Aktivitas apa pun yang digemari seseorang mesti dimulai dari rasa “tertarik” atau “senang”. Termasuk dalam konteks ini adalah menulis. Seseorang senang menulis karena adanya “ke-tertarik-an” yang begitu kuat, semacam keinginan untuk meluapkan kegundahan batin yang tak tertanggungkan.
Dari rasa “senang” inilah kemudian muncul keinginan yang lebih kuat lagi, yakni upaya untuk menjaga dan meningkatkan konsistensi. Konsistensi menuntut kita sabar, tekun dan percaya diri. Konsistensi menuntut kualitas, bukan kuantitas dari tulisan yang telah dihasilkan. Seseorang bisa dikatakan konsisten jika ia mampu memosisikan minat baca-tulisnya pada level yang tak tergantikan. Ia akan terus menulis dan menulis tanpa memedulikan apakah sejarah akan mengenangnya atau justru menelannya; tidak peduli apakah publik mengakui dirinya penulis atau bukan.
Ketika membuat tulisan ini, aku sadar bahwa aku bukanlah tipe seorang penulis yang (kebetulan) dilahirkan di lingkungan keluarga “pencinta buku”. Dulu aku hanyalah seorang pengagum tokoh-tokoh legendaris dunia yang banyak kudengar dari orang-orang. Tak lebih. Sejak kecil aku (hanya) punya hasrat yang kuat untuk membaca dan membaca ketika melihat kawan-kawan sekolahku dulu membawa buku di kelas. Walaupun hasrat itu selalu tak kesampaian karena di samping bahan bacaan di rumahku sangat sedikit, lingkungan di sekolah juga sangat tidak mendukung. Mungkin peristiwa ini penting aku kisahkan sedikit dalam catatan ini. Agar kita sama-sama sadar bahwa untuk menjadi penulis memang dibutuhkan rangsangan-rangsangan yang menggugah, bukan diberi “kiat menjadi penulis” yang sangat instan dan terlalu praktis (sekarang memang banyak buku-buku yang “mengobral” metode atau langkah-langkah menjadi penulis yang kering inspirasi) .
“Senang”. Ya, semua penulis awalnya begitu. Mereka senang merekam dan mengolah peristiwa-peristiwa atau apa pun yang mengitari dirinya. Tentu mereka tidak sekedar ingin tahu tapi juga berusaha menguak nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. Inilah yang menginspirasi sejumlah penulis legendaris dunia. Sebelum Orhan Pamuk menulis novel My Name is Red, jelas ia gelisah dan hatinya selalu diselimuti kegundahan yang tak bertepi ihwal hubungan Barat-Timur yang semakin runcing itu. Pramoedya Ananta Toer pada mulanya juga gelisah dan akhirnya tertarik untuk menulis sejumlah novel sejarah yang membabat habis praktik kolonialisme dan keculasan pemerintah pada masanya. Semua penulis awalnya “senang”.
Semenjak duduk di bangku SMP tahun 1999, hubunganku dengan buku memang tidak seakrab antara aku dengan TV. Walaupun dulu aku juga suka membawa buku-buku bacaan ke sekolah. Tapi jujur, waktu itu motif “gagah-gahan” lebih dominan dibanding adanya hasrat untuk mendalami dan menghayati isi-isinya. Aku masih ingat dengan buku Siasat Kiai Pinggiran yang membahas tentang pergolakan-pergolakan sosial-politik pada pemilu 1999. Buku itu hanya menjadi “penghias” tas dan hanya sekali-kali kubaca. Sehingga untuk memahaminya agak susah dan membutuhkan waktu yang relatif lama.
Beberapa tahun kemudian, ketika aku melanjutkan studi di SMA pesantren, aku baru merasa puas. Tidak hanya karena bahan bacaan cukup memadai, tetapi terlebih lingkungan yang begitu kondusif sangat merangsang saraf-saraf imajinasiku.
Di pesantren yang dihuni oleh ribuan santri dengan beragam kultur dan karakter itu, aku seakan menemukan dunia baru. Aku betul-betul merasa nyaman dengan perpustakaan yang koleksi buku-bukunya banyak memberikan inspirasi. Di situ aku mulai menikmati ajaran-ajaran kebijaksanaan Jalaluddin Rahmat lewat Islam Aktual-nya; merenungi dengan seksama gagasan-gagasan progresif Cak Nur yang tertuang dalam karya masterpiece-nya: Islam, Doktrin dan Peradaban; meraba-raba ide-ide “nakal” Gus Dur yang tercecer di kumpulan kolom-kolomnya, seperti Tuhan Tidak Perlu Dibela; dan sejumlah buku-buku yang tak mungkin aku sebutkan satu persatu. Lingkungan seperti itu membuat aku semakin tertantang. Walaupun, tentu saja, tak semua koleksi buku-buku di perpustakaan itu kubaca dan kupahami seluruhnya.
