Tahun 1936-1939 perang saudara meletus di Spanyol. Ketegangan politik telah mencabik-cabik rakyat sipil. Pembantaian pun terjadi. Spanyol seperti lautan darah. Madrid, Valencia, Baque, Catalan, dan kota-kota lainnya tak pernah sepi dari letusan peluru.
Ketegangan politik antara kaum republikan yang pro-reformasi versus kubu nasionalis yang anti-reformasi benar-benar menyulap negeri itu penuh dengan tumpukan mayat, tubuh-tubuh tanpa kepala berserakan, banyak anak kecil yang menjadi korban setelah tubuh mereka penuh dengan peluru.
Tanah Spanyol benar-benar berduka. Ratusan ribu korban mewarnai perang saudara yang berlangsung tiga tahun itu. Francesco Franco, pimpinan tertinggi kaum nasionalis, tak pernah henti melakukan serangan terhadap setiap wilayah yang dianggap sebagai basis kaum republikan yang menginginkan perubahan.
Karena tidak ada titik temu antara kedua aliran politik itu, gencatan senjata pun tak bisa terhindarkan. Kaum republikan yang mayoritas terdiri dari orang-orang komunis dan liberal berusaha melawan tekanan kelompok nasionalis yang didukung oleh militer, kerajaan, dan bahkan gereja.
Kaum republikan seperti sudah memprediksi bahwa peperangan ini tinggal menunggu waktu, di mana kaum nasionalis-lah yang akan berkibar dan berkuasa di tanah Spanyol. Hal ini tidak lepas dari dukungan militer yang cukup kuat dengan Jenderal Franco sebagai pemimpinnya yang ganas dan buas.
Seiring perjalanan waktu, tokoh-tokoh berpengaruh dari republikan banyak yang dibunuh. Upaya-upaya pendudukan di sejumlah daerah pun, yang semula menjadi basis kelompok pro-reformasi, akhirnya berjalan mulus. Pelan tapi pasi, sejak perang berlangsung, kaum republikan berhasil digembosi. Jumlah kaum republikan semakin menyusut. Apalagi sejak bulan Mei 1937, di mana Franco membentuk Gerakan Nasionalis untuk menjaring secara paksa pihak-pihak yang selama ini menentang aliran politiknya.
Franco dan kelompoknya semakin leluasa memborbardir wilayah-wilayah yang dianggap sebagai basis kaum republikan. Apalagi pasukan tempur Jerman membantunya, meluluhlantakkan Guernica yang terletak di Basque. Ya, Franco dengan congkak membusungkan dada, merayakan separuh kemenangan karena proyek politiknya berjalan mulus.
Tidak hanya Basque yang bersimbah darah. Catalan juga mengalami hal yang sama – untuk tidak mengatakan lebih parah – atas sekian pembantaian yang dilakukan pemimpin otoriter itu. Kelompok-kelompok pemberontak, yang disinyalir bentukan republikan, dibabat habis dengan peluru-peluru yang dengan sekali tembus membuat tubuh hancur berantakan.
Catalan memang termasuk salah satu basis yang mendukung reformasi setelah kerajaan Spanyol runtuh. Tapi nasib politik tak memihak mereka, sebagaimana juga Basque dan wilayah-wilayah lainnya di tanah Spanyol yang bernasib sama.
Ketegangan politik yang memicu perang saudara itu benar-benar memilukan. Bahkan, pasca perang saudara itu, Spanyol sebenarnya masih diguncang oleh sekian konflik, gesekan politik dan budaya yang tak pernah usai dan seringkali berujung pembantaian. Franco, yang didapuk sebagai pemimpin Spanyol atas kemenangannya melawan kaum republikan, bertindak semena-mena. Di Catalan, misalnya, cengkeraman otoritarianisme tokoh fasis itu menelan sekian korban.
Dengan kendali kekuasaannya, Franco mencabut status otonomi khusus yang dimiliki Catalan, juga Basque yang dikenal sebagai basis kuat kaum republikan. Bahkan, bahasa yang hanya boleh dipakai ialah bahasa Spanyol (Castilla). Daerah-daerah lain seperti Catalan yang memiliki bahasa sendiri dilarang digunakan.
