Sudah bertahun-tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan begitu khidmat. Tanggal 20 Mei 1908 yang merupakan hari kelahiran organisasi Boedi Oetomo (BO) dianggap sebagai tonggak perjuangan Indonesia, sehingga kita memperingatinya sebagai Hari kebangkitan Nasional.
BO yang merupakan organisasi modern pertama di negeri ini telah diyakini sebagai penggagas atau penggerak perjuangan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap bangsa dan negara. Segala bentuk penghormatan dan penghargaan telah kita berikan demi dan hanya untuk mengenang momentum 20 Mei yang cukup bersejarah itu.
Sekilas Tentang BO
Kalau coba kita telusuri akar sejarahnya, berdirinya BO pada tanggal 20 Mei 1908, memang tidak terlepas dari keputusan yang diambil oleh para siswa Sekolah Pendidikan dokter Bumiputra (School ter Opleiding van Indische Artsen) pada tanggal 20 Mei di Weltevreden (sekarang Jakarta pusat).
Bisa dibilang perhimpunan ini begitu cepatnya memperoleh persetujuan serta pengikut di semua badan pendidikan menengah kaum Bumiputra seperti Sekolah Pertanian (Landbouwshool) di Buitenzorg (sekarang Bogor), Sekolah dokter Hewan (Veeartsenijschool) di tempat yang sama. Sekolah Kepala Negeri (Hoofdenschool) di Magelang dan Probolinggo, Sekolah Malam untuk Penduduk (Burgeravonschool) di Surabaya, Sekolah Pendidikan Guru Bumiputra di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo.
Adapun perintis organisasi yang menjadi tempat perkumpulan orang-orang Jawa ini, menurut sejarawan M.C. Ricklefs (1994), adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917). Ia adalah seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden (yang sesudah tahun 1900 dinamakan Stovia). Ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899. Pada tahun 1901 dia menjadi redaktur majalah Retnadomilah (Ratna yang berkilauan) yang dicetak dalam bahasa Jawa dan Melayu untuk pembaca kalangan priyayi dan mencerminkan perhatian priyayi terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan status mereka. Selain berpendidikan Barat, Wahidin adalah seorang pemain musik Jawa klasik (gamelan) dan wayang yang berbakat. Dia memandang bahwa kebudayaan Jawa dilandasi oleh ilham Hindu-Budha dan rupanya berpendapat bahwa sebagian penyebab kemerosotan masyarakat Jawa adalah kedatangan agama Islam dan berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Belanda.
Pada akhir tahun 1909 anggota BO mencapai sekitar 10.000 orang yang kebanyakan bermukim di Jawa dan Madura. Daya tarik BO langsung berkurang ketika Hadji Samanhoedi dan Raden Mas Tirtoadisoerjo mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1909. Tiga tahun kemudian SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI) yang mengalami masa keemasan ketika dipimpin H.O.S Tjokroaminoto. Tahun 1920 SI mengalami peningkatan cukup signifikan, yakni mempunyai anggota sekitar dua setengah juta orang.
Itulah sekilas tentang BO. Namun demikian, pantaskah BO dianggap sebagai tonggak perjuangan Indonesia, sehingga pada tanggal 20 Mei bangsa ini tidak lupa memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional?
Dusta Sejarah
Di sinilah pentingnya kita menggugat kembali fakta sejarah yang telah dimanipulasi sedemikian rupa itu. Peringatan Kebangkitan Nasional tidak pantas dijadikan sebagai medium untuk memperingati lahirnya BO. Sebab bagaimana pun dalam sejarahnya, pertemuan yang diadakan di Jawa Tengah oleh beberapa orang alumnus STOVIA (sekolah Kedokteran) asal Jawa Tengah dan Jawa Timur itu, hanya terbatas pada kalangan orang-orang Jawa saja, tanpa dihadiri oleh perwakilan dari Jawa Barat, apalagi perwakilan dari luar pulau Jawa seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan lain sebagainya.
Karena itu, gugatan tetap harus menjadi spirit generasi muda sekarang. Sejarah harus segera diluruskan agar berbagai kepentingan politis yang menguntungkan salah satu pihak tidak meruntuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa ini. Sebab disadari maupun tidak, sejarahlah yang mempengaruhi pola hidup manusia.
Pramoedya Ananta Toer (1985), memberikan penilaian bahwa BO yang sejak tahun 1935 melebur ke dalam Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PIB) tetap merupakan organisasi kesukuan (Jawa), sehingga kurang tepat bila kelahirannya dianggap sebagai kebangkitan nasional Indonesia. Sebab bagaimana pun, menurut Pramoedya, kebangkitan nasional Indonesia sudah dimulai dua tahun sebelumnya melalui kelahiran organisasi Sarekat Priyayi dengan tokoh utamanya R.M. Tirtoadisuryo.
Selain organisasi Sarekat Priyayi itu, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap perjuangan H.O.S Cokroaminoto dengan Sarekat Islamnya, misalnya, di mana pada tahun 1916 ia tampil sebagai pelopor untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme dan imprealisme Barat. Ini terjadi pada saat kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung, di mana H.O.S Cokroaminoto memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela dan membangun Nusantara. Tidak hanya itu, ia juga berperan penting dalam mendeklarasikan Pemerintahan sendiri untuk bangsa Indonesia dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk nusantara. Apa yang dilakukan oleh H.O.S Cokroaminoto jelas menggambarkan semangat kebangsaannya, Bukan kesukuannya.
Hal ini tentu berbeda dengan BO, di mana nuansa Jawanisme sangat kental di dalamnya. Dalam Buku Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia (1949: 12), A. K. Pringgodigdo mengatakan, bahwa walaupun BO merupakan perkumpulan buat seluruh Jawa dan oleh karena itu bermula mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perantaraan, tetapi sudut sosiaal cultureel BO hanya memuaskan untuk penduduk Jawa Tengah. Kenyataan ini memang tidak bisa terbantahkan. Walaupun dalam surat edaran tentang berdirinya BO dikatakan, bahwa organisasi ini bersifat umum dan tidak membeda-bedakan etnis, mazhab, atau pun kepercayaan.
Menurut Asvi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah (2007), BO pada dasarnya tetap merupakan suatu organisasi priyayi Jawa. Organisasi ini secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura. Karena itu, jawanisasi sangat tepat dilekatkan pada organisasi ini lantaran gerakannya yang sangat ekslusif, hanya terpusat pada wilayah Jawa. Bahkan banyak pengamat sejarah yang juga menilai bahwa BO cenderung elitis dan aristokratis.
Jadi, sangat tidak relevan kalau kita memperingati kelahirannya pada tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Karena menurut penilaian Robert van Neil (1960), BO hanya bersifat nasionalistis dalam pengertian yang amat terbatas – ia menjelmakan kemajuan suatu kelompok kebudayaan tertentu (Jawa) – dan pada tahap awalnya ia tidak berpretensi untuk membangun suatu bangsa.

1 komentar:
siapa yang berdusta kepada sejarah? selain pelaku2nya sendiri.
Posting Komentar