Pada masa-masa inilah kesenanganku pada buku-buku bacaan sedikit demi sedikit mulai meningkat. Setiap kali membaca, aku coba memberikan semacam tafsiran dalam bentuk tulisan. Berkali-kali aku melatih diri seperti itu. Tujuannya, selain agar mudah memahami juga melatih daya-kreativitas menulis. Sebab waktu itu aku sudah meyakini dengan sungguh kata-kata Pram bahwa yang tidak menulis akan dilindas sejarah.
Alhasil, perasaanku mulai terlatih dalam merespons realitas yang berjubelan. Tahun 2005 adalah awal petualanganku ke luar kota. Aku berlabuh di kota Jogjakarta setelah sebelumnya sempat mengadu nasib beberapa bulan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sayang di kota apel ini aku tak kerasan di samping aku tidak lulus tes ujian (dasar nasib!). Potensi kreativitas menulisku juga tak tersalurkan. Mungkin Tuhan tak menjodohkan. Entahlah!
Di Jogja, aku betul-betul merasa tertantang. Pertama kali datang ke kota pelajar ini, aku bertandang ke kediaman almarhum Zainal Arifin Thoha atau yang lebih akrab dipanggil Gus Zainal, penulis buku best seller NU, Pesantren dan Kekuasaan: Pencarian Tak Kunjung Usai. Atas kebaikan beliau aku dizinkan tinggal di paguyubannya yang beliau beri nama: Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta.
Lembaga ini mengedepankan spirit kesederhanaan dan kemandirian sebagaimana termaktub dalam jargonnya: “Spiritualitas, Rasionalitas dan Profesionalitas”. Semua penghuninya adalah penulis-penulis muda hasil binaan Gus Zainal. Tak heran, nyaris tiap hari buah karya murid-murid binaan Gus Zainal ini menghiasi media massa lokal dan nasional. Di tempat ini aku terasa menemukan momentum yang sangat pas. Ya, Gus Zainal sendiri yang mengajariku bagaimana menulis yang baik, yang mampu memberikan sentuhan-sentuhan kearifan dan inspirasi pada pembacanya. Gus Zainal juga sering memotivasiku agar mampu meningkatkan produktifitas dalam menulis. Bahkan yang sampai saat ini masih kuingat, beliau menekankan kepada murid-murid binaannya agar tidak hanya berguru secara “teks” kepada penulis-penulis legendaris dunia, tetapi juga berguru secara “spiritual”.
Motivasi Gus Zainal sangat berorientasi masa depan. Beliau adalah guru yang bijak. Aku pantas menahbiskan beliau sebagai “guru legendaris”. Dalam kamus hidupku, posisi beliau berderet di posisi terdepan bersama penulis-penulis legendaris dunia lainnya. Atas motivasi dan ketelatenan beliau, dibawanya aku menyelami pemikiran-pemikiran penulis legendaris macam al-Ghazali, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Attar, Ibn Rusyd, Mohammad Iqbal, Plato, Aristoteles, Karl Marx, Mahatma Gandhi, hingga penulis-penulis kenamaan nusantara seperti Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Sjahrir, Chairil Anwar, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Emha Ainun Nadjib yang Slilit Sang Kiai-nya membuat aku “termenung” sekaligus “tertawa”.
Aku berguru dan mencintai Gus Zainal sebagaimana aku juga berguru dan mencintai tokoh-tokoh legendaris dunia itu.
Satu hal lagi yang penting kucatat, awal-awal tinggal di paguyuban yang kini masih eksis itu, aku diajak Gus Zainal silaturrahmi ke sejumlah penulis yang tak lain adalah sahabat-sahabat beliau. Joni Ariadinata, Evi Idawati, Kuswaidi Syafi'ie, Arief Fauzi Marzuki, Edi A.H. Iyubenu, adalah penulis-penulis muda yang diperkenalkan Gus Zainal kepadaku – sebelumnya mereka hanya kukenal namanya di media massa. Tentu ini sebuah pengalaman yang sangat berharga. Terlebih waktu itu aku masih “debutan”, baru tinggal sekitar 3 bulan.
Sekitar dua tahun lebih aku belajar di kediaman Gus Zainal yang wafat pada tanggal 14 Maret 2007 di usianya yang masih relatif muda, 35 tahun. Tidak hanya wawasan kepenulisan yang kudapatkan di lembaga itu, tetapi juga spirit kemandirian dan kepercayaan-diri yang tinggi untuk semakin bertarung di medan kepenulisan.
Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang tak bisa dipisahkan. Inilah komitmen yang kupegang dengan erat sampai saat ini. Walaupun tak lagi tinggal di lembaga milik Gus Zainal itu, tapi aku masih merasa tinggal bersamanya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar