![]() |
“Bisa saja aku musnahkan semua Yahudi di dunia ini! Tapi aku sisakan sedikit saja yang hidup, agar kamu dapat mengetahui mengapa aku membunuh mereka.”
(Adolf Hitler)
Kekuasaan selalu berpotensi melahirkan perang dan kebencian. Gelombang politik yang tak menentu telah menyeret jutaan orang menapaki jalan hidup yang terjal, penuh onak, dan kekejaman. Itulah pemandangan yang terjadi di Jerman ketika Adolf Hitler naik panggung kekuasaan.
Januari 1933, seluruh penjuru Jerman seperti bergetar. Hitler dengan congkak menaiki podium, mengaum seperti serigala di hutan belantara. Ya, Hitler adalah konspirator ulung yang tak mengenal cinta. Ia selalu berbicara tentang ras, tentang siapa sesungguhnya kelompok manusia yang paling unggul dan siapa yang paling rendah.
Di mata Hitler, ras arya-lah yang paling berhak membusungkan dada. Itulah sebabnya, dengan angkuh Hitler pernah menyatakan bahwa Jerman sudah terlalu sempit karena begitu banyak ras-ras lain yang berdomisili. Ras Arya yang terhimpit harus mendapatkan ruang yang luas, tentu saja dengan cara membabat habis ras-ras lain yang dianggap rendah, tidak maju, dan kolot.
Meledaklah apa yang kemudian disebut dengan Tragedi Holocaust, suatu pembantaian terhadap jutaan warga keturunan Yahudi di berbagai negara Eropa semasa Perang Dunia II oleh Nazi Jerman. Hitler bersama tentara Nazi yang kejam itu, melakukan pembantaian massal. Di sudut-sudut kota, setiap orang diidentifikasi, diperiksa, kemudian dihajar tanpa ampun. Kecuali mereka yang berkulit putih, rambut pirang, dan mata biru. Mereka selamat dari pemusnahan ras karena dianggap sebagai yang tertinggi, yang unggul, dan terhormat.
Kepemimpinan Hitler benar-benar membawa kabar buruk. Petaka politik meledak di mana-mana. Otoritarianisme menjadi panglima. Inilah panggung politik yang mempertontonkan darah, panggung kekejaman yang setiap saat merobek nilai-nilai kemanusiaan. Tak ada cinta, tak ada kasih sayang. Rasialisme menacapkan taring-taringnya dengan penuh vulgar.
Hitler benar-benar menjadi fenomena yang sangat menyesakkan dalam lembar sejarah di Eropa pada umumnya. Institusi-institusi yang dianggap menentang harus menerima risikonya. Hitler seperti dilahirkan untuk menumpas, membantai mereka yang berbeda, terutama secara rasial.
Hitler dan tentara Nazi tidak hanya menancapkan cakar-cakar kekejamannya di tanah Jerman. Di setiap tempat yang mereka duduki, terutama di semenanjung Eropa Timur, Nazi membabat habis orang-orang Yahudi, Gipsi, Polandia, Slavia, dan ras-ras lainnya yang mereka anggap rendah. Tak ada ampunan bagi mereka kecuali menyerahkan bagian-bagian tubuhnya untuk dipenggal, ditembak, dan kemudian diringkus seperti sampah.
Rakyat Jerman dengan ras arya-nya, harus mendapatkan tempat di negara-negara Eropa Timur yang menjadi sasaran pembantaian Nazi. Hitler telah memperlakukan Lebensraum atau “ruang hidup” bagi rakyat Jerman sehingga ras lain terpaksa disingkirkan.
Kekejaman Nazi benar-benar merajalela di mana-mana, di tempat-tempat yang mereka anggap penuh dengan ras-ras rendah. Nazi telah memproklamirkan kekejaman. Tragedi Holocaust tidak akan pernah dilupakan. Sejarah akan selalu mencatat ihwal kekejaman yang diluar batas itu.
Kisah tentang kekejaman Hitler dan Nazi Jerman sudah menyeruak di mana-mana. Salah satu kisah pedih yang dituturkan Leila Jabarin begitu menyayat-nyayat siapa pun yang mendengarnya. Leila adalah seorang Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia adalah korban yang selamat dari pembantaian Nazi Jerman di Kamp Konsetresi Auschwitz.
Selama beberapa dekade, Leila merahasiakan apa yang pernah dialami dirinya. Namun, Leila akhirnya membuka juga rahasia itu kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Sebagaimana diberitakan republika.co.id, Leila menuturkan, sebelum memutuskan pindah ke Palestina, Leila bersama keluarga menetap di Austwitz. Pada saat itu, tentara Nazi Jerman berulang kali memeriksa rumah dokter tempat Leila dan keluarga tinggal. Ia pun menyaksikan bagaimana Nazi membunuh anak-anak. Nazi memang kejam. Beruntung, kata Leila, berulang kali dokter menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Pada tahun 1945, ia dan keluarganya dibebaskan. Kemudian pindah ke Palestina. Namun, sebelum pindah, Leila dan keluarga dimasukan terlebih dahulu di kamp Atlit, sekitar 20 km dari Haifa.
Kekejaman Nazi memang tidak bisa disembunyikan lagi. Dunia mengutuk Hitler. Hitler memang tidak sendiri. Kebenciannya kepada bangsa Yahudi dan ras-ras lainnya mendapatkan sokongan moral dari beberapa pihak yang memiliki otoritas dan pengaruh luas. Saat ini sudah menyeruak bukti-bukti tentang siapa sesungguhnya yang ikut andil bermain di balik layar. Eugenio Pacelli adalah salah satu tokoh yang juga patut dipersalahkan atas meledaknya Tragedi Holocaust. Paus Pius XII yang lahir di Roma pada 2 Maret 1876 itu disebut-sebut telah melakukan perjanjian diam-diam dengan rezim Hitler.
John Cornwell dalam bukunya, Hitler’s Pope: Sejarah Konspirasi Paus Pius XII dan Hitler (2008), menyebutkan bahwa jejak kelam Pacelli sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan, di mana pada tahun 1914 ia menandatangani sebuah perjanjian dengan Serbia yang memberi andil meningkatnya ketegangan yang memicu Perang Dunia I. Dalam perjanjian yang dikenal dengan Konkordat Serbia tersebut, Vatikan secara tidak langsung memberi peluang kepada Serbia untuk melakukan pencabutan hak-hak protektorat Kekaisaran Austro-Hungaria atas kantong-kantong Katolik yang berada di wilayah Serbia.
Dua puluh tahun kemudian setelah Konkordat Serbia berlalu, tepatnya pada tahun 1933, Pacelli bersama Hitler menandatangani sebuah Konkordat yang disinyalir menjadi pemicu munculnya serentetan konfrontasi berbau rasial yang berimplikasi besar terhadap dunia: Tragedi Holocaust.
Ketika tragedi Holocaust ini meledak, Pacelli yang menjabat sebagai Paus Pius XII tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya diam. Keputusan ini diambil karena dalam perjanjian Konkordat disebutkan tentang jaminan tidak adanya intervensi terhadap rezim Hitler yang memang berkeinginan kuat untuk membumihanguskan kaum Yahudi. Sebagaimana yang selalu didengung-dengungkan oleh Hitler bahwa “orang-orang Yahudi akan dimusnahkan, paling tidak untuk selama 1000 tahun!”
Berdasarkan fakta itu, kemungkinan masih menguatnya sikap antipati – untuk tidak mengatakan anti-Judaisme – sang Paus Pius XII pada orang-orang Yahudi bisa dibenarkan. Sebab kalau dirunut dari sisi kronologis-historisnya, antipati Kristen pada orang-orang Yahudi terlahir dari keyakinan semenjak masa Gereja Kristen awal, bahwa orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus Kristus. Sehingga dengan demikian, tidak heran jika dikatakan bahwa antara Pacelli dan Hitler sebenarnya mempunyai inisiatif dan komitmen yang sama, yakni “mengamini” dan mendukung tragedi Holocaust sebagai bagian dari agenda-agenda politis.
Karena itu, pernyataan Pacelli bahwa negoisasi Konkordat-nya dengan Hitler merupakan upaya untuk membumikan perdamaian dan mempererat hubungan antara Istana Kepausan dan Jerman, hanyalah sebentuk apologi yang menyimpan keculasan dan kekejian. Sebab, bersamaan dengan itu, Pacelli bersama Hitler diam-diam melakukan penggembosan terhadap pihak-pihak dan institusi-institusi yang diprediksi dapat menentang keputusan-keputusan yang nantinya akan dihasilkan.
Jelas ada sesuatu yang ambigu dari pernyataan dan sikap Pacelli tersebut. Kita bisa membacanya secara kritis: bagaimana mungkin Pacelli berinisiatif melindungi orang-orang Yahudi dari kekejian rezim Hitler jika dalam perjanjian Konkordat disebutkan bahwa ia tidak akan mencampuri urusan-urusan pemerintah? Bahkan sebagai imbalan dari kesepakatan itu, bukankah Gereja Katolik di Jerman beserta partai politik, dan ratusan asosiasi serta surat kabar dengan “suka rela” mengikuti inisiatif Pacelli untuk menarik diri dari tindakan sosial dan politik?
Dalam konteks inilah sangat tampak keculasan Pacelli dalam menggunakan lembaga Kepausan sebagai legitimasi untuk membungkam kritik massa yang kontra dengan keputusan-keputusan kontroversialnya. Lewat keberhasilannya menutup sejarah kelam, tak pelak jika Pacelli di usia tuanya meraih reputasi sebagai orang bijak dan orang suci.
Namun demikian, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti tercium juga baunya. Pacelli kini tidak lagi menjadi ikon yang dibanggakan. Di Eropa, kisahnya hampir menyamai Hitler.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar