Pahlawan

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bagaimana cara menghormati dan menghargai jasa pahlawannya.” Demikian Soekarno pernah mengatakan. Saya kira kita belum berhak menyandang predikat sebagai “bangsa besar” karena banyak di antara pahalawan-pahwalan bangsa yang tidak kita hormati dan hargai jasa-jasanya. Alih-alih menghormati, banyak yang tidak tahu siapa saja pahlawan yang telah memberikan segalanya buat bangsa dan negara ini.

Bangsa kita memang harus banyak belajar pada Jepang. Di negeri samuari ini, para pahlawan bangsa nyaris dikenal bahkan oleh anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah SD. Mereka – yang masih berusia belia itu – begitu fasih menyebut siapa saja pemimpin atau pahlawan yang hidup pada abad-abad lampau. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, siswa-siswa itu sudah berani mengidolakan pahlawannya sendiri.


Salah satu contoh pahlawan Jepang yang tak asing lagi di telinga anak-anak sekolah ialah Toyotomi Hideyoshi. Ia merupakan pemimpin legendaris Jepang abad XVI yang lahir pada 1536 di Nakamura, Provinsi Owari. Sebagaimana dikisahkan oleh Kitami Masao dalam The Swordless Samurai (2009), sejarah kepemimpinannya Hideyoshi sangat dikenal baik oleh anak-anak sekolah. Mereka mengenal dan mempelajari Hideyoshi lewat buku-buku biografi, novel, drama, film dan video game yang tak terhitung jumlahnya.

Mengenal pahlawan bangsa mungkin merupakan suatu kewajiban bagi anak-anak sekolah di Jepang sebagai langkah awal untuk kemudian menghormati dan menghargai jasa-jasanya. Perkenalan merupakan medium timbulnya kesan, penilaian, apresiasi, kesadaran dan bahkan cinta dan kasih sayang. Benar kata pribahasa, “tak kenal maka tak sayang.” Masyarakat Jepang pada umumnya saya kira juga demikian. Mereka mencintai pahlawan-pahlawannya karena terlebih dahulu mereka mengenal melalui bacaan, sadar sejarah.

Itulah barangkali yang membedakan antara bangsa Indonesia dan bangsa Jepang. Penghormatan kepada pahlawan bukan berarti sebuah upaya “pendewaan” atau dalam bahasa yang lebih ekstrem disakralkan dengan adanya proses penyembahan sebagaimana dianut masyarakat animisme yang percaya pada sesuatu yang berkepribadian seperti jiwa-jiwa dan roh-roh. Pahlawan di Jepang tidak diposisikan demikian. Penghormatan yang mereka lakukan hanyalah sebagai bentuk apresiasi ihwal kontribusi atau perjuangan yang diberikan para pahlawan mereka terhadap bangsa dan negara. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan menghormati dan menghargai jasa-jasa pahlawan.

Di Indonesia, sakralisasi terhadap pahlawan memang tidak ada. Dalam konteks ini kita bisa sedikit memberi penilaian bahwa masyarakat kita sudah maju dan modern. Akan tetapi satu sisi yang sangat ironis ialah tidak adanya penghormatan dan penghargaan yang berarti. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bangsa kita memiliki karakter yang egoistik dan individualistik. Baik egoisme maupun individualisme sama-sama mengarahkan manusia untuk lebih mementingkan diri sendiri. Artinya, setiap individu di antara bangsa kita ingin dihargai dan dihormati tanpa harus menghargai dan menghormati orang lain.

Posisi pahlawan di negeri ini seperti angin berlalu. Mudah dilupakan. Perjuangan-perjuangan mereka hanya sebatas diakui: sebentuk pengakuan yang bersifat formalistik tanpa harus diresapi oleh hati nurani. Jejak perjuangan mereka tak banyak diminati karena pada kenyataannya bangsa kita jarang mengenal riwayat hidup pahlawannya sendiri. Sehingga tidak heran jika kemudian generasi-generasi muda kita lebih mengidolakan tokoh-tokoh atau pejuang-pejuang bangsa lain.

Minimnya pengetahua kita ihwal sejarah bangsa dan pejuang-pejuangnya pada sisi yang lain membuat kita tidak percaya diri untuk mengidolakan mereka. Alih-alih mengidolakan, mencoba menelusuri jejak perjuangannya saja kita seakan-akan merasa gengsi. Kita justru merasa lebih percaya diri jika menyebut tokoh-tokoh macam Abraham Lincoln, Che Guevara, Napolion Bonaparte dan lain sebagainya. Sikap seperti ini bukan berarti salah, akan tetapi hanya kurang tepat karena bersamaan dengan itu pejuang-pejuang kita yang tidak sedikit juga memiliki pemikiran-pemikiran brilian sengaja dilupakan atau tidak diapresiasi hanya karena kurang percaya diri.

Jika kepada pejuang-pejuang bangsa sendiri saja kita tidak percaya diri, bagaimana mungkin kita bisa meresapi dengan sepenuh hati perjuangan Pangeran Diponegoro yang tak pernah lelah bertempur melawan agresifitas Belanda di Magelang, Jawa Tengah? Itu hanya sebatas contoh. Masih banyak pahwalan-pahlawan kita yang jejak-jejaknya tak pernah kita gali. Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat), Teuku Tjik Ditiro, Teuku Umar (Aceh), Sultan Hasanuddin (Sulawesi), Ketut Djelantik (Bali), Hasyim Asy’ari (Jombang) adalah sedikit dari nama-nama pejuang bangsa yang mungkin sudah dilupakan oleh karena minimnya kita membaca sejarah mereka.

Kita tidak bisa membayangkan sepuluh tahun atau dua puluh tahun ke depan generasi kita akan menghormati dan menghargai jasa pahlawan-pahlawan bangsa dalam bentuk yang seperti apa jika saat ini di perguruan-perguruan tinggi saja banyak mahasiswa yang tidak mengerti. Akankah kita menjadi bangsa yang besar sebagaimana dikatakan oleh Soekarno jika pahlawan-pahlawan itu kita lupakan jejak perjuangannya?

Kita memang harus banyak belajar kepada Jepang. Di sana pahlawan diabadikan dan diajarkan dengan baik kepada siswa-siswa sekolah agar tumbuh rasa cinta dan menjadi inspirasi generasi muda. Sedangkan di Indonesia, pahlawan bangsa nyaris (di)hilang(kan) jejak-jejaknya. Apakah ini pertanda bahwa kita tidak siap menjadi bangsa yang besar?

0 komentar: