Spirit Soetomo
“...bila kita ingin menjadi suatu bangsa yang mulia dan luhur, menjadi bangsa yang terindah, bila kita ingin menjadi bangsa yang berkedudukan sama dengan bangsa yang sudah sederajat, seharusnyalah kita dengan gembira, ikhlas hati, dan bersuka cita, berani memikul beban yang maha berat...”
Adalah Dr. Soetomo yang lantun meneriakkan kata-kata di atas pada khotbah pembukaan Kongres Indonesia Raya pertama yang berlangsung pada tanggal 3 Januari 1932. Kita tahu, bahwa Soetomo tidak lain adalah sosok pejuang yang tidak pernah lelah mengingatkan betapa pentingnya kita merapatkan barisan, membangun solidaritas, dan mengobarkan api cinta terhadap Tanah Air. Soetomo yakin apabila bangsa Indonesia memiliki spirit yang demikian itu, jalan panjang menuju kehidupan yang bermartabat dapat digapai dengan gemilang.
Tetapi sebaliknya, bangsa yang memilih bungkam sebagai ekspresi kekerdilan nuraninya pasti di kemudian hari akan menuai konsekuensinya: ia akan tetap terpuruk dan dipandang sebelah mata. Hidupnya akan terus dirantai oleh kegelapan yang sejatinya mereka cipta sendiri. Kondisi semacam itulah yang tidak diinginkan oleh Soetomo. Bangsa yang masih dirundung kegelapan atau keterbelakangan adalah suatu realitas yang sangat memilukan dan secara tidak langsung membuka peluang bagi bangsa asing untuk menginjakkan kaki eksploitasinya di negeri ini.
Kita harus menyadari bahwa akibat dari kekerdilan kitalah ratusan tahun bahkan sampai saat ini kekejaman merajalela di negeri tercinta ini. Penjajah berhasil mengaduk-aduk kita, mengeksploitasi sesuai dengan kemauannya, mengebiri kebebasan, dan lain sebagainya. Solidaritas kita belum terbangun. Jangankan spirit perjuangan, dalam konteks pluralitas budaya saja kita terjebak pada konflik berkepanjangan. Apalagi nasionalisme. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari para pejuang yang berani mengobarkan semangat perlawanan dengan begitu gigih. Sedangkan yang lainnya, memilih bungkam dan pasrah dengan kondisi yang tengah berlangsung. Inilah kekerdilan yang sampai saat ini terwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga tidak heran apabila bangsa kita memilih diam ketika eksploitasi semakin mengakar.
Bangsa yang kerdil adalah simbol keterpurukan. Suatu bangsa yang kerdil dan menafikan solidaritas hanya menjadi budak para penguasa yang otoriter dan antikemanusiaan. Dalam konteks ini menarik apa yang dikatakan oleh Gladstone dalam Francesco Nitti (1848) tentang kondisi suram bangsa Itali: “Saya belum merasa senang, karena saya melihat suatu bangsa Itali hidup di dalam perhambaan, apalagi di dalam perhambaan yang sangat hina. Ketahuilah bahwa di dalam dunia ini tidak ada apa pun juga yang lebih tinggi nilainya daripada kemerdekaan; dan ingatlah, bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang indah dan mulia tanpa disertai dengan kemerdekaan”.
Ingat, kata kunci di atas adalah “kemerdekaan”. Tentu, “kemerdekaan” menjadi mutlak sifatnya. Bukan lantaran kita dijajah secara fisik oleh bangsa asing yang membuat kita tergugah untuk meneriakkan kata-kata “kemerdekaan” atau yang sepadan dengannya. Akan tetapi, sampai saat ini pun “kemerdekaan” adalah sesuatu yang belum final. Sebab penjajahan secara kognitif masih berlangsung dalam beragam bentuknya. Dan kita tidak sadar dengan hal itu. Biar pun kita hidup dalam kondisi sosio-ekonomi yang melimpah ruah karena memang kenyataan sumber daya alam membuktikan demikian, tetapi dalam waktu yang bersamaan kita hidup dalam suatu kondisi yang oleh Gladstone disebut dengan “perhambaan”, maka sejatinya kita tidak atau belum merdeka. “Lebih baik bangsa kita hidup di dalam kemiskinan dengan merdeka, daripada hidup di dalam kekayaan tetapi terkurung dalam perhambaan”, demikianlah kata Crispi – seorang ahli catur politik bangsa Itali yang sangat terkenal.
Dengan demikian, menjadi sebuah keniscayaan apabila kita bersama-sama membangun komitmen, mengejar ketertinggalan, meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa yang sudah lama tidak menyala. Kemerdekaan yang sifatnya hakiki masih dalam angan-angan. Kita dituntut untuk mewujudkankannya dalam kehidupan praksis. Agar cita-cita menjadi bangsa yang bermartabat bukan hanya mimpi di siang bolong belaka. Karena itu, kata Soetomo dalam pidatonya, marilah kita menunjukkan kecintaan kepada bangsa dan negara. Hanya dengan rasa cinta yang terperikan kita akan bergerak menuju suatu lorong panjang bernama “kemerdekaan”.
Itulah sebabnya kenapa kemudian Kongres Indonesia Raya diselenggarakan. Tujuannya tidak lain adalah merapatkan barisan sebagai suatu bangsa yang memiliki cita-cita tinggi, yakni “kemerdekaan” dalam maknanya yang luas. Kongres Indonesia Raya adalah merupakan bentuk manifestasi dari kecintaan tersebut, di mana kita harus berjerih-payah menjadi suatu bangsa yang besar dan disegani. Kongres Indonesia Raya yang pertama, sebagaimana dijelaskan dengan panjang lebar oleh Soetomo, adalah bersifat merombak-rombak dan mengajak memberantas keadaan-keadaan dan rintangan-rintangan yang menghalang-halangi perjalanan kita, meskipun korban, kepahitan, dan kegetiran hidup menjadi tanggungan kita. Selama hal itu menjadi komitmen bersama, maka kegetiran atau pun kepahitan hidup akan berubah menjadi sesuatu yang indah dan sangat menyenangkan.
Dalam sejarah bangsa-bangsa yang memiliki peradaban tinggi, kepahitan adalah suatu jalan yang harus ditempuh. Sebab mereka tahu, bahwa kerikil tajam yang terbentang luas di hadapannya tidak lain adalah suatu fase di mana semangat untuk menerobosnya harus selalu dipancangkan. Bangsa yang demikian itulah yang dilukiskan oleh Sirojini Naidu dalam salah satu syairnya: “Siapa yang dapat merantai suatu bangsa, apabila semangatnya tidak mau dirantai? Siapakah yang dapat membinasakan suatu bangsa, kalau semangatnya tidak mau lenyap?”.
Soetomo dalam pidatonya tidak lupa mengajak untuk bersama-sama berkaca kepada spirit yang ditunjukkan oleh bangsa-bangsa yang memiliki obor perjuangan yang sangat tinggi, tidak mudah dipecah belah, pendirian yang teguh, tidak kerdil, dan tidak pantang menyerah melawan segala bentuk rintangan; seperti bangsa Romawi, Perancis, Jerman, Itali dan lain sebagainya. Di Romawi, misalnya, di mana pada waktu itu umumnya orang-orang menyembah berhala, kecuali sebagian kecil dari rakyat; yaitu mereka yang miskin dan hina pula, dan kaum budak belian yang sudah beragama Kristen, agama yang menyuruh pemeluknya bercita kasih kepada seluruh umat, terutama kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, kepapaan dan kenistaan.
Oleh karena tabi’at yang mulia dan luhur, lebih-lebih karena hanya menyembah Tuhan saja, maka mereka itu dibenci oleh sesama bangsanya, khususnya pula oleh pemerintah negerinya. Rintangan-rintangan dan kesusahan-kesusahan yang diderita oleh kaum agama Kristen pada waktu itu tidak ada bandingannya. Akan tetapi meskipun hanya kepahitan hidup yang ada di dalamnya, mereka tidak mau mengubah tabi’atnya yang suci itu sedikit pun.
Meskipun mereka dikejar seperti anjing, dicincang seperti penjahat yang berdosa, meskipun mereka dibakar hidup-hidup, atau dilemparkan kebinatang buas untuk menjadi makanannya, mereka tidak nampak kesusahan atau kesulitan sedikit pun. Mereka menjalani hukumannya dengan gembira dan suka hati: mereka mengorbankan jiwa dan raganya dengan ridha, dengan setulus hati, mereka tetap mempertahankan dan mengagungkan kepercayaan dan cita-cita kalbunya.
Itulah peristiwa yang terjadi di Romawi pada abad ke-3. Pendirian mereka yang teguh dalam menghadapi kenyataan hidup yang pahit tidak menyebabkan mereka mengubah pendirian. Soetomo mengajak bangsa Indonesia dalam kondisi apa pun bercermin kepada spirit mereka. Khususnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab bangsa yang teguh pendiriannya tidak akan mudah diobrak abrik oleh siapa pun yang mempunyai kepentingan untuk mengeksploitasi tanah airnya. Mereka akan bersama-sama mengepalkan tangan sebagai tanda perlawanan.
Dalam mewujudkan semua ini, lagi-lagi kita dituntut untuk memiliki perasaan kebangsaan yang cukup dalam. Karena itu, dibukanya Kongres Indonesia Raya adalah untuk menumbuhkan perasaan kebangsaan itu sendiri. Dengan perasaan inilah kita tidak lagi memerdulikan seberapa banyak air mata darah tumpah dan bahkan nyawa pun menjadi pertaruhan demi dan untuk kepentingan nusa dan bangsa yang kita cintai ini. Dalam hal ini kita bisa belajar pada semangat Garilbaldi, pahlawan Itali yang sangat dicintai oleh rakyatnya karena agresifitasnya dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah asing yang mencoba memecah belah rakyat. Atau semangat rakyat Jerman ketika bersama-sama melawan pahlawan Napoleon I yang dianggap memperkosa hak-haknya. Mereka bergerak melakukan perlawanan bukan karena pretensi apa pun yang bersifat politis. Tetapi karena mereka memiliki jiwa kebangsaan.
Kalau semangat yang demikian itu kita internalisasikan menjadi suatu prinsip dalam perjuangan hidup kita, maka cita-cita menuju kemerdekaan yang hakiki tidak lagi menjadi mimpi di siang bolong. Sebab solidaritas sudah sedemikian kokoh dan nasionalisme menjadi ruh perjuangan. Dan kita patut berbangga dengan kenyataan itu. Tetapi selama komitmen kebangsaan semakin surut, maka bersiap-siaplah dijajah untuk yang kesekian kalinya.

1 komentar:
ah, mestinya kau baca notulensi BPUPKI. seru nulis soetomo dg bahan2 itu.
Posting Komentar