[Catatan Jelang Semifinal Liga Champions 2012/2013, Bayern Munchen vs Barcelona]
Sore itu pikiranku melamun cukup jauh. Aku seperti terseret ke sebuah kota kecil bernama Nyon di Swiss. Aku memang tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Tapi tiba-tiba jantungku berdegup agak kencang. Ya, di hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal 12 April 2013 itu, seolah-olah aku berada di tengah-tengah acara Drawing Semifinal Liga Champions Eropa 2012/2013.
Aku seperti menyaksikan langsung wajah Gianni Infatino, sekretaris jenderal UEFA, yang memimpin acara mendebarkan itu.
Aku sengaja tidak duduk satu meja dengan kawan-kawanku. Sore itu Blandongan begitu riuh. Aku duduk sendiri di bagian paling belakang. Dekat mushallah.
“Mas, silakan diminum kopinya,” sapa seorang pelayan cantik yang datang membawakan segelas kopi pesananku.
“Terima kasih, Mbak,” jawabku.
Nyaris satu jam aku duduk dan melamun cukup panjang.
Kopi masih tersisa. Kunyalakan lagi sebatang rokok. Tiba-tiba bb-ku berdering. Ada broadcast bbm masuk: “Hasil Undian Semifina Liga Champions Eropa 2013: Bayern Muenchen vs Barcelona dan Borussia Dortmund vs Real Madrid.”
Mataku menatap tajam. Berkali-kali kupandangi hasil drawing itu. Barangkali karena aku terlalu memikirkannya. Sungguh sangat penasaran. Ya, penasaran sekali siapa lawan Barcelona di semifinal. Kemudian, perlahan-lahan jantungku tak lagi berdegup kencang. Normal seperti biasanya. Aku tersenyum. Ada semacam kegembiraan dan optimisme yang kurasakan. “Undian yang kereeeen....Mantappp!,” jeritku dalam hati.
***
Bayern Munchen vs Barcelona. Itulah yang melintas-lintas dalam pikiranku di sore jelang senja itu. Bagi para penonton sepak bola di dunia, laga itu tentu sangat menarik. Bayern Munchen adalah klub raksasa Jerman yang sanga kuat. Musim lalu, tim asuhan Jupp Heynckes itu menaklukkan Real Madrid di semifinal Liga Champions. Sedangkan Barcelona, yang musim lalu difavoritkan melenggang ke final, saat itu kandas secara mengejutkan di tangan Chelsea.
Pertemuan Bayern Munchen vs Barcelona di musim ini tentu saja sangat menarik. Ini semifinal akbar. Aku tidak boleh melewatkan begitu saja laga ini. Sebagai tim pujaan, tentu aku mendoakan Barcelona menang dan lolos ke final.
Tapi di sore itu, pikiranku tiba-tiba terseret lagi ke sebuah kota yang cukup jauh. Aku seperti berada di kota Barcelona, mencari di mana gerangan Ramon Cugat berada. Ya, aku ingin menanyakan kabar Leo Messi kepada Ramon Cugat yang menjadi anggota tim medis Barcelona itu. Aku penasaran dengan kondisi Leo Messi. Saat laga perempat final lawan PSG, Leo didera cidera hamstring. Ia hanya bermain tidak lebih dari 45 menit di leg I dan sekitar 30 menit di leg II. Aku ingin menanyakan kepastian apakah Leo bisa diturunkan atau tidak saat lawan Bayern Munchen.
Aku benar-benar cemas. Sore itu pikiranku terseret jauh ke dua kota. Aku hanya ingin tahu dengan pasti seberapa parah cidera Leo. Doa pun meluncur, “Semoga kau cepat sembuh, Leo!”
Adzan magrib menggema. Aku belum beranjak dari Blandongan. Sisa kopi masih cukup untuk meneruskan satu dua batang rokok. Pikiranku masih dihantui cidera Leo. Di atas meja, bb-ku berdering lagi. Ada bbm dari seorang kawan. “Lagi di mana, Bung?” Tak kubalas pesan itu. Kubiarkan saja.
Berkali-kali kubuka situs bola di internet, tapi kabar tentang cidera Leo tidak jelas. Situs resmi Barca pun hanya memberikan keterangan bahwa La Pulga kemungkinan bisa diturunkan di semifinal. Aku cemas karena saat lawan PSG di Camp Nou, Leo bermain dalam kondisi yang tidak fit. Ketika masuk menggantikan Fabregas, Leo terlihat masih menahan rasa sakit.
“Semoga kau cepat sembuh, Leo,” doaku meluncur lagi dalam hati.
***
“Hei, sialan! Ternyata kau di sini.” Seorang kawan bernama Parno berteriak memanggilku. Ia mendatangiku dan duduk persis di depanku.
“Sudah dari tadi. Sejak habis pukul 3 aku di sini,” jawabku.
“Aku bbm tadi kok tidak dibalas?”
“Sibuk. Hahaha..”
Kawanku yang satu ini adalah Madridista. Tapi aku berteman baik dengannya. Bahkan sangat akrab. Nyaris setiap hari dia selalu bermain ke kosku. Aku pun juga begitu.
Sambil mengeluarkan rokok khasnya bermerek Bintang Buana, Parno rupanya tidak sabar membicarakan hasil undian semifinal Liga Champions. Dia bilang kalau Madrid lebih beruntung dibanding Barca. Meskipun di babak penyisihan Dortmund mempermalukan Madrid, tapi dia yakin di semifinal timnya akan menang dan lolos.
Seperti kebiasaannya yang selalu menyindir, Parno kali ini bertanya dengan sedikit bercanda bagaimana pandanganku sebagai fans Barca tentang laga seru Bayern Munchen vs Barcelona. Saya jawab dengan agak serius bahwa laga ini satu sisi adalah sebuah pertemuan antara dua tim yang memiliki karakter dan filosofi permainan yang berbeda.
Sedangkan di sisi lain, laga ini menurutku adalah pembuktian “khusus” seorang Lionel Messi sebagai pemain terbaik dunia kepada Gerd Muller, mantan bintang Bayern Munchen era 70-an. Muller telah memberikan segala-galanya kepada klubnya itu, termasuk juara tiga kali Piala Champions.
Di mata Leo, Muller adalah salah satu striker oportunis yang banyak mencetak gol (total 365 gol disumbangkan untuk Bayern). Bahkan, Muller pernah mencetak 85 gol dalam satu musim (bersama klub dan timnas). Rekor 85 gol itu adalah yang terbanyak sepanjang sejarah dan tidak pernah dilampaui oleh pemain mana pun. Rekor gol Muller ini bertahan sampai 40 tahun. Tapi pada bulan Desember 2012 yang silam, Leo mematahkan rekor sensasional itu dengan mencetak 91 gol dalam semusim (bersama klub dan timnas).
Leo sangat bangga dengan pencapaian itu. Tapi ia tetap menaruh hormat setinggi langit kepada Muller yang disebutnya sebagai salah satu pemain yang menjadi inspirasinya. Sebagai bentuk penghormatan dan kekagumannya, Leo mengirimkan sebuah jersey Barcelona lengkap dengan nama Messi dan nomor punggung 10 miliknya kepada legenda Jerman itu. Pada jersey tersebut, Leo menulis pesan, “Untuk Gerd Muller, yang saya hormati dan kagumi, peluk dari saya.”
Muller yang dipuja-puja oleh fans Die Roten itu terharu. Ia seperti tak bisa berkata-kata ketika Leo mengirimkan jersey untuknya. “Saya sangat senang dan bangga bisa menerima jersey ini dari pemain terbaik di dunia,” ujar Muller.
Muller mengakui bahwa Leo adalah yang terbaik saat ini. Ia benar-benar kagum. Bahkan dari saking kagumnya Muller berencana akan memajang jersey Leo Messi itu di Museum Bayern. Sebentuk penghormatan dari seorang legenda kepada pemain bintang yang telah mematahkan rekornya.
Leo sendiri mengirimkan jersey miliknya pada awal tahun 2013, jauh sebelum undian semifinal Liga Champions digelar di Nyon, Swiss. Kini, Muller akan menyaksikan kehebatan Leo saat mantan klubnya jumpa Barcelona.
Andai Leo benar-benar membobol gawang Manuel Neuer, akankah Muller membatalkan niatnya untuk memajang jersey Leo Messi di Museum Bayern?
***
Parno terlihat masih semangat. Rokoknya tinggal sebatang. Perbincangan tentang laga hidup-mati ini harus kuselesaikan. Jam menunjukkan pukul 18.25. Aku harus bergegas ke belakang, mengambil wudlu, shalat maghrib, dan – tentu saja – mendoakan agar Leo sembuh.
Jogja, 19 April 2013
This is awesome!
BalasHapus