Mengenang Chairil Anwar (1922-1949)Perjalanan Chairil Anwar dalam sejarah perpuisian Indonesia sangatlah singkat. Di usianya yang ke 27 tahun, tepat pada tanggal 28 April 1949, ia sudah tutup usia. Sejumlah karya-karya sastra Chairil kemudian ditabalkan sebagai “pengabdian besar” untuk bangsa dan tanah air. Walaupun, tentu saja, Chairil sendiri merasa “tidak puas” dengan pengabdiannya yang terbilang pendek itu. Sebab sebagai penyair, ia menyimpan obsesi yang lebih tinggi dari sekedar yang kita tahu.
Chairil adalah salah satu penyair terbesar yang dilahirkan di negeri ini. Karya-karyanya, terutama puisi, menjadi inspirasi sejumlah penyair baik pada masanya hingga saat ini. Saya mengenal Chairil sejak duduk di bangku SMP (walaupun sebenarnya ketika di Sekolah Dasar saya sudah mendengar namanya). Perkenalan itu pun lewat guru Bahasa Indonesia saya yang tiap kali masuk kelas sering membacakan puisi-puisi Chairil, seperti Aku dan Senja di Pelabuhan Kecil. Puisi ini memang sangat menghibur para siswa saat itu, walaupun sesungguhnya di antara kami kurang begitu memahami dengan sempurna. Namun, lewat apresiasi itulah setidaknya kami diantarkan menuju suatu dunia di mana pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan salah satunya bisa ditempuh dengan menulis dan mengapresiasi puisi.
Perkenalan saya dengan karya-karya Chairil memang tidak lantas membuat saya bercita-cita mengikuti jejaknya, sebagaimana yang ditempuh oleh sebagian teman-teman saya yang lain. Dalam perkembangan selanjutnya, saya hanyalah apresiator yang seringkali gugup ketika disuruh membacakan puisi-puisi Chairil di pentas-pentas atau acara-acara resmi di sekolah kami dulu. Kata mereka, saya tidak bakat. Pemalu dan ada juga yang bilang pengigau. Namun demikian, terlepas dari semua itu, saya tetap berkeyakinan ihwal pertautan hati yang begitu intim antara Chairil dengan para pencintanya.
Siapa pun di antara kita yang pernah membaca puisi-puisi Chairil, tentunya dengan pemaknaan yang arif dan kejernihan pikiran, pasti akan merasakan pertautan itu. Ada semacam getar-getar ruhani yang sulit dibahasakan. Itulah sebabnya saya berkeyakinan bahwa Chairil menulis puisi semata-mata dengan semangat ketulusan, sebentuk pengabdian kepada sesama manusia. Usia yang pendek tidak menjadi masalah untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa. Meminjam bahasanya Evangeline Booth (1865-1950), “Bukannya seberapa banyak tahun yang telah kita jalani yang membuat hidup berarti, tapi apa yang kita lakukan dalam tahun-tahun tersebut. Bukannya apa yang kita terima yang bermakna, tetapi apa yang kita berikan untuk orang lain”.
Chairil, dalam mencipta karya-karyanya, saya kira juga demikian. Sehingga sampai saat ini, tak heran jika penyair yang dijuluki “Si Binatang Jalang” itu tetap – dan memang pantas untuk – dikenang oleh masyarakat pencinta sastra khususnya di tanah air.
Dalam salah satu puisinya yang berumbul Persetujuan dengan Bung Karno (1948), sangat jelas bagaimana komitmen si aku lirik untuk memosisikan diri pada barisan terdepan dalam rangka merealisasikan perjuangan kebangsaan yang belum final.
“Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu
Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh”
Chairil memang bukan satu-satunya penyair dalam sejarah negeri ini yang mempunyai spirit perjuangan demi tegaknya cita-cita kemerdekaan. Baris-baris puisi di atas bagaimana pun setidaknya menjadi bukti penegasan Chairil ihwal pentingnya perjuangan melawan segala bentuk penindasan dan juga keberpihakannya pada rakyat yang selalu dijadikan budak-budak penjajah.
Melalui puisi Chairil ingin mengabdi. Melalui puisi Chairil ingin membebaskan bangsa. Melalui puisi pula Chairil ingin berbagi. Puisi, dengan demikian, bagi Chairil bukan semata medium ekspresi berkesenian yang melulu bertumpu pada semangat estetis. Tetapi juga sebagai medium penegasan eksistensial di mana kerja-kerja kemanusiaan menjadi landasan pijaknya. Jika tidak demikian, tak mungkin Chairil menegaskan pada Bung Karno bahwa “Kau dan aku satu zat satu urat”: suatu penegasan yang merepresentasikan kejantanannya dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Perkenalan saya dengan Chairil sebagaimana yang telah saya jelaskan di awal tulisan ini, hanya bermula pada apresiasi karya-karyanya. Tidak lebih. Bahkan sangat jarang – untuk tidak mengatakan tak pernah sama sekali - guru Bahsa Indonesia saya bercerita panjang lebar ihwal perjalanan kenyairan Chairil yang lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922 itu. Andaikan guru Bahasa Indonesia saya dulu membedah karya sekaligus penulisnya, mungkin ada kesan yang lain dari sekedar pembacaan-pembacaan “sederhana” yang jauh dari kata “menggugah”.
Tetapi walaupun demikian, jujur, melalui apresiasi sederhana itulah ternyata ada berkah tersendiri yang tidak pernah saya duga-duga: di luar bangku sekolah saya menemukan sedikit jejak Chairil yang sebenarnya, yakni sebagian dari buku-buku yang ditulis Chairil sendiri dan juga buku-buku yang menulis kiprah Chairil di jagat kepenyairan.
Kepada Chairil yang kini berada di alam keabadian, saya kirimkan sebuah salam:
Bikinkan aku sebuah puisi
dari sekedar penghibur
kelak ketika mayatku dikebumikan
akan kujadikan sebagai talkin
Jakarta, 28 April 2008

2 komentar:
saya lihat ko' aku tertarik dengan bahasa yang digunakan tolong dong aku ajari nulis heee
Yus, kau masih tinggal di Jogjakarta?
Posting Komentar