18 Juli 2012

Sesobek Kenangan


“Seseorang belum dikatakan sukses jika tidak pernah menyukseskan orang lain”. Kira-kira begitulah petuah bijak almarhum Zainal Arifin Thoha yang paling saya ingat hingga saat ini. Sejak mengabdi di pesantren itu selama dua tahun lebih – dari tahun 2005 sampai 2007 – saya tidak hanya dicekoki pengetahuan-pengetahuan ihwal kepenulisan. Tetapi juga ajaran-ajaran kebijaksanaan ihwal pengorbanan dan saling tolong menolong di antara sesama manusia nyaris menjadi santapan santri setiap hari.
Gus Zainal memang sosok yang selalu menekankan keseimbangan aspek kognitif dan spiritualitas santri-santrinya agar mampu menjadi pribadi yang sanggup berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.
Gus Zainal mendirikan pesantren Hasyim Asy’ari atau yang lebih populer dengan sebutan Kutub semata untuk merealisasikan pesan Rasulullah: “Khairunnas anfa’uhum linnas”. Bagi Gus Zainal, dalam konteks kepenulisan, santri yang produktif saja tidak cukup karena masih berada pada level “khairunnas”. Karena itu, untuk sampai pada “anfa’uhum linnas”, minimal santri harus mampu membimbing proses kreatif teman-teman lainnya serta mampu menafkahi kebutuhan hidup sebagian di antara mereka meski hanya sebatas “segelas kopi” dan “sebatang rokok”. Intinya, Gus Zainal menginginkan santri-santrinya sudah sejak dini memikirkan kebutuhan orang lain.  
Sejak saya dan teman-teman angkatan 2005 ditunjuk oleh Gus Zainal untuk membimbing proses kreatif santri-santri baru, pertama-tama yang mesti dia tekankan adalah kepedulian dan cinta kasih sayang. Ajaran inilah yang membuat Kutub berbeda dengan pesantren-pesantren konvensional lainnya. Sehingga tidak heran banyak di antara mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta yang tertarik melakukan penelitian terkait dengan dinamika proses kreatif santri yang sungguh sangat unik itu.    
Saya tidak tahu apakah saat ini masih ada yang tertarik melakukan penelitian di Kutub. Pasalnya, setelah Gus Zainal dipanggil Yang Maha Kuasa pada 14 Maret 2007, saya tidak lagi tinggal di sana. Saya memilih tinggal di sebuah kost dekat kampus UIN (jarak Kutub ke UIN sekitar 5 Km). Saya banyak berhutang budi terutama kepada keluarga besar Gus Zainal (Ibu Maya Very Oktavia dan putera-puterinya) yang masih setia melanjutkan lembaga itu meski Sang Gus telah tiada.
Keluarga besar Gus Zainal masih menganggap saya sebagai keluarganya sendiri. Meski saya sadar bahwa apa yang saya dedikasikan buat pesantren Kutub hanyalah setitik debu jika dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan keluarga Gus Zainal yang tak pernah henti-henti memotivasi saya. Sebelum meninggal, Gus Zainal berpesan: “Salah satu jalan yang paling gampang menuju Tuhan ialah dengan cara membantu orang lain”.
Sudah dua tahun saya tidak tinggal bersama keluarga Gus Zainal. Tetapi silaturrahmi di antara kami tidak pernah putus. Jarak ternyata tidak membatasi kedekatan emosional yang sudah lama terbangun antara saya dengan keluarga Gus Zainal. Demikian juga dengan santri-santri Gus Zainal yang saat ini masih setia mengabdi di sana, saya sering berjumpa dan sesekali bertukar pikiran.
Ketika saya masih berada di Kutub, jumlah santri yang aktif mengikuti kajian kurang lebih 20 orang dan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Sisanya nomaden, kadang muncul kadang tidak. Tetapi Gus Zainal tak terlalu mempersoalkan mereka. Bukan karena Gus Zainal tidak peduli, tapi dia mengerti kondisi psikologis santri-santrinya. Mungkin mereka masih dalam tahap “pencarian” sehingga Gus Zainal terkesan “membiarkan” walaupun tentu saja seribu doa dia panjatkan tiap malam.
Kini santri-santri Kutub hanya sberjumlah 13 orang. Hanya ada beberapa orang saja di antara mereka yang pernah dibimbing langsung Gus Zainal. Bahkan santri angkatan pertama masih ada yang mengabdi di sana. Selebihnya, mereka adalah santri-santri baru yang belum pernah merasakan lembutnya tutur kata dan sikap Gus Zainal.
            Meski telah tiada, saya merasa Gus Zainal masih bersama santri-santrinya. Semoga pesantren yang dia dirikan menjadi amal kemanusiaan yang bermanfaat hingga generasi-generasi berikutnya. Amin.

          


Tidak ada komentar:

Posting Komentar