
Sebagai kota pelajar dan budaya, Jogjakarta memberi kesan tersendiri. Tidak hanya bagi mereka yang pernah tinggal dan belajar di kota gudeg ini. Tetapi bagi mereka yang hanya berkunjung sekalipun, Jogja tetap menarik untuk dikenang.
Dr. Daoed Joesoef dalam buku tebalnya yang spektakuler, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006), tak lupa mengisahkan pengalaman-pengalaman indahnya ketika studi di SMA Jogja sambil bergabung dengan Tentara Pelajar Brigade17 Batalyon 300. Daoed Joesoef yang waktu itu aktif di Seniman Indonesia Muda (SIM) cabang Jogjakarta dan bahkan menjadi ketuanya, sangat antusias mengadakan kegiatan-kegiatan seni-lukis baik dengan sesama pelukis muda maupun seniornya, seperti Affandi dan lainnya.
Kegiatan yang berpusat di Alun-Alun Utara Kraton Jogjakarta itu menjadi ajang yang sangat strategis dalam membangun soliditas dan solidaritas pelajar-pelajar muda – utamanya mereka yang mempunyai sens terhadap seni (sense of art).
Bagi Daoed Joeseof, Jogjakarta tempoe doeloe adalah suatu masa di mana semangat kolektivitas menjadi ruh: Tak ada stratifikasi atau jarak antara pelajar yang masih muda (baik secara usia maupun kapasitas intelektualnya) dengan yang sudah tenar atau populer sekalipun. Semua saling menghargai dan saling mengapresiasi demi tumbuhnya etos kebersamaan. Itulah potret Jogjakarta tempoe doeloe.
Salah satu kenangan tersendiri bagi Daoed Joesoef yang sangat mengesankan adalah pertemuannya dengan Presiden RI Soekarno di Istana Negara Jogjakarta. Pertemuan itu sebenarnya bukan berangkat dari inisiatifnya sendiri, tapi diajak oleh pelukis senior, Affandi. Itulah sebabnya kenapa kemudian ia mengisahkan pertemuan itu dengan cukup indah: "Aku diajak oleh pelukis Affandi menemui Bung Karno di Istana Negara. Dia ingin menjual lukisannya kepada Bapak Presiden karena istrinya sakit berat dan perlu uang untuk dokter dan obat. Walaupun kunjungan ini mendadak dan tanpa membuat janji lebih dahulu, Bung Karno toh masih bersedia menerima sang pelukis dengan ramah. Mereka berbicara sangat akrab dalam bahasa Belanda".
"Setelah mendengar maksud kedatangan Affandi", demikian mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978-1983 itu melanjutkan kisahnya, "Bung Karno lama termenung dan diam saja. Akhirnya dengan suara bernada rendah dia berkata: "Mas, terus terang sekarang ini saya tidak punya uang. Tapi terimalah pulpen saya ini. Nama saya ada diukir di situ. Barangkali saja bisa dijual dan pakai uangnya untuk biaya pengobatan yang diperlukan".
Kisah tersebut tak berhenti di situ. Daoed Joesoef masih melanjutkannya sampai pada sisi-sisi yang menyiratkan hubungan komukatif antara Presiden dengan rakyatnya. Dengan ingatan yang masih kuat, alumnus Universite Pluridisciplinaires de Paris I Phanteon-Sorbonne itu, kembali mengenangnya: "Pak Affandi menolak pemberian pulpen sambil berkata dengan lirih: "Bung, terima kasih. Saya butuh uang bukan pulpen. Saya juga tidak tahu di mana bisa menjualnya. Lagi pula jangan-jangan saya nanti dituduh mencuri". Mendengar ucapan Affandi yang terakhir ini Bung Karno tertawa terbahak-bahak. Tanpa disadari, Pak Affandi dan aku ikut pula tertawa sejadinya. Lalu Bung Karno bangkit dari duduknya, berdiri dan menepuk bahu Pak Affandi, "Tunggu sebentar, Mas Affandi," katanya. "Saya mau menemui Bu Fat di dalam."
Apa yang kemudian dilakukan oleh Bung Karno ketika ia keluar dari dalam? Daoed Joesoef mengatakan bahwa setelah itu Bung Karno memilih sebuah lukisan yang ditawarkan dan memberikan sebuah amplop kepada sang pelukis. "Terimalah ini, saya pinjam dulu dari Bu Fat, diambil dari uang belanja sehari-hari", katanya. "Jumlahnya memang tidak seberapa. Kekurangannya akan saya angsur bulan depan. Sudah saya perintahkan kepada dokter kepresidenan supaya memeriksa Bu Affandi di rumah. Tolong tinggalkan alamat rumah kepada ajudan sebelum pulang."
Demikianlah salah satu kenangan dari sekian kenangan yang cukup berkesan pada diri Daoed Joesoef ketika masih belajar di Jogjakarta. Dikatakan demikian karena ia – yang waktu itu usianya masih terbilang muda – bisa berjumpa Presiden Soekarno yang tak lain merupakan sosok yang sangat ia kagumi. Perjumpaan ini tentu merupakan berkah dari pergaulan-akrabnya dengan para pelukis kenamaan tanpa ada sekat "senior-yunior" sedikit pun.
Memang dalam memoar-nya itu ia tidak secara spesifik memfokuskan kenangannya pada Jogjakarta. Tetapi bagaimana pun Jogja di mata Daoed Joesoef – dan mungkin juga oleh sejumlah pelukis, sastrawan, budayawan, politisi dan sebagainya yang pernah mencicipi atmosfer hidup dan belajar di sana – merupakan kota yang menyuguhkan pola hidup dengan semangat kerja keras dan kolektifitas sebagai basis dasarnya. Itulah potret Jogjakarta tempoe doeloe.
Berbicara tentang etos kerja keras dan semangat kolektifitas pelajar-mahasiswa Jogja tempoe doeloe merupakan kebanggaan tersendiri. Tak ada hari-hari yang terlewati dengan sia-sia, karena baik di lingkungan kampus, di kost, di tempat-tempat umum, selalu digelar diskusi-diskusi kecil yang sangat sederhana tapi cukup bermakna. Seperti kelompok diskusi "Limited Group", misalnya, yang dipimpin oleh Dr. Mukti Ali. Bukan karena topik-topik yang diangkat dalam diskusi tersebut sangat beragam, seperti masalah sosial-keagamaan, kebudayaan, politik, ekonomi dan lain sebagainya. Tetapi karena spirit kebersamaan yang terjalin di dalamanya. Itulah potret Jogjakarta tempoe doeloe.
Ahmad Wahib, pemuda yang tutup usia pada tanggal 1 April 1973 , semasa hidupnya aktif mengikuti diskusi di "Limited Group" dan beberapa kelompok diskusi lainnya di Jogjakarta. Melalui diskusi yang penuh dengan nuansa kebersamaan itulah tak heran jika Ahmad Wahib menjadi sosok yang sangat kritis dan peka terhadap sekian fenomena kehidupan yang membentang luas di hadapannya. Nyaris setiap hari ia merekamnya dalam bentuk tulisan yang penuh dengan pemaknaan arif. Sayang, ia meninggal di usianya yang masih muda. Namun atas jasa rekan-rekannya, tulisan-tulisan Ahmad Wahib yang tercecer akhirnya dikumpulkan lalu diterbitkan dengan judul: Catatan Harian Ahmad Wahib (terbit pertama kali bulan Juli 1981).
Itulah potret Jogjakarta tempoe doeloe, suatu masa di mana spirit kerja keras dan semangat kebersamaan sekan tak pernah bosan-bosan untuk selalu dikenang.

0 komentar:
Posting Komentar