02 April 2008

Hakikat Rindu dan Tuhan yang Terus Membayang


Saya yakin setiap manusia menyimpan kerinduan yang amat sublim kepada Tuhannya. Entah itu dalam bentuk seperti apa dan bagaimana. Sejak lahir manusia sudah mengikat perjanjian primordial, yang tidak hanya mengakui akan eksistensi Tuhan, tetapi juga membenarkan ihwal kerinduan yang berpaut erat dengan-Nya.


Manusia yang terasing dalam beragam bentuknya, yang atheis sekalipun, sejatinya dalam hati mereka masih tersimpan kerinduan yang tak sepenuhnya
tersalurkan kepada Tuhan. Mereka yang “menempuh” jalur demikian tidak bisa kita katakan hatinya “sama sekali tak menemukan kehadiran Tuhan” atau bahkan “melecehkan kemahaagungan Tuhan” sebagaimana yang selalu didendangkan oleh para kaum formalis.


Mereka, dalam kondisi-kondisi tertentu, hatinya pasti juga mengharapkan pancaran kerinduan Ilahi.

Saya mengatakan demikian karena pada dasarnya kualitas ke-iman-an manusia itu fluktuatif. Sekarang stabil besoknya labil. Berbeda dengan para malaikat yang konsisten menyenandungkan puja dan puji. Itulah sebabnya pada suatu ketika saya menulis sebuah sajak:

Aku ingin memuntahkan
seribu penyesalan
dalam pikiranku terus membayang
hidup seakan kehilangan tujuan
seperti musafir tersesat di hutan belantara
Engkau nyaris kabur di mata

Tuhan, aku tidak paham
Inikah ketidaksadaran ataukah pengkhianatan!

Muntahan kata-kata di atas sepenuh-penuhnya berangkat dari situasi jiwa yang labil, inkonsisten, kering-kerontang, tapi masih ada setetes kerinduan yang tak terlukiskan. Saya tak bermaksud mengatakan kondisi ke-iman-an saya (akan) mencapai puncak, atau setidaknya menjamin posisi saya di hadapan Tuhan. Saya hanya yakin bahwa apa yang saya dan semua manusia jalani adalah bagian dari proses. Jadi, saya tidak sedang berfantasi!

Jakarta, 2 April 2008

1 komentar:

  1. Yus, kalo lihat fotomu sekarang, kamu lebih mirip Sujiwo Tegal. hehehe
    apakah kamu masih ingat aku kawan? kunjungi blog-ku

    BalasHapus