05 April 2009

Kampanye

Setiap kampanye partai politik digelar, kita dengan cukup cermat melihat bagaimana antusiasme para calon legislatif menyampaikan komitmen-komitmennya. Di hadapan ribuan massa, mereka seakan merayakan “ritual perjanjian” dengan penuh kesungguhan. Begitu memesona.

Di berbagai tempat, dengan atribut partai politik yang berbeda-beda, “ritual perjanjian” itu digelar begitu khidmat dan menarik. Tak ada yang cacat. Setiap calon legislatif menyampaikan komitmen-komitmennya untuk tetap melanjutkan perjuangan bangsa tanpa ragu (ihwal kemampuannya) sedikit pun.

Problem kebangsaan sepelik apa pun di mata mereka sangatlah sederhana. Mungkin sesederhana membalikkan telapak tangan. Karena itulah mereka mengajak kita untuk tidak salah pilih. Mereka meyakinkan rakyat sebagai figur yang betul-betul memperjuangkan aspirasi masyarakat.


***

Sewaktu masih kanak-kanak saya sering nonton kampanye digelar. Walaupun tempatnya agak jauh dari rumah, tetap saja saya bersama-sama teman sepermainan menghadirinya. Karena masih kecil tentu saja tidak ada tujuan atau motif politis apa pun. Kampanye waktu itu bagi saya hanyalah sebuah tontonan menarik yang sungguh mengasyikkan. Tidak lebih dari itu.

Jika saya menganggapnya sebagai hiburan yang – seakan-akan – kurang berarti, tapi bagi mereka yang sudah dewasa kampanye tidak jauh berbeda dengan pengajian-pengajian keagamaan. Ini kasus di daerah saya yang notabene pilihan politik masyarakatnya “dikendalikan” oleh kiai (ulama). Karena itu, partai yang banyak digemari ialah partai yang berasas Islam. Jadi dalam tulisan ini saya lebih mengkhususkan kampanye yang digelar oleh partai-partai berbasis Islam.

Menarik memang ketika saya mengingat-ingat kembali masa-masa di mana saya ikut berpartisipasi dalam sebuah kampanye. Minimal menghadiri walaupun tidak mendengarkan. Saya tidak tahu apakah yang lain juga seperti saya: hadir tapi tak banyak mendengarkan.
Tetapi walaupun demikian, saya masih ingat bahwa ketika partai-partai yang berasas Islam itu menggelar kampanye, sebesar dan sesederhana apa pun, pasti masyarakat datang berduyun-duyun. Tanpa harus banyak dikomando. Tujuannya ganda: mendengarkan janji-janji politikus sekaligus mendengarkan fatwa-fatwa kiai. Yang terakhir inilah biasanya yang membuat masyarakat antusias dan ikhlas menghadiri kampanye.

***

Saya tidak tahu persis apakah saat ini masyarakat di daerah saya masih demikian. Memang, dalam menyongsong Pemilu 2009 ini saya tidak mengikuti secara langsung dinamika politik di daerah asal saya. Tetapi walaupun demikian, saya masih bertanya-tanya: apakah kampanye di sana masih saja dianggap penting sebanding dengan pengajian-pengajian keagamaan? Semoga saja tidak! Sebab ketika sudah dewasa, saya dan teman-teman sepermainan baru sadar bahwa kampanye itu hanyalah medium menebar janji…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar