Soekarno yang Saya Kenal...


Sisi lain yang sangat unik pada diri Soekarno selain ia sebagai orator ulung dan pemimpin revolusi, ia juga penganut sejati tiga ideologi besar: Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tiga ideologi besar inilah yang kemudian dijadikan sebagai prinsip atau pegangan utuh dalam hidupnya. Kita menemukan ketiga-tiganya terepresentasi dalam diri Soekarno.

Soekarno pernah menulis tentang “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” di Indonesia Moeda (IM) yang diterbitkan oleh Comite Persatuan Indonesia (CPI). CPI sendiri berdiri di Bandung pada tahun 1926. Dalam tulisan yang dimuat tiga nomor berturut-turut itu, sangat tampak sekali bagaimana antusisme Soekarno dalam melakukan ajakan kepada tiga ideologi tersebut. Soekarno memandang nasionalisme sebagai suatu paham yang harus senantiasa dijadikan nafas. Tanpa nasionalisme, tak mungkin ada perjuangan dan pengorbanan yang signifikan untuk keberlanjutan hidup berbangsa dan bernegara.

Memahami nasionalisme tidak kemudian bersikap cinta tanah air dan antipati terhadap bangsa lain. Pemahaman semacam ini adalah bagian dari nasionalisme sempit (ekslusif) yang tidak sejalan dengan paham Soekarno. Soekarno memberikan formula praksis tentang nasionalisme yang mengusung spirit kebangsaan, penuh martabat, dan tidak merendahkan bangsa lain.

Demikian juga dengan Islamisme dan Marxisme atau sosialisme. Soekarno menyandingkan paham kedua-duanya dengan coba melakukan penentangan terhadap kapitalisme yang jelas-jelas mengakibatkan terjadinya kelas-kelas sosial yang destruktif. Kapitalisme di mata Soekarno adalah sebentuk ideologi yang cukup berbahaya karena akibat yang ditimbulkannya tidak lain adalah penindasan terhadap rakyat miskin. Karena itu, dengan ideologi sosialisme-marxismenya, ia tidak ragu mengklaim bahwa kapitalisme sejatinya adalah bentuk dari kejahatan yang terselubung: penindasan berkedok kesejahteraan dan keadilan. Kenapa demikian? Karena kapitalismelah yang berperan menjadikan seseorang individualistis dan konsumtivistik.

Sedangkan ajaran Islam sendiri (sebagai wujud dari Islamisme yang menjadi spirit Soekarno dalam menentang kapitalisme), mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kepedulian antarsesama. Islam mengecam perbuatan individualistik karena cenderung menafikan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat mendasar. Karena itu bagi Soekarno, spirit sosialisme adalah spirit Islamisme yang menyuarakan pentingnya keadilan sosial (social justice). Dalam Al-Qur’an, misalnya, disebutkan: “Berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari harta kalian yang Allah telah menjadikan kalian menguasainya. Maka orang-orang beriman dan berinfaq di antara kalian, pasti akan memperoleh pahala yang besar (Al-Hadid: 7).”

Dalam ayat di atas sangat jelas betapa Allah menganjurkan agar setiap manusia mau berbagi, tidak rakus, apalagi mengklaim sebagai pemilik mutlak atas setiap harta yang dimilikinya sehingga tak ada upaya menafkahkannya kepada yang lebih membutuhkan. Dalam konteks ini saja Islam melarang, apalagi sampai terjadi eksploitasi yang kerap dilakukan oleh kaum-kaum pemodal dan penindas terhadap rakyat miskin.

Soekarno dan Islam

Sebagai orang muslim, religiusitas Soekarno tidak bisa diragukan lagi. Tetapi yang perlu dicatat di sini, bahwa ia bukan penganut agama yang fanatik dan ekslusif. Relegiusitas keberagamaan Soekarno berpijak pada semangat inklusifisme, yakni keterbukaan untuk menerima kebenaran yang ada pada agama lain. Bahkan menurut pengakuannya yang cukup kontroversial kepada Loise Fischer, Soekarno pernah mengaku bahwa ia sekaligus muslim, Kristen dan Hindu.

Dalam memahami pernyataan Soekarno ini, kita tidak bisa mengambil apa yang tersurat sebagaimana klaim penganut Islam formalis yang menuduh sebagai orang “kafir” ketika mendapati ungkapan-ungkapan semacam itu. Tetapi bagaimana kita bisa memahami substansi dari pernyataan tersebut: bahwa dalam konteks kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, ia harus berdiri di atas semua lapisan masyarakat baik yang menganut agama Islam, Kristen, Hindu dan lain sebagainya. Semuanya harus dirangkul tanpa memandang identitas apa pun. Walaupun penafsiran terhadap pendapat ini kontroversial dan bahkan ada yang menilai semata politis, tetapi setidaknya hal ini menunjukkan perasaan keberagamaan Soekarno yang cukup mendalam.

Soekarno tetap mengedepankan rasa simpatinya dalam melakukan pembelaan sebagai sesama umat manusia. Atas dasar semangat kemanusiaanlah sinyal emosionalitasnya menyala. Menurut amatan Geertz, pengakuan Soekarno di atas dianggap sebagai bergaya ekspansif seolah-olah hendak merangkul seluruh dunia. Tetapi Sebaliknya, menurut pendapat BJ Boland (The Struggle of Islam in Modern Indonesia, 1982), ungkapan Soekarno itu hanya merupakan perwujudan dari perasaan keagamaan sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya Jawa. Bagi penghayatan spiritual Timur, ucapan itu justru merupakan keberanian untuk menyuarakan berbagai pemikiran yang mungkin bisa dituduh para agamawan formalis sebagai bidah.

Itulah yang kontroversial pada diri Soekarno: sang Islamis sejati yang terbuka, mendasari keberagamannya dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena itu, ketika Soekarno mengatakan bahwa ia adalah Muslim sekaligus Kristen dan Hindu, sejatinya ia ingin menandaskan bahwa tak ada klaim kebenaran (truth claim) selama kita masih berada pada jalur pencarian. Terlepas dari apakah pernyataan ini politis atau bahkan apologis, tetapi menurut hemat saya, Soekarno telah memosisikan diri sebagai orang yang tidak lagi mempersoalkan “identitas formal” yang kadang menjebak. Di sinilah kemudian Soekarno menemukan makna dari kesejatian Islam yang sesungguhnya: agama kasih sayang yang merepresentasikan nilai-nilai kemanusiaan.

Dua Ideologi Modern

Menurut Bob Hering dalam Soekarno Bapak Indonesia Merdeka; Sebuah Biografi (1901-1945), Soekarno dibentuk di dua kota berbeda, yang mengenalkannya pada dua ideologi modern: sosialisme dan nasionalisme. Dua kota tersebut adalah Suarabaya dan Bandung. Di dua kota besar inilah Soekarno menemukan momentumnya memperkaya khasanah pengetahuannya, khususnya ihwal ideologi modern yang kelak memengaruhi jalan pikirannya. Karena bagaimana pun Soekarno bergesekan secara langsung dengan tokoh-tokoh berpengaruh macam Samaun, Darsono dan lain sebagainya.

Awalnya, dimulai di kota Surabaya. Sebagaimana diakui sendiri oleh Soekarno, ia mengaku pertama kali mengenal Marxisme melalui Alimin ketika ia tinggal di sebuah asrama. Perkenalannya dengan Marxisme membuat Soekarno semakin penasaran lantaran di dalamnya mengusung satu spirit antikapitalisme. Rasa penasaran pada pertemuan pertama itu ibarat ia dihadapkan pada sebuah ruang yang cukup menjanjikan bagi masa depan manusia dan kamanusiaan. Sehingga spirit untuk memahami lebih jauh ihwal Marxisme dan sosialismenya seakan merupakan sebuah tuntutan.

Ilustrasi di atas barangkali sangat pas untuk menggambarkan sosok Soekarno ketika tinggal kota Surabaya. Semangatnya semakin memuncak seiring dengan perkenalannya dengan Moeso, Semaun, dan Darsono. Ketiganya termasuk tokoh sosialis radikal dan orang-orang kiri yang kelak mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) – partai yang dilarang berdiri sampai saat sekarang. Moeso dan Samaun sangat berpengaruh dan mempunyai peran yang sangat signifikan dalam mentransfer pengetahuan sosialismenya kepada Soekarno. Demikian juga dengan Darsono yang seringkali memberikan ruang aktualisasi bagi Soekarno di sebuah Asrama yang juga ditempati oleh Alimin itu.

Dari merekalah Soekarno banyak mendapatkan pengetahuan ihwal Marxisme yang pada mulanya sama sekali tidak ia kenal. Soekarno coba mengapresiasi setiap kali terjadi dialog mengenai Marxisme. Sehingga pada akhirnya, ia betul-betul terpengaruh dan sesekali emosinya meledak-ledak ketika Marxisme dengan sosialismenya menyinggung bahaya kapitalisme terhadap dunia. Berbagai propaganda sosialis yang dilakukan oleh orang Eropa seperti Baars, Reeser, dan Hartogh, misalnya, membuat Soekarno semakin yakin bahwa sosialisme sejatinya ingin mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang dikebiri oleh kaum pemodal (kapitalis). Sehingga berdasarkan pengaruh itulah Soekarno mengecam segala bentuk praktik imprealisme dan kapitalisme yang terjadi di mana-mana.

Dengan demikian, perkenalan yang bisa dikatakan cukup singkat itu membawa Soekarno tumbuh dan berkembang sebagai sosok sosialis sejati. Meskipun ia tidak memilih sosialisme radikal sebagaimana yang dianut Samaun, Darsono dan Moeso. Menurut Bob Hering, ada dua orang yang memengaruhi perubahan "sosialisme" Soekarno. Pengaruh pertama datang dari Tjokroaminoto – tokoh kharismatis Sarekat Islam (SI) yang mempunyai basis kuat di Surabaya. Peran Tjokro jelas tidak bisa dikesampingkan mengingat ia jugalah yang memberikan tugas-tugas dan tanggung jawab politik kepada Soekarno yang dengan senang hati dilaksanakannya. Pengaruh dari Tjokro inilah yang setidaknya memberikan pandangan yang luas ihwal sosialisme itu sendiri.

Pengaruh kedua datang dari Karl Kautsky. Sosok ini dikenal oleh Soekarno melalui karyanya, Sozialismus und Kolonialpolitik Eine Auseinandersetzung yang pernah ia baca ringkasannya dalam Het Vrije Woord di tahun 1919. Pengaruh Kaustsky sangat tampak pada diri Soekarno. Karena bagaimana pun Kaustskylah yang secara tidak langsung membawa Soekarno kepada sebuah pemahaman akan pentingnya sebuah parlemen yang kuat daripada sebuah kediktatoran proletariat. Melalui pengaruh inilah Soekarno tumbuh menjadi sosok yang lebih matang.

Kota berikutnya selain Surabaya adalah Bandung. Soekarno pindah ke Bandung pada bulan Juni 1921. Ia kemudian masuk ke Technische Hoogeschool, di mana ketika itu Soekarno berkenalan dan menyerap nasionalisme radikal dari Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Kedua tokoh ini juga tidak bisa dikesampingkan peranannya dalam membantu Soekarno menjadi sosok yang cukup disegani dan dihormati, berwawasan luas, dan terbuka. Tjipto adalah termasuk salah satu tokoh yang cukup dikagumi oleh Soekarno. Sebagaimana yang telah diakuinya sendiri, bahwa ia mendapatkan pengaruh politik terbesar dari trio pengurus IP (Indische Partij) kemudian SH/NIP (Sarekat Hindia/Nationaal-Indische Partij).

Kekaguman Soekarno kepada Tjipto rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Karena Tjipto juga tidak segan-segan mentransfer pengetahuannya. Bahkan dari saking dekatnya Soekarno menyebut Tjipto dengan "saudara Tjipto-mychief". Kedekatan secara emosional begitu cepat terbangun apalagi tempat tinggal mereka tidak jauh dari tempat tinggal Soekarno di Bandung. Tjipto selalu mendorong Soekarno untuk menjadi seorang nasionalis yang cukup diperhitungkan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap bangsanya. Sehingga dengan demikian, Soekarno sedikit demi sedikit mendapatkan gesekan intelektual. Melalui gesekan inilah kemudian pandangan-pandangan politik radikal Soekarno tumbuh kian matang.

Dengan berbekal pengetahuan ihwal sosialisme dan nasionalisme radikal yang didapati dari dua kota besar itu, Soekarno berhasil memadukannya sebagai salah satu jalan menuju kemerdekaan. Ya, menuju kemerdekaan. Karena memang Indonesia pada waktu itu masih berkabung: berada di bawah cengkeraman kolonialisme dan imprealisme kaum penjajah. Sehingga tidak heran dalam perjalanan sejarahnya, Soekarno dengan gigih pernah menyerang kolonilasime melalui pidatonya di depan Kongres Amerika Serikat pada tanggal 17 Mei 1956 yang silam.


0 komentar: