“Seseorang belum
dikatakan sukses jika tidak pernah menyukseskan orang lain”. Kira-kira
begitulah petuah bijak almarhum Zainal Arifin Thoha yang paling saya ingat
hingga saat ini. Sejak mengabdi di pesantren itu selama dua tahun lebih – dari
tahun 2005 sampai 2007 – saya tidak hanya dicekoki pengetahuan-pengetahuan
ihwal kepenulisan. Tetapi juga ajaran-ajaran kebijaksanaan ihwal pengorbanan
dan saling tolong menolong di antara sesama manusia nyaris menjadi santapan
santri setiap hari.
Gus Zainal memang
sosok yang selalu menekankan keseimbangan aspek kognitif dan spiritualitas
santri-santrinya agar mampu menjadi pribadi yang sanggup berinteraksi dengan
kehidupan masyarakat.
Gus Zainal
mendirikan pesantren Hasyim Asy’ari atau yang lebih populer dengan sebutan
Kutub semata untuk merealisasikan pesan Rasulullah: “Khairunnas anfa’uhum
linnas”. Bagi Gus Zainal, dalam konteks kepenulisan, santri yang produktif saja
tidak cukup karena masih berada pada level “khairunnas”. Karena itu, untuk
sampai pada “anfa’uhum linnas”, minimal santri harus mampu membimbing proses
kreatif teman-teman lainnya serta mampu menafkahi kebutuhan hidup sebagian di
antara mereka meski hanya sebatas “segelas kopi” dan “sebatang rokok”. Intinya,
Gus Zainal menginginkan santri-santrinya sudah sejak dini memikirkan kebutuhan
orang lain.
Sejak saya dan
teman-teman angkatan 2005 ditunjuk oleh Gus Zainal untuk membimbing proses
kreatif santri-santri baru, pertama-tama yang mesti dia tekankan adalah
kepedulian dan cinta kasih sayang. Ajaran inilah yang membuat Kutub berbeda
dengan pesantren-pesantren konvensional lainnya. Sehingga tidak heran banyak di
antara mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta yang tertarik melakukan penelitian
terkait dengan dinamika proses kreatif santri yang sungguh sangat unik itu.
Saya tidak tahu
apakah saat ini masih ada yang tertarik melakukan penelitian di Kutub. Pasalnya,
setelah Gus Zainal dipanggil Yang Maha Kuasa pada 14 Maret 2007, saya tidak
lagi tinggal di sana. Saya memilih tinggal di sebuah kost dekat kampus UIN
(jarak Kutub ke UIN sekitar 5 Km). Saya banyak berhutang budi terutama kepada
keluarga besar Gus Zainal (Ibu Maya Very Oktavia dan putera-puterinya) yang
masih setia melanjutkan lembaga itu meski Sang Gus telah tiada.
Keluarga besar Gus
Zainal masih menganggap saya sebagai keluarganya sendiri. Meski saya sadar
bahwa apa yang saya dedikasikan buat pesantren Kutub hanyalah setitik debu jika
dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan keluarga Gus Zainal yang tak pernah
henti-henti memotivasi saya. Sebelum meninggal, Gus Zainal berpesan: “Salah
satu jalan yang paling gampang menuju Tuhan ialah dengan cara membantu orang
lain”.
Sudah dua tahun
saya tidak tinggal bersama keluarga Gus Zainal. Tetapi silaturrahmi di antara
kami tidak pernah putus. Jarak ternyata tidak membatasi kedekatan emosional
yang sudah lama terbangun antara saya dengan keluarga Gus Zainal. Demikian juga
dengan santri-santri Gus Zainal yang saat ini masih setia mengabdi di sana,
saya sering berjumpa dan sesekali bertukar pikiran.
Ketika saya masih
berada di Kutub, jumlah santri yang aktif mengikuti kajian kurang lebih 20
orang dan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Sisanya
nomaden, kadang muncul kadang tidak. Tetapi Gus Zainal tak terlalu
mempersoalkan mereka. Bukan karena Gus Zainal tidak peduli, tapi dia mengerti
kondisi psikologis santri-santrinya. Mungkin mereka masih dalam tahap
“pencarian” sehingga Gus Zainal terkesan “membiarkan” walaupun tentu saja
seribu doa dia panjatkan tiap malam.
Kini santri-santri
Kutub hanya sberjumlah 13 orang. Hanya ada beberapa orang saja di antara
mereka yang pernah dibimbing langsung Gus Zainal. Bahkan santri angkatan
pertama masih ada yang mengabdi di sana. Selebihnya, mereka adalah santri-santri
baru yang belum pernah merasakan lembutnya tutur kata dan sikap Gus Zainal.
Meski telah tiada,
saya merasa Gus Zainal masih bersama santri-santrinya. Semoga pesantren yang
dia dirikan menjadi amal kemanusiaan yang bermanfaat hingga generasi-generasi
berikutnya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar