlanjut, dan si pengemis itu tidak tahu bahwa yang menyuapi makanan setiap hari adalah Muhammad, orang yang tidak seagama dan sangat dibenci itu.
Dalam konteks ini Rasulullah tidak hanya sekedar toleran, tetapi lebih dari itu beliau sanggup menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kehidupannya. Keberagamaan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah adalah keberagamaan yang santun, tidak egoistik: perbedaan keyakinan oleh beliau tidak hanya “dipahami”, tetapi “dimaknai” dan “dihayati” sebagai sebuah keniscayaan untuk berbagi dan saling menyayangi. Itulah sebabnya kenapa kemudian Michael H. Hart dalam Seratus Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah (1978) tidak ragu menempatkan Rasulullah Muhammad dalam posisi terdepan di antara tokoh-tokoh berpengaruh lainnya. Hal ini jelas karena sikap Rasulullah dalam menerima segala bentuk perbedaan telah sukses mengibarkan bendera Islam di tengah realitas multi-kultur dan multi-agama.
Kini sikap keterbukaan Rasulullah menjadi rujukan utama seluruh umat Islam di seluruh dunia. Oleh kelompok yang mengatasnamakan “inklusif-pluralis”, Rasulullah adalah “bapak pluralisme” itu sendiri. Walaupun sejatinya beliau selama hayatnya tak mengenal istilah pluralisme yang menyiratkan arti keterbukaan dan toleransi itu. Sebab pluralisme sebagai sebuah discourse merupakan konsep yang muncul belakangan. Namun secara nilai (value), spirit pluralisme – juga isme-isme lainnya yang belakangan baru dikenal – sudah tercover sejak pertama kali Islam lahir dan al-Quran itu diturunkan.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, wacana pluralisme dan toleransi beragama mungkin sampai saat ini masih kurang diterima utamanya oleh kalangan fundamentalis yang lebih “mencurigai” adanya “propaganda Barat”. Sehingga reaksi pro-kontra yang kemudian melahirkan sikap antipati dengan saling menghakimi berlangsung tanpa henti di negeri ini. Inilah yang saya sebut dengan egoisme keberagamaan.
Coba kita tilik kembali fenomena Nurcholish Madjid dengan gagasan pembaharuan dan sekularisme-nya pada tahun 1970-an. Cak Nur menekankan pentingnya proses pembebasan di mana masyarakat harus digiring kepada nilai-nilai yang berorientasi masa depan. Proses pembebasan ini, menurutnya, mengharuskan umat untuk mengadopsi sekulariasasi, pluralisme, keterbukaan dan lain sebagainya.
Gagasan progresif Cak Nur ini bukannya disambut baik oleh sebagian umat Islam. Ia malah dituduh dan dicap sebagai anti-Islam. Demikian juga dengan sikap keberagamaan Gus Dur yang “lintas batas” itu. Kegemarannya berkunjung ke gereja-gereja, menjalin hubungan persaudaraan dengan non-muslim, mislanya, tak luput dari klaim-klaim sesat kalangan fundamentalis. Inilah sekilas fenomena keberagaamaan di Indonesia yang sebagian besar masih tidak menerima terhadap penafsiran inklusif ala Cak Nur, Gus Dur dan generasi-generasi pengusung ide-ide progresif lainnya.
Kebebasan berpikir dianggap sesuatu yang membahayakan terhadap eksistensi dan masa depan Islam. Sehingga beradasarkan fakta inilah tak heran jika Ahmad Wahib dalam Catatan Harian-nya (1981) mengkritik: “Sesungguhnya orang yang mengakui ber-Tuhan, tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan tersembunyi”.
Keragaman dan perbedaan adalah bagian dari ciri kehidupan yang mesti kita jalani tanpa memaksa apalagi mengintimidasi kelompok lain. Perbedaan dalam beragam bentuknya harus disadari pula sebagai tanda kemahabesaran Tuhan. ”Barat dan Timur adalah guruku Muslim, Hindu, Kristen, Buddha, Pengikut Zen dan Tao/ Semua adalah guruku/ Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala/ Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya/ Ya, semua adalah guruku Ibrahim, Musa, Daud, Lao Tze Buddha, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih serta Muhammad Rasulullah/ Tapi hanya di masjid aku berkhidmat/ Walau jejak-Nya Kujumpai di mana-mana”, demikian Adbdul Hadi WM menandaskan dalam salah satu sajaknya, Barat dan Timur.
Dengan demikian, jika Tuhan dan kitab-Nya mengidelakan model keberagamaan yang santun kenapa kita memilih jalan yang egoistis dan anarkis?

0 komentar:
Posting Komentar