Sebagai reaksi atas kekejaman Franco itu, muncullah kelompok-kelompok ekstremis yang perlahan-lahan melakukan pemberontakan. Mereka tetap memperjuangkan eksistensi kebudayaan lokal yang sudah berjalan. Salah satu bentuk dari ekspresi perlawanan mereka ialah lewat sepak bola sebagai aktivitas non-politik yang dianggap sangat memungkinkan dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Jika di Basque ada Athletic Bilabao, yang pada awal pendiriannya hanya membolehkan merekrut pemain-pemain berdarah Busque, maka di Catalan juga ada klub sepak bola Barcelona.
Tapi perlawanan lewat media sepak bola yang cukup kentara dilakukan Barcelona. Klub sepak bola yang populer dengan sebutan El-Barca itu didirikan di kota Barcelona pada 29 November 1899 oleh Hans Gamper, seorang berkebangsaan Swiss. Klub Barcelona benar-benar dijadikan representasi perlawanan Catalan yang memiliki bahasa dan bahkan bendera sendiri.
Di Barcelona, kita bisa menyaksikan betapa spirit perlawanan itu masih kental hingga sekarang. Hal ini setidaknya bisa kita lihat pada mottonya: “Barca bukan hanya sekedar klub” (el barca, es mes que un club). Motto provokatif itu terpajang di mana-mana, di sudut-sudut kota Barcelona. Franco diselimuti kekhawatiran. Kemungkinan meledaknya pemberontakan lewat kompetisi sepak bola, terutama di Catalan, membuat Franco dilanda kecemasan. Itulah sebabnya, ia menjadikan klub Real Madrid, yang berdiri pada 6 Maret 1902, sebagai representasi kerajaannya.
Rivalitas antara Barcelona dan Real Madrid pun semakin sengit. Provokasi Barcelona lewat mottonya, baik di dalam maupun di luar lapangan, tak pelak membuat Franco geram. Pada tahun 1936, Franco telah membuat Catalan dan klub sepak bolanya tercabik-cabik oleh kesedihan, di mana Presiden Barcelona Joseph Sunol tewas dibunuh oleh pihak militer. Demikian juga yang terjadi pada tahun 1938, sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club atas perintah Franco.
Tidak hanya berhenti di situ cakar-cakar kekejaman Franco. Pada tahun 1941, jenderal kejam itu menyuruh pemain Barcelona untuk kalah dari Real Madrid dalam sebuah pertandingan. Franco melakukan tekanan pada petinggi klub di bawah ancaman militer. Pada pertandingan itu, pemain-pemain Barca tidak seperti biasanya. Tekanan politik yang kuat terlihat di wajah-wajah pemain. Hasilnya, gawang Barca sudah dibobol dengan 11 gol.
Sebelum pertandingan berakhir, pemain-pemain Barca mencoba bermain serius dan melakukan penetrasi. Hasilnya, 1 gol berhasil mereka sarangkan ke gawang Real Madrid. Skor akhir adalah 11-1. Namun, 1 gol yang dibukukan Barcelona ke gawang rivalnya itu membuat Franco marah. Ia menginginkan Real Madrid menggelontorkan banyak gol tanpa harus kebobolan meski hanya 1 gol. Akibat dari kejengkelan Franco atas 1 gol yang tercipta itulah banyak hal-hal aneh yang kemudian terjadi: kiper Barcelona dijatuhi tuduhan “pengaturan pertandingan” dan dilarang untuk bermain sepakbola lagi seumur hidupnya.
Sejak saat itu Barcelona benar-benar menjadi simbol perlawanan Catalan terhadap Franco dan Spanyol. Hingga saat ini, rivalitas kedua klub elite itu semakin memanas. Rivalitas Real Madrid dengan Barcelona, yang bisa kita saksikan di layar televisi saat ini, jelas merupakan produk ketegangan politik Castilians dan Catalan zaman dahulu. Pertandingan Barcelona versus Real Madrid kemudian disebut sebagai duel “el-clasico”, salah satu pertandingan yang menyedot perhatian pecinta sepak bola dunia karena latar belakang sejarah politik di negara itu yang kelam